UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pentingnya Kajian Islam di Dunia Melayu

[uinsgd.ac.id] Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung (PPs UIN SGD) bekerjasama dengan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (APIUM) Malaysia menggelar Konferensi Internasional Islam di Dunia Melayu bertajuk “Jaringan Islam Di Dunia Melayu: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan” di Hotel Puri Khatulistiwa Bandung pada tanggal 20-22 November 2011Menurut Dadang Kahmad, Direktur Pascasarjana menjelaskan realitas Islam di dunia Melayu (Nusantara) adalah islam yang memiliki keunikan tersendiri, karena itu dapat disebut memiliki wajah tersendiri. Di samping itu, masuknya Islam di dunia melayu berlangsung dengan cara damai, hampir tanpa ekspansi dari pasukan Daulah Islamiyah seperti Umayah, Abasiyah di Timur Tengah atau Mughal India. “Sebuah fenomena sejarah tersebut menghadirkan corak Islam yang khas, yang berbeda dari pusat ajaran Islam di Timur Tengah” paranya dalam sambutanya Minggu (20/11) malamCorak Islam dunia Melayu yang khas ini kadang dianggap sebagai “penyimpangan” dari bentuk aslinya atau kerap dianggap sebagai “Islam Pinggiran”. Pemahaman ini disertai konotasi serba kurang dalam hal ketaatan, misalnya kurang taat ajaran karena lebih didominasi oleh kebudayaan lokal masing-masing, kurang menunjukkan ekspansi budaya keseharian sebagaimana dikembangkan di pusat ajaran, misalnya ketaatan terhadap aturan berpakaian dan kurang dapat merealisasikan ajaran islam dalam bentuk peradaban, misalnya dalam bentuk negara sebagaimana dalam peradaban Islam Timur Tengah.“Kekhasan wajah Islam Melayu ini sayangnya selama beberapa dekade terabaikan, selalu dianggap sebagai catatan kaki dari Islam Timur Tengah. Atas dasar itulah, Konferensi Internasional ini digelar oleh umat Islam di dunia Melayu yang tersebar di pelbagai negara Asia Tenggara (Indonesia, Malayasia, Singapura, Thailand, Filiphina, Kamboja, Vientam) dan yang terpengaruh oleh Islam dunia Melayu seperti Srilangka, Afrika Selatan” ujarnyaMengingat pentingnya kajian Islam di Dunia Melayu ini diharapkan”Dengan adanya gagasan Konferensi ini menjadi benih yang akan menumbuhkan gairah studi akademik yang menjadikan fenomena Islam di duia Melayu sebagai kawasan baru penelitian ilmiah” tegasnyaSekitar 150 Guru Besar, Doktor dan Candidat Doktor dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Filipina, Timor Leste, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam ikut menyumbangkan gagasa Islam di dunia Melayu melalui makalah yang dipresentasikan dan setiap abstraksi yang masuk ke panitian dibukukan dengan judul Islam di Dunia Melayu: Dulu, Kini dan Masa Depan” yang dieditori oleh “M Anton Athoillah, Munir dan Bambang Qomaruzzaman” ungkap Rudi HeryanaBagi Ruzman bin Md. Noor, Pengarah APIUM menuturkan kehadiran Seminar dan buku ini merupakan hasil daripada kerjasama Perjanjian Persefahaman (MoU) di antara Universiti Malaya dan UIN SGD Bandung. “Dalam buku ini, para penulis yang terdiri daripada pelbagai latarbelakang keilmuan telah berjaya mewujudkan situasi kontemporari Islam di Dunia Melayu, khususnya Malaysia dan Indonesia” ujarnyaPenerbitan buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah jaringan pintar di antara para sarjana di Indonesia dan Malaysia. “Setakat ini, keupayaan untuk melihat konsep dan penerapan Islam dalam konteks semasa telah banyak dilakukan oleh para sarjana berkenaan. Dengan demikian, buku ini akan memberi suatu warna baru mengenai keadaan sesama. Secara khususnya, para pensyarah dari Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaysia yang telah berusaha secara padu untuk memeparkan bagaimana bentuk pengajian Islam yang mereka terapkan dan kesannya terhadap pemikiran Islam di Malaysia”“Seminar ini tentu sahaja memeberikan harapan yang amat  maksima, manakala isu-isu berkenaan juga ditulis oleh para penyelidik sama ada dari Indonesia mahupun luar Indonesia. Oleh itu, saya merasakan buku ini dapat dijadikan sebagai satu rujukan semasa dan boleh diperbaharui mengikuti perkembangan zaman” harapnyaUpaya menata peradaban dan membangun masa depan Islam Melayu bagi Nanat Fatah Natsir menjelaskan peradaban Melayu yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara merupakan salah satu bukti adanya kesamaan budaya antara bangsa yang dapat menjadi penopang bagi kemajuan Islam di Melayu. “Hal ini dapat dilihat dari jumlah mayoritas muslim di Indonesia, Malaysia dan Brunei serta kesamaan fisik dan bahasa antara sebagian masyarakat Thailand, Singapura dan Philiphina” katanyaUntuk mememperkuat basis peradaban tersebut supaya tidak tergilas oleh perputara roda sejarah, amak sudah saatnya kita kembali menggali basis tradisi kearifan dari warisan sejarah peradaban yang ada. “Aura positif dari masing-masing peradaban harus direkontruksi ulang untuk menuju kejayaan peradaban Isma Melayu di masa yang akan datang” optimisSalah satu sumber optimisme kalangan pengamat luar tentang “kebingkitan Islam” di Asia Tenggara pada umumnya didasarkan pada Ppengamatan mereka tentang watak atau karakteristik Islam di kasawan lain, khususnya di Timur Tengah. Karakteristik terpenting Islam di Asia Tenggara misalnya mempunyai watak yang lebih damai, ramah, damn toleran” tambahnyaSemangat menuju kebangkitan Islam ini sejlan dengan pandangan Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa masyarakat dan negara yang kuat adalah “Masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara; Pertama, Adanya slidasitas kebangsaan (ashabiyyah) yang kokoh. Kedua, Kuantitas dan kuaalitas sumberdaya manusianya. Ketiga, Kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras” jelasnyaDari cara pandang Ibnu Khaldun inilah “Saya meyakini banhwa kebangkitan peradaban Islam di dunia Melayu merupakan perkara yang dapat diwujudkan sebab sejauh ini sudah dimiliki oleh sebagian negara-negara di kawasan Melayu. Persoalanya, mungkinkah peradaban Islam Melatyu berintegrasi menuju sebuah keputusan politik layaknya benua Eropa yang bersatu? Seminar ini saya harapkan bisa memberikan jawabannya” tuturnyaKonferensi Internasional tentang Islam di Alam Melayu melahirkan kesimpulan dan rekomendasi yang dibacakan secara langsung oleh M Anton Athoillah, Asisten Direktur I Pascasarjana yang didampingi Rudi Heryana pada penutupan Konferensi, Seni (21/11) malamAnton menjelaskan dari makalah-makalah yang telah dipaparkan dalam sejumlah sesi yang dilengkapi dengan introductory remarks dan plenary sessions, dapat disimpulkan sebagai berikut; Pertama, Kajian Islam di Alam Melayu terbukti telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik oleh para sarjana Melayu sendiri maupun sarjana asing. Ini sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu, di mana Islam di kawasan ini hanya dipandang sebagai pinggiran.Kedua, Isalm yang berkembang di Alam Melayu merupakan perkembangan yang sah dan sahih dari seluruh perkembangan Islam di belahan lain. Karena itu, tuduhan bahwa Islam di Alam Melayu sinkretis, tidak murni dan menimpang dari masinstream Islam di kawasan lain semakin tidak memperoleh tempat dalam kajian Islam di kawasan ini.Ketiga, Islam di Alam Melayu telah mengekspresikan diri secara unik, sesuai dengan watak dan karakteristiknya sendiri. Ini terlihat dengan nyata baik dalam bidang arsitektur, hukum, pemikiran, dan lai sebagainya. Atas dasar itu, Islam di Alam Melayu tidak bisa didekati secara sama dengan pendekatan yang dilakukan di kawasan lain.Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, Konferensi ini merekomendasikan hal-hal sebagai berikut; Pertama, Sesuai dengan tema besar Konferensi ini, makalah-makalah dan pembahasan yang dsampaikan masih terlalu banyak memfokuskan pada Islam di Malaysia dan Indonesia, dan kurang memberikan ruang bagi pembahasan Islam Melayu di beberapa wilayah lain, seperti Brunei darussalam, Thailand, Filipina, Singapore dan sebagainya. Hal itu agar bisa memenuhi makna Melayu yang sesungguhnya.Kedua, Keragaman kajian Islam di atas harus disistematisasi kembali, sehingga kajian-kajian islam semakin memiliki fokus dan perhatian secara spesifik. Dengan begitu diharapkan agenda kajian Islam di Alam Melayu di masa depan semakin mendalam dan terfokus.Ketiga, Sejauh ini, kajian Islam di Alam Melayu hanya menjadi bidang kajian sekunder bagi pusat-pusat kajian Islam, seperti yang ditunjukkan oleh Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapore dan lain-lain. Karenanya, Konferensi merekomendasikan dibentuknya sebuah pusat kajian Islam di Alam Melayu secara khusus, sehingga perkembangan Islam di kawasan ini semakin memperoleh perhatian luas dan bisa diakses oleh para pembaca yang lebih luas. Dengan adanya lembaga ini, seminar-seminar, workshop, penelitian dan pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya dapat terselenggaranya secara semakin terencana.Sebagai penutup acara Konferensi Islam di Dunia Melayu diisi dengan Wisata ke Gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, Bandung, Indonesia; dan belanja ke Pasar Baru Bandung yang dipandu oleh Budiman Eko Wibowo, Selasa (22/11) pagi “Tour Wisat pada akhir Konferensi dilakukan ke Gedung Merdeka sebagai gedung yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955 dan belanja ke Pasar Baru untuk oleh-oleh khas Bandung” cetusnyaSalah satu peserta berkomentar “Saya merasa bahagian bisa berkunjung ke Gedung Merdeka dan belanja di Pasar Baru” pungkasnya [Ibn Ghifarie]

[uinsgd.ac.id] Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung (PPs UIN SGD) bekerjasama dengan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (APIUM) Malaysia menggelar Konferensi Internasional Islam di Dunia Melayu bertajuk “Jaringan Islam Di Dunia Melayu: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan” di Hotel Puri Khatulistiwa Bandung pada tanggal 20-22 November 2011Menurut Dadang Kahmad, Direktur Pascasarjana menjelaskan realitas Islam di dunia Melayu (Nusantara) adalah islam yang memiliki keunikan tersendiri, karena itu dapat disebut memiliki wajah tersendiri. Di samping itu, masuknya Islam di dunia melayu berlangsung dengan cara damai, hampir tanpa ekspansi dari pasukan Daulah Islamiyah seperti Umayah, Abasiyah di Timur Tengah atau Mughal India. “Sebuah fenomena sejarah tersebut menghadirkan corak Islam yang khas, yang berbeda dari pusat ajaran Islam di Timur Tengah” paranya dalam sambutanya Minggu (20/11) malamCorak Islam dunia Melayu yang khas ini kadang dianggap sebagai “penyimpangan” dari bentuk aslinya atau kerap dianggap sebagai “Islam Pinggiran”. Pemahaman ini disertai konotasi serba kurang dalam hal ketaatan, misalnya kurang taat ajaran karena lebih didominasi oleh kebudayaan lokal masing-masing, kurang menunjukkan ekspansi budaya keseharian sebagaimana dikembangkan di pusat ajaran, misalnya ketaatan terhadap aturan berpakaian dan kurang dapat merealisasikan ajaran islam dalam bentuk peradaban, misalnya dalam bentuk negara sebagaimana dalam peradaban Islam Timur Tengah.“Kekhasan wajah Islam Melayu ini sayangnya selama beberapa dekade terabaikan, selalu dianggap sebagai catatan kaki dari Islam Timur Tengah. Atas dasar itulah, Konferensi Internasional ini digelar oleh umat Islam di dunia Melayu yang tersebar di pelbagai negara Asia Tenggara (Indonesia, Malayasia, Singapura, Thailand, Filiphina, Kamboja, Vientam) dan yang terpengaruh oleh Islam dunia Melayu seperti Srilangka, Afrika Selatan” ujarnyaMengingat pentingnya kajian Islam di Dunia Melayu ini diharapkan”Dengan adanya gagasan Konferensi ini menjadi benih yang akan menumbuhkan gairah studi akademik yang menjadikan fenomena Islam di duia Melayu sebagai kawasan baru penelitian ilmiah” tegasnyaSekitar 150 Guru Besar, Doktor dan Candidat Doktor dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Filipina, Timor Leste, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam ikut menyumbangkan gagasa Islam di dunia Melayu melalui makalah yang dipresentasikan dan setiap abstraksi yang masuk ke panitian dibukukan dengan judul Islam di Dunia Melayu: Dulu, Kini dan Masa Depan” yang dieditori oleh “M Anton Athoillah, Munir dan Bambang Qomaruzzaman” ungkap Rudi HeryanaBagi Ruzman bin Md. Noor, Pengarah APIUM menuturkan kehadiran Seminar dan buku ini merupakan hasil daripada kerjasama Perjanjian Persefahaman (MoU) di antara Universiti Malaya dan UIN SGD Bandung. “Dalam buku ini, para penulis yang terdiri daripada pelbagai latarbelakang keilmuan telah berjaya mewujudkan situasi kontemporari Islam di Dunia Melayu, khususnya Malaysia dan Indonesia” ujarnyaPenerbitan buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah jaringan pintar di antara para sarjana di Indonesia dan Malaysia. “Setakat ini, keupayaan untuk melihat konsep dan penerapan Islam dalam konteks semasa telah banyak dilakukan oleh para sarjana berkenaan. Dengan demikian, buku ini akan memberi suatu warna baru mengenai keadaan sesama. Secara khususnya, para pensyarah dari Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaysia yang telah berusaha secara padu untuk memeparkan bagaimana bentuk pengajian Islam yang mereka terapkan dan kesannya terhadap pemikiran Islam di Malaysia”“Seminar ini tentu sahaja memeberikan harapan yang amat  maksima, manakala isu-isu berkenaan juga ditulis oleh para penyelidik sama ada dari Indonesia mahupun luar Indonesia. Oleh itu, saya merasakan buku ini dapat dijadikan sebagai satu rujukan semasa dan boleh diperbaharui mengikuti perkembangan zaman” harapnyaUpaya menata peradaban dan membangun masa depan Islam Melayu bagi Nanat Fatah Natsir menjelaskan peradaban Melayu yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara merupakan salah satu bukti adanya kesamaan budaya antara bangsa yang dapat menjadi penopang bagi kemajuan Islam di Melayu. “Hal ini dapat dilihat dari jumlah mayoritas muslim di Indonesia, Malaysia dan Brunei serta kesamaan fisik dan bahasa antara sebagian masyarakat Thailand, Singapura dan Philiphina” katanyaUntuk mememperkuat basis peradaban tersebut supaya tidak tergilas oleh perputara roda sejarah, amak sudah saatnya kita kembali menggali basis tradisi kearifan dari warisan sejarah peradaban yang ada. “Aura positif dari masing-masing peradaban harus direkontruksi ulang untuk menuju kejayaan peradaban Isma Melayu di masa yang akan datang” optimisSalah satu sumber optimisme kalangan pengamat luar tentang “kebingkitan Islam” di Asia Tenggara pada umumnya didasarkan pada Ppengamatan mereka tentang watak atau karakteristik Islam di kasawan lain, khususnya di Timur Tengah. Karakteristik terpenting Islam di Asia Tenggara misalnya mempunyai watak yang lebih damai, ramah, damn toleran” tambahnyaSemangat menuju kebangkitan Islam ini sejlan dengan pandangan Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa masyarakat dan negara yang kuat adalah “Masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara; Pertama, Adanya slidasitas kebangsaan (ashabiyyah) yang kokoh. Kedua, Kuantitas dan kuaalitas sumberdaya manusianya. Ketiga, Kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras” jelasnyaDari cara pandang Ibnu Khaldun inilah “Saya meyakini banhwa kebangkitan peradaban Islam di dunia Melayu merupakan perkara yang dapat diwujudkan sebab sejauh ini sudah dimiliki oleh sebagian negara-negara di kawasan Melayu. Persoalanya, mungkinkah peradaban Islam Melatyu berintegrasi menuju sebuah keputusan politik layaknya benua Eropa yang bersatu? Seminar ini saya harapkan bisa memberikan jawabannya” tuturnyaKonferensi Internasional tentang Islam di Alam Melayu melahirkan kesimpulan dan rekomendasi yang dibacakan secara langsung oleh M Anton Athoillah, Asisten Direktur I Pascasarjana yang didampingi Rudi Heryana pada penutupan Konferensi, Seni (21/11) malamAnton menjelaskan dari makalah-makalah yang telah dipaparkan dalam sejumlah sesi yang dilengkapi dengan introductory remarks dan plenary sessions, dapat disimpulkan sebagai berikut; Pertama, Kajian Islam di Alam Melayu terbukti telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik oleh para sarjana Melayu sendiri maupun sarjana asing. Ini sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu, di mana Islam di kawasan ini hanya dipandang sebagai pinggiran.Kedua, Isalm yang berkembang di Alam Melayu merupakan perkembangan yang sah dan sahih dari seluruh perkembangan Islam di belahan lain. Karena itu, tuduhan bahwa Islam di Alam Melayu sinkretis, tidak murni dan menimpang dari masinstream Islam di kawasan lain semakin tidak memperoleh tempat dalam kajian Islam di kawasan ini.Ketiga, Islam di Alam Melayu telah mengekspresikan diri secara unik, sesuai dengan watak dan karakteristiknya sendiri. Ini terlihat dengan nyata baik dalam bidang arsitektur, hukum, pemikiran, dan lai sebagainya. Atas dasar itu, Islam di Alam Melayu tidak bisa didekati secara sama dengan pendekatan yang dilakukan di kawasan lain.Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, Konferensi ini merekomendasikan hal-hal sebagai berikut; Pertama, Sesuai dengan tema besar Konferensi ini, makalah-makalah dan pembahasan yang dsampaikan masih terlalu banyak memfokuskan pada Islam di Malaysia dan Indonesia, dan kurang memberikan ruang bagi pembahasan Islam Melayu di beberapa wilayah lain, seperti Brunei darussalam, Thailand, Filipina, Singapore dan sebagainya. Hal itu agar bisa memenuhi makna Melayu yang sesungguhnya.Kedua, Keragaman kajian Islam di atas harus disistematisasi kembali, sehingga kajian-kajian islam semakin memiliki fokus dan perhatian secara spesifik. Dengan begitu diharapkan agenda kajian Islam di Alam Melayu di masa depan semakin mendalam dan terfokus.Ketiga, Sejauh ini, kajian Islam di Alam Melayu hanya menjadi bidang kajian sekunder bagi pusat-pusat kajian Islam, seperti yang ditunjukkan oleh Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapore dan lain-lain. Karenanya, Konferensi merekomendasikan dibentuknya sebuah pusat kajian Islam di Alam Melayu secara khusus, sehingga perkembangan Islam di kawasan ini semakin memperoleh perhatian luas dan bisa diakses oleh para pembaca yang lebih luas. Dengan adanya lembaga ini, seminar-seminar, workshop, penelitian dan pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya dapat terselenggaranya secara semakin terencana.Sebagai penutup acara Konferensi Islam di Dunia Melayu diisi dengan Wisata ke Gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, Bandung, Indonesia; dan belanja ke Pasar Baru Bandung yang dipandu oleh Budiman Eko Wibowo, Selasa (22/11) pagi “Tour Wisat pada akhir Konferensi dilakukan ke Gedung Merdeka sebagai gedung yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955 dan belanja ke Pasar Baru untuk oleh-oleh khas Bandung” cetusnyaSalah satu peserta berkomentar “Saya merasa bahagian bisa berkunjung ke Gedung Merdeka dan belanja di Pasar Baru” pungkasnya [Ibn Ghifarie]

[uinsgd.ac.id] Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung (PPs UIN SGD) bekerjasama dengan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (APIUM) Malaysia menggelar Konferensi Internasional Islam di Dunia Melayu bertajuk “Jaringan Islam Di Dunia Melayu: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan” di Hotel Puri Khatulistiwa Bandung pada tanggal 20-22 November 2011Menurut Dadang Kahmad, Direktur Pascasarjana menjelaskan realitas Islam di dunia Melayu (Nusantara) adalah islam yang memiliki keunikan tersendiri, karena itu dapat disebut memiliki wajah tersendiri. Di samping itu, masuknya Islam di dunia melayu berlangsung dengan cara damai, hampir tanpa ekspansi dari pasukan Daulah Islamiyah seperti Umayah, Abasiyah di Timur Tengah atau Mughal India. “Sebuah fenomena sejarah tersebut menghadirkan corak Islam yang khas, yang berbeda dari pusat ajaran Islam di Timur Tengah” paranya dalam sambutanya Minggu (20/11) malamCorak Islam dunia Melayu yang khas ini kadang dianggap sebagai “penyimpangan” dari bentuk aslinya atau kerap dianggap sebagai “Islam Pinggiran”. Pemahaman ini disertai konotasi serba kurang dalam hal ketaatan, misalnya kurang taat ajaran karena lebih didominasi oleh kebudayaan lokal masing-masing, kurang menunjukkan ekspansi budaya keseharian sebagaimana dikembangkan di pusat ajaran, misalnya ketaatan terhadap aturan berpakaian dan kurang dapat merealisasikan ajaran islam dalam bentuk peradaban, misalnya dalam bentuk negara sebagaimana dalam peradaban Islam Timur Tengah.“Kekhasan wajah Islam Melayu ini sayangnya selama beberapa dekade terabaikan, selalu dianggap sebagai catatan kaki dari Islam Timur Tengah. Atas dasar itulah, Konferensi Internasional ini digelar oleh umat Islam di dunia Melayu yang tersebar di pelbagai negara Asia Tenggara (Indonesia, Malayasia, Singapura, Thailand, Filiphina, Kamboja, Vientam) dan yang terpengaruh oleh Islam dunia Melayu seperti Srilangka, Afrika Selatan” ujarnyaMengingat pentingnya kajian Islam di Dunia Melayu ini diharapkan”Dengan adanya gagasan Konferensi ini menjadi benih yang akan menumbuhkan gairah studi akademik yang menjadikan fenomena Islam di duia Melayu sebagai kawasan baru penelitian ilmiah” tegasnyaSekitar 150 Guru Besar, Doktor dan Candidat Doktor dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Filipina, Timor Leste, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam ikut menyumbangkan gagasa Islam di dunia Melayu melalui makalah yang dipresentasikan dan setiap abstraksi yang masuk ke panitian dibukukan dengan judul Islam di Dunia Melayu: Dulu, Kini dan Masa Depan” yang dieditori oleh “M Anton Athoillah, Munir dan Bambang Qomaruzzaman” ungkap Rudi HeryanaBagi Ruzman bin Md. Noor, Pengarah APIUM menuturkan kehadiran Seminar dan buku ini merupakan hasil daripada kerjasama Perjanjian Persefahaman (MoU) di antara Universiti Malaya dan UIN SGD Bandung. “Dalam buku ini, para penulis yang terdiri daripada pelbagai latarbelakang keilmuan telah berjaya mewujudkan situasi kontemporari Islam di Dunia Melayu, khususnya Malaysia dan Indonesia” ujarnyaPenerbitan buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah jaringan pintar di antara para sarjana di Indonesia dan Malaysia. “Setakat ini, keupayaan untuk melihat konsep dan penerapan Islam dalam konteks semasa telah banyak dilakukan oleh para sarjana berkenaan. Dengan demikian, buku ini akan memberi suatu warna baru mengenai keadaan sesama. Secara khususnya, para pensyarah dari Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaysia yang telah berusaha secara padu untuk memeparkan bagaimana bentuk pengajian Islam yang mereka terapkan dan kesannya terhadap pemikiran Islam di Malaysia”“Seminar ini tentu sahaja memeberikan harapan yang amat  maksima, manakala isu-isu berkenaan juga ditulis oleh para penyelidik sama ada dari Indonesia mahupun luar Indonesia. Oleh itu, saya merasakan buku ini dapat dijadikan sebagai satu rujukan semasa dan boleh diperbaharui mengikuti perkembangan zaman” harapnyaUpaya menata peradaban dan membangun masa depan Islam Melayu bagi Nanat Fatah Natsir menjelaskan peradaban Melayu yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara merupakan salah satu bukti adanya kesamaan budaya antara bangsa yang dapat menjadi penopang bagi kemajuan Islam di Melayu. “Hal ini dapat dilihat dari jumlah mayoritas muslim di Indonesia, Malaysia dan Brunei serta kesamaan fisik dan bahasa antara sebagian masyarakat Thailand, Singapura dan Philiphina” katanyaUntuk mememperkuat basis peradaban tersebut supaya tidak tergilas oleh perputara roda sejarah, amak sudah saatnya kita kembali menggali basis tradisi kearifan dari warisan sejarah peradaban yang ada. “Aura positif dari masing-masing peradaban harus direkontruksi ulang untuk menuju kejayaan peradaban Isma Melayu di masa yang akan datang” optimisSalah satu sumber optimisme kalangan pengamat luar tentang “kebingkitan Islam” di Asia Tenggara pada umumnya didasarkan pada Ppengamatan mereka tentang watak atau karakteristik Islam di kasawan lain, khususnya di Timur Tengah. Karakteristik terpenting Islam di Asia Tenggara misalnya mempunyai watak yang lebih damai, ramah, damn toleran” tambahnyaSemangat menuju kebangkitan Islam ini sejlan dengan pandangan Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa masyarakat dan negara yang kuat adalah “Masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara; Pertama, Adanya slidasitas kebangsaan (ashabiyyah) yang kokoh. Kedua, Kuantitas dan kuaalitas sumberdaya manusianya. Ketiga, Kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras” jelasnyaDari cara pandang Ibnu Khaldun inilah “Saya meyakini banhwa kebangkitan peradaban Islam di dunia Melayu merupakan perkara yang dapat diwujudkan sebab sejauh ini sudah dimiliki oleh sebagian negara-negara di kawasan Melayu. Persoalanya, mungkinkah peradaban Islam Melatyu berintegrasi menuju sebuah keputusan politik layaknya benua Eropa yang bersatu? Seminar ini saya harapkan bisa memberikan jawabannya” tuturnyaKonferensi Internasional tentang Islam di Alam Melayu melahirkan kesimpulan dan rekomendasi yang dibacakan secara langsung oleh M Anton Athoillah, Asisten Direktur I Pascasarjana yang didampingi Rudi Heryana pada penutupan Konferensi, Seni (21/11) malamAnton menjelaskan dari makalah-makalah yang telah dipaparkan dalam sejumlah sesi yang dilengkapi dengan introductory remarks dan plenary sessions, dapat disimpulkan sebagai berikut; Pertama, Kajian Islam di Alam Melayu terbukti telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik oleh para sarjana Melayu sendiri maupun sarjana asing. Ini sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu, di mana Islam di kawasan ini hanya dipandang sebagai pinggiran.Kedua, Isalm yang berkembang di Alam Melayu merupakan perkembangan yang sah dan sahih dari seluruh perkembangan Islam di belahan lain. Karena itu, tuduhan bahwa Islam di Alam Melayu sinkretis, tidak murni dan menimpang dari masinstream Islam di kawasan lain semakin tidak memperoleh tempat dalam kajian Islam di kawasan ini.Ketiga, Islam di Alam Melayu telah mengekspresikan diri secara unik, sesuai dengan watak dan karakteristiknya sendiri. Ini terlihat dengan nyata baik dalam bidang arsitektur, hukum, pemikiran, dan lai sebagainya. Atas dasar itu, Islam di Alam Melayu tidak bisa didekati secara sama dengan pendekatan yang dilakukan di kawasan lain.Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, Konferensi ini merekomendasikan hal-hal sebagai berikut; Pertama, Sesuai dengan tema besar Konferensi ini, makalah-makalah dan pembahasan yang dsampaikan masih terlalu banyak memfokuskan pada Islam di Malaysia dan Indonesia, dan kurang memberikan ruang bagi pembahasan Islam Melayu di beberapa wilayah lain, seperti Brunei darussalam, Thailand, Filipina, Singapore dan sebagainya. Hal itu agar bisa memenuhi makna Melayu yang sesungguhnya.Kedua, Keragaman kajian Islam di atas harus disistematisasi kembali, sehingga kajian-kajian islam semakin memiliki fokus dan perhatian secara spesifik. Dengan begitu diharapkan agenda kajian Islam di Alam Melayu di masa depan semakin mendalam dan terfokus.Ketiga, Sejauh ini, kajian Islam di Alam Melayu hanya menjadi bidang kajian sekunder bagi pusat-pusat kajian Islam, seperti yang ditunjukkan oleh Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapore dan lain-lain. Karenanya, Konferensi merekomendasikan dibentuknya sebuah pusat kajian Islam di Alam Melayu secara khusus, sehingga perkembangan Islam di kawasan ini semakin memperoleh perhatian luas dan bisa diakses oleh para pembaca yang lebih luas. Dengan adanya lembaga ini, seminar-seminar, workshop, penelitian dan pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya dapat terselenggaranya secara semakin terencana.Sebagai penutup acara Konferensi Islam di Dunia Melayu diisi dengan Wisata ke Gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, Bandung, Indonesia; dan belanja ke Pasar Baru Bandung yang dipandu oleh Budiman Eko Wibowo, Selasa (22/11) pagi “Tour Wisat pada akhir Konferensi dilakukan ke Gedung Merdeka sebagai gedung yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955 dan belanja ke Pasar Baru untuk oleh-oleh khas Bandung” cetusnyaSalah satu peserta berkomentar “Saya merasa bahagian bisa berkunjung ke Gedung Merdeka dan belanja di Pasar Baru” pungkasnya [Ibn Ghifarie]

[uinsgd.ac.id] Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung (PPs UIN SGD) bekerjasama dengan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (APIUM) Malaysia menggelar Konferensi Internasional Islam di Dunia Melayu bertajuk “Jaringan Islam Di Dunia Melayu: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan” di Hotel Puri Khatulistiwa Bandung pada tanggal 20-22 November 2011Menurut Dadang Kahmad, Direktur Pascasarjana menjelaskan realitas Islam di dunia Melayu (Nusantara) adalah islam yang memiliki keunikan tersendiri, karena itu dapat disebut memiliki wajah tersendiri. Di samping itu, masuknya Islam di dunia melayu berlangsung dengan cara damai, hampir tanpa ekspansi dari pasukan Daulah Islamiyah seperti Umayah, Abasiyah di Timur Tengah atau Mughal India. “Sebuah fenomena sejarah tersebut menghadirkan corak Islam yang khas, yang berbeda dari pusat ajaran Islam di Timur Tengah” paranya dalam sambutanya Minggu (20/11) malamCorak Islam dunia Melayu yang khas ini kadang dianggap sebagai “penyimpangan” dari bentuk aslinya atau kerap dianggap sebagai “Islam Pinggiran”. Pemahaman ini disertai konotasi serba kurang dalam hal ketaatan, misalnya kurang taat ajaran karena lebih didominasi oleh kebudayaan lokal masing-masing, kurang menunjukkan ekspansi budaya keseharian sebagaimana dikembangkan di pusat ajaran, misalnya ketaatan terhadap aturan berpakaian dan kurang dapat merealisasikan ajaran islam dalam bentuk peradaban, misalnya dalam bentuk negara sebagaimana dalam peradaban Islam Timur Tengah.“Kekhasan wajah Islam Melayu ini sayangnya selama beberapa dekade terabaikan, selalu dianggap sebagai catatan kaki dari Islam Timur Tengah. Atas dasar itulah, Konferensi Internasional ini digelar oleh umat Islam di dunia Melayu yang tersebar di pelbagai negara Asia Tenggara (Indonesia, Malayasia, Singapura, Thailand, Filiphina, Kamboja, Vientam) dan yang terpengaruh oleh Islam dunia Melayu seperti Srilangka, Afrika Selatan” ujarnyaMengingat pentingnya kajian Islam di Dunia Melayu ini diharapkan”Dengan adanya gagasan Konferensi ini menjadi benih yang akan menumbuhkan gairah studi akademik yang menjadikan fenomena Islam di duia Melayu sebagai kawasan baru penelitian ilmiah” tegasnyaSekitar 150 Guru Besar, Doktor dan Candidat Doktor dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Filipina, Timor Leste, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam ikut menyumbangkan gagasa Islam di dunia Melayu melalui makalah yang dipresentasikan dan setiap abstraksi yang masuk ke panitian dibukukan dengan judul Islam di Dunia Melayu: Dulu, Kini dan Masa Depan” yang dieditori oleh “M Anton Athoillah, Munir dan Bambang Qomaruzzaman” ungkap Rudi HeryanaBagi Ruzman bin Md. Noor, Pengarah APIUM menuturkan kehadiran Seminar dan buku ini merupakan hasil daripada kerjasama Perjanjian Persefahaman (MoU) di antara Universiti Malaya dan UIN SGD Bandung. “Dalam buku ini, para penulis yang terdiri daripada pelbagai latarbelakang keilmuan telah berjaya mewujudkan situasi kontemporari Islam di Dunia Melayu, khususnya Malaysia dan Indonesia” ujarnyaPenerbitan buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah jaringan pintar di antara para sarjana di Indonesia dan Malaysia. “Setakat ini, keupayaan untuk melihat konsep dan penerapan Islam dalam konteks semasa telah banyak dilakukan oleh para sarjana berkenaan. Dengan demikian, buku ini akan memberi suatu warna baru mengenai keadaan sesama. Secara khususnya, para pensyarah dari Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaysia yang telah berusaha secara padu untuk memeparkan bagaimana bentuk pengajian Islam yang mereka terapkan dan kesannya terhadap pemikiran Islam di Malaysia”“Seminar ini tentu sahaja memeberikan harapan yang amat  maksima, manakala isu-isu berkenaan juga ditulis oleh para penyelidik sama ada dari Indonesia mahupun luar Indonesia. Oleh itu, saya merasakan buku ini dapat dijadikan sebagai satu rujukan semasa dan boleh diperbaharui mengikuti perkembangan zaman” harapnyaUpaya menata peradaban dan membangun masa depan Islam Melayu bagi Nanat Fatah Natsir menjelaskan peradaban Melayu yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara merupakan salah satu bukti adanya kesamaan budaya antara bangsa yang dapat menjadi penopang bagi kemajuan Islam di Melayu. “Hal ini dapat dilihat dari jumlah mayoritas muslim di Indonesia, Malaysia dan Brunei serta kesamaan fisik dan bahasa antara sebagian masyarakat Thailand, Singapura dan Philiphina” katanyaUntuk mememperkuat basis peradaban tersebut supaya tidak tergilas oleh perputara roda sejarah, amak sudah saatnya kita kembali menggali basis tradisi kearifan dari warisan sejarah peradaban yang ada. “Aura positif dari masing-masing peradaban harus direkontruksi ulang untuk menuju kejayaan peradaban Isma Melayu di masa yang akan datang” optimisSalah satu sumber optimisme kalangan pengamat luar tentang “kebingkitan Islam” di Asia Tenggara pada umumnya didasarkan pada Ppengamatan mereka tentang watak atau karakteristik Islam di kasawan lain, khususnya di Timur Tengah. Karakteristik terpenting Islam di Asia Tenggara misalnya mempunyai watak yang lebih damai, ramah, damn toleran” tambahnyaSemangat menuju kebangkitan Islam ini sejlan dengan pandangan Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa masyarakat dan negara yang kuat adalah “Masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara; Pertama, Adanya slidasitas kebangsaan (ashabiyyah) yang kokoh. Kedua, Kuantitas dan kuaalitas sumberdaya manusianya. Ketiga, Kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras” jelasnyaDari cara pandang Ibnu Khaldun inilah “Saya meyakini banhwa kebangkitan peradaban Islam di dunia Melayu merupakan perkara yang dapat diwujudkan sebab sejauh ini sudah dimiliki oleh sebagian negara-negara di kawasan Melayu. Persoalanya, mungkinkah peradaban Islam Melatyu berintegrasi menuju sebuah keputusan politik layaknya benua Eropa yang bersatu? Seminar ini saya harapkan bisa memberikan jawabannya” tuturnyaKonferensi Internasional tentang Islam di Alam Melayu melahirkan kesimpulan dan rekomendasi yang dibacakan secara langsung oleh M Anton Athoillah, Asisten Direktur I Pascasarjana yang didampingi Rudi Heryana pada penutupan Konferensi, Seni (21/11) malamAnton menjelaskan dari makalah-makalah yang telah dipaparkan dalam sejumlah sesi yang dilengkapi dengan introductory remarks dan plenary sessions, dapat disimpulkan sebagai berikut; Pertama, Kajian Islam di Alam Melayu terbukti telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik oleh para sarjana Melayu sendiri maupun sarjana asing. Ini sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu, di mana Islam di kawasan ini hanya dipandang sebagai pinggiran.Kedua, Isalm yang berkembang di Alam Melayu merupakan perkembangan yang sah dan sahih dari seluruh perkembangan Islam di belahan lain. Karena itu, tuduhan bahwa Islam di Alam Melayu sinkretis, tidak murni dan menimpang dari masinstream Islam di kawasan lain semakin tidak memperoleh tempat dalam kajian Islam di kawasan ini.Ketiga, Islam di Alam Melayu telah mengekspresikan diri secara unik, sesuai dengan watak dan karakteristiknya sendiri. Ini terlihat dengan nyata baik dalam bidang arsitektur, hukum, pemikiran, dan lai sebagainya. Atas dasar itu, Islam di Alam Melayu tidak bisa didekati secara sama dengan pendekatan yang dilakukan di kawasan lain.Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, Konferensi ini merekomendasikan hal-hal sebagai berikut; Pertama, Sesuai dengan tema besar Konferensi ini, makalah-makalah dan pembahasan yang dsampaikan masih terlalu banyak memfokuskan pada Islam di Malaysia dan Indonesia, dan kurang memberikan ruang bagi pembahasan Islam Melayu di beberapa wilayah lain, seperti Brunei darussalam, Thailand, Filipina, Singapore dan sebagainya. Hal itu agar bisa memenuhi makna Melayu yang sesungguhnya.Kedua, Keragaman kajian Islam di atas harus disistematisasi kembali, sehingga kajian-kajian islam semakin memiliki fokus dan perhatian secara spesifik. Dengan begitu diharapkan agenda kajian Islam di Alam Melayu di masa depan semakin mendalam dan terfokus.Ketiga, Sejauh ini, kajian Islam di Alam Melayu hanya menjadi bidang kajian sekunder bagi pusat-pusat kajian Islam, seperti yang ditunjukkan oleh Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapore dan lain-lain. Karenanya, Konferensi merekomendasikan dibentuknya sebuah pusat kajian Islam di Alam Melayu secara khusus, sehingga perkembangan Islam di kawasan ini semakin memperoleh perhatian luas dan bisa diakses oleh para pembaca yang lebih luas. Dengan adanya lembaga ini, seminar-seminar, workshop, penelitian dan pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya dapat terselenggaranya secara semakin terencana.Sebagai penutup acara Konferensi Islam di Dunia Melayu diisi dengan Wisata ke Gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, Bandung, Indonesia; dan belanja ke Pasar Baru Bandung yang dipandu oleh Budiman Eko Wibowo, Selasa (22/11) pagi “Tour Wisat pada akhir Konferensi dilakukan ke Gedung Merdeka sebagai gedung yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955 dan belanja ke Pasar Baru untuk oleh-oleh khas Bandung” cetusnyaSalah satu peserta berkomentar “Saya merasa bahagian bisa berkunjung ke Gedung Merdeka dan belanja di Pasar Baru” pungkasnya [Ibn Ghifarie]

[uinsgd.ac.id] Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung (PPs UIN SGD) bekerjasama dengan Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (APIUM) Malaysia menggelar Konferensi Internasional Islam di Dunia Melayu bertajuk “Jaringan Islam Di Dunia Melayu: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan” di Hotel Puri Khatulistiwa Bandung pada tanggal 20-22 November 2011Menurut Dadang Kahmad, Direktur Pascasarjana menjelaskan realitas Islam di dunia Melayu (Nusantara) adalah islam yang memiliki keunikan tersendiri, karena itu dapat disebut memiliki wajah tersendiri. Di samping itu, masuknya Islam di dunia melayu berlangsung dengan cara damai, hampir tanpa ekspansi dari pasukan Daulah Islamiyah seperti Umayah, Abasiyah di Timur Tengah atau Mughal India. “Sebuah fenomena sejarah tersebut menghadirkan corak Islam yang khas, yang berbeda dari pusat ajaran Islam di Timur Tengah” paranya dalam sambutanya Minggu (20/11) malamCorak Islam dunia Melayu yang khas ini kadang dianggap sebagai “penyimpangan” dari bentuk aslinya atau kerap dianggap sebagai “Islam Pinggiran”. Pemahaman ini disertai konotasi serba kurang dalam hal ketaatan, misalnya kurang taat ajaran karena lebih didominasi oleh kebudayaan lokal masing-masing, kurang menunjukkan ekspansi budaya keseharian sebagaimana dikembangkan di pusat ajaran, misalnya ketaatan terhadap aturan berpakaian dan kurang dapat merealisasikan ajaran islam dalam bentuk peradaban, misalnya dalam bentuk negara sebagaimana dalam peradaban Islam Timur Tengah.“Kekhasan wajah Islam Melayu ini sayangnya selama beberapa dekade terabaikan, selalu dianggap sebagai catatan kaki dari Islam Timur Tengah. Atas dasar itulah, Konferensi Internasional ini digelar oleh umat Islam di dunia Melayu yang tersebar di pelbagai negara Asia Tenggara (Indonesia, Malayasia, Singapura, Thailand, Filiphina, Kamboja, Vientam) dan yang terpengaruh oleh Islam dunia Melayu seperti Srilangka, Afrika Selatan” ujarnyaMengingat pentingnya kajian Islam di Dunia Melayu ini diharapkan”Dengan adanya gagasan Konferensi ini menjadi benih yang akan menumbuhkan gairah studi akademik yang menjadikan fenomena Islam di duia Melayu sebagai kawasan baru penelitian ilmiah” tegasnyaSekitar 150 Guru Besar, Doktor dan Candidat Doktor dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Filipina, Timor Leste, Myanmar, Kamboja, dan Vietnam ikut menyumbangkan gagasa Islam di dunia Melayu melalui makalah yang dipresentasikan dan setiap abstraksi yang masuk ke panitian dibukukan dengan judul Islam di Dunia Melayu: Dulu, Kini dan Masa Depan” yang dieditori oleh “M Anton Athoillah, Munir dan Bambang Qomaruzzaman” ungkap Rudi HeryanaBagi Ruzman bin Md. Noor, Pengarah APIUM menuturkan kehadiran Seminar dan buku ini merupakan hasil daripada kerjasama Perjanjian Persefahaman (MoU) di antara Universiti Malaya dan UIN SGD Bandung. “Dalam buku ini, para penulis yang terdiri daripada pelbagai latarbelakang keilmuan telah berjaya mewujudkan situasi kontemporari Islam di Dunia Melayu, khususnya Malaysia dan Indonesia” ujarnyaPenerbitan buku ini dapat dikatakan sebagai sebuah jaringan pintar di antara para sarjana di Indonesia dan Malaysia. “Setakat ini, keupayaan untuk melihat konsep dan penerapan Islam dalam konteks semasa telah banyak dilakukan oleh para sarjana berkenaan. Dengan demikian, buku ini akan memberi suatu warna baru mengenai keadaan sesama. Secara khususnya, para pensyarah dari Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaysia yang telah berusaha secara padu untuk memeparkan bagaimana bentuk pengajian Islam yang mereka terapkan dan kesannya terhadap pemikiran Islam di Malaysia”“Seminar ini tentu sahaja memeberikan harapan yang amat  maksima, manakala isu-isu berkenaan juga ditulis oleh para penyelidik sama ada dari Indonesia mahupun luar Indonesia. Oleh itu, saya merasakan buku ini dapat dijadikan sebagai satu rujukan semasa dan boleh diperbaharui mengikuti perkembangan zaman” harapnyaUpaya menata peradaban dan membangun masa depan Islam Melayu bagi Nanat Fatah Natsir menjelaskan peradaban Melayu yang dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara merupakan salah satu bukti adanya kesamaan budaya antara bangsa yang dapat menjadi penopang bagi kemajuan Islam di Melayu. “Hal ini dapat dilihat dari jumlah mayoritas muslim di Indonesia, Malaysia dan Brunei serta kesamaan fisik dan bahasa antara sebagian masyarakat Thailand, Singapura dan Philiphina” katanyaUntuk mememperkuat basis peradaban tersebut supaya tidak tergilas oleh perputara roda sejarah, amak sudah saatnya kita kembali menggali basis tradisi kearifan dari warisan sejarah peradaban yang ada. “Aura positif dari masing-masing peradaban harus direkontruksi ulang untuk menuju kejayaan peradaban Isma Melayu di masa yang akan datang” optimisSalah satu sumber optimisme kalangan pengamat luar tentang “kebingkitan Islam” di Asia Tenggara pada umumnya didasarkan pada Ppengamatan mereka tentang watak atau karakteristik Islam di kasawan lain, khususnya di Timur Tengah. Karakteristik terpenting Islam di Asia Tenggara misalnya mempunyai watak yang lebih damai, ramah, damn toleran” tambahnyaSemangat menuju kebangkitan Islam ini sejlan dengan pandangan Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa masyarakat dan negara yang kuat adalah “Masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara; Pertama, Adanya slidasitas kebangsaan (ashabiyyah) yang kokoh. Kedua, Kuantitas dan kuaalitas sumberdaya manusianya. Ketiga, Kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras” jelasnyaDari cara pandang Ibnu Khaldun inilah “Saya meyakini banhwa kebangkitan peradaban Islam di dunia Melayu merupakan perkara yang dapat diwujudkan sebab sejauh ini sudah dimiliki oleh sebagian negara-negara di kawasan Melayu. Persoalanya, mungkinkah peradaban Islam Melatyu berintegrasi menuju sebuah keputusan politik layaknya benua Eropa yang bersatu? Seminar ini saya harapkan bisa memberikan jawabannya” tuturnyaKonferensi Internasional tentang Islam di Alam Melayu melahirkan kesimpulan dan rekomendasi yang dibacakan secara langsung oleh M Anton Athoillah, Asisten Direktur I Pascasarjana yang didampingi Rudi Heryana pada penutupan Konferensi, Seni (21/11) malamAnton menjelaskan dari makalah-makalah yang telah dipaparkan dalam sejumlah sesi yang dilengkapi dengan introductory remarks dan plenary sessions, dapat disimpulkan sebagai berikut; Pertama, Kajian Islam di Alam Melayu terbukti telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik oleh para sarjana Melayu sendiri maupun sarjana asing. Ini sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu, di mana Islam di kawasan ini hanya dipandang sebagai pinggiran.Kedua, Isalm yang berkembang di Alam Melayu merupakan perkembangan yang sah dan sahih dari seluruh perkembangan Islam di belahan lain. Karena itu, tuduhan bahwa Islam di Alam Melayu sinkretis, tidak murni dan menimpang dari masinstream Islam di kawasan lain semakin tidak memperoleh tempat dalam kajian Islam di kawasan ini.Ketiga, Islam di Alam Melayu telah mengekspresikan diri secara unik, sesuai dengan watak dan karakteristiknya sendiri. Ini terlihat dengan nyata baik dalam bidang arsitektur, hukum, pemikiran, dan lai sebagainya. Atas dasar itu, Islam di Alam Melayu tidak bisa didekati secara sama dengan pendekatan yang dilakukan di kawasan lain.Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, Konferensi ini merekomendasikan hal-hal sebagai berikut; Pertama, Sesuai dengan tema besar Konferensi ini, makalah-makalah dan pembahasan yang dsampaikan masih terlalu banyak memfokuskan pada Islam di Malaysia dan Indonesia, dan kurang memberikan ruang bagi pembahasan Islam Melayu di beberapa wilayah lain, seperti Brunei darussalam, Thailand, Filipina, Singapore dan sebagainya. Hal itu agar bisa memenuhi makna Melayu yang sesungguhnya.Kedua, Keragaman kajian Islam di atas harus disistematisasi kembali, sehingga kajian-kajian islam semakin memiliki fokus dan perhatian secara spesifik. Dengan begitu diharapkan agenda kajian Islam di Alam Melayu di masa depan semakin mendalam dan terfokus.Ketiga, Sejauh ini, kajian Islam di Alam Melayu hanya menjadi bidang kajian sekunder bagi pusat-pusat kajian Islam, seperti yang ditunjukkan oleh Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapore dan lain-lain. Karenanya, Konferensi merekomendasikan dibentuknya sebuah pusat kajian Islam di Alam Melayu secara khusus, sehingga perkembangan Islam di kawasan ini semakin memperoleh perhatian luas dan bisa diakses oleh para pembaca yang lebih luas. Dengan adanya lembaga ini, seminar-seminar, workshop, penelitian dan pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya dapat terselenggaranya secara semakin terencana.Sebagai penutup acara Konferensi Islam di Dunia Melayu diisi dengan Wisata ke Gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika, Bandung, Indonesia; dan belanja ke Pasar Baru Bandung yang dipandu oleh Budiman Eko Wibowo, Selasa (22/11) pagi “Tour Wisat pada akhir Konferensi dilakukan ke Gedung Merdeka sebagai gedung yang pernah digunakan sebagai tempat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika tahun 1955 dan belanja ke Pasar Baru untuk oleh-oleh khas Bandung” cetusnyaSalah satu peserta berkomentar “Saya merasa bahagian bisa berkunjung ke Gedung Merdeka dan belanja di Pasar Baru” pungkasnya [Ibn Ghifarie]