UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pemimpin Itu Melayani

Alhamdulillah, masyarakat Jawa Barat lulus ketika harus memilih pemimpinnya melalui pemilihan gubernur/wakil gubernur maupun bupati/wali kota yang sebagian daerah digelar bersamaan. Situasi berlangsung aman, tertib, dan jauh dari huru-hara sehingga masyarakat tetap bisa menjalankan aktivitasnya dengan baik.

Ada salah satu hadits terkenal soal kepemimpinan ini, “Ibn Umar RA. berkata, ‘Saya telah mendengar Rasulullah SAW. bersabda, setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya. Bahkan, seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggunganjawaban) dari hal hal yang dipimpinnya’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Setiap diri kita pemimpin apalagi pemimpin formal, seperti gubernur, wakil gubernur, dan bupati/wali kota. Konsekuensi seorang pemimpin adalah melayani masyarakat, bukan malah sebaliknya. Pakar kepemimpinan Eugene B Habecker menyatakan, “Pemimpin sejati melayani. Melayani orang-orang. Melayani minat terbaik mereka. Dalam memimpin, mereka tidak selalu bertindak populer, dan tidak juga selalu mengesankan. Tetapi pemimpin sejati selalu dimotivasi oleh kepedulian kasih dibandingkan hasrat kejayaan pribadi dan mereka pun bersedia membayar harganya.”

Hal yang melekat pada seorang pemimpin adalah kewenangan yang kerap dimaknai sebagai hak untuk memerintah. Padahal, memimpin yang efektif bukanlah memerintah anak buah maupun masyarakat. Kalau pemimpin sebatas memerintah, semua orang pun bisa melakukan hal itu jika diberi kekuasaan.

Memimpin yang efektif adalah sebuah seni melayani yang lebih banyak menggunakan otak kanannya daripada otak kiri. Kita sayangkan para pemimpin kita lebih banyak memakai otak kiri sehigga gaya pemimpinnya cenderung rasional, kaku, njlimet, dan tak memudahkan urusan.

Pemimpin yang memiliki banyak pengikut adalah pemimpin yang melayani. Menurut pakar kepemimpinan John C Maxwell, untuk menjadi orang besar kita harus mau menjadi yang paling kecil dan juga pelayan bagi orang lain.

Siti Aisyah RA. berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah bersabda di rumahku ini, “Ya Allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.” (HR Muslim)

Pemimpin itu harus melayani orang lain dengan melakukan potensi, kewenangan, maupun kekuasaan yang dimilikinya. Dia bersedia menyingsingkan lengan baju untuk bekerja sehingga otomatis akan menjadi contoh bagi karyawan atau masyarakatnya. Dengarkan aspirasi karyawan dan warga serta berempatilah pada mereka. Empati Anda akan menimbulkan rasa hormat mereka terhadap pemimpin.

Seorang pemimpin juga sekaligus mentor atau pembimbing bagi anak buah dan masyarakatnya. Mentor bertugas membuat orang lain menjadi lebih baik lagi kehidupannya. Kesalahan pemimpin ketika lebih sering mengedepankan emosi karena merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan.

Setiap manusia termasuk pemimpin hanya punya dua pilihan ketika bicara emosi. Mengendalikan emosi atau justru sebaliknya dikendalikan oleh emosi. Nabi Muhammad SAW. menyatakan selepas meraih kemenangan dari Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadhan ketika 300 pasukan Muslim harus menghadapi sekitar 1,000 pasukan kafir bahwa Perang Badar merupakan perang kecil. Ada perang yang jauh lebih besar yakni perang untuk mengendalikan emosi (hawa nafsu).

Bekal pemimpin lainnya adalah harus berani untuk melakukan inovasi, terobosan, maupun ide-ide cemerlang lainnya. Jawa Barat merupakan wilayah besar sehingga membutuhkan para pemimpin yang berani keluar dari kebiasaan. Banyak orang yang ingin sukses, tetapi hanya sedikit yang berani mengambil risiko.

Larry Osborne pernah mengatakan, “Hal paling mencengangkan dari para pemimpin yang paling efektif adalah betapa sedikitnya persamaan dalam diri mereka. Tetapi ada satu sifat menonjol yang mudah dikenali yaitu kesediaan mereka menempuh risiko.”

Seorang pemimpin jangan merasa berada di zona aman dan nyaman sehingga dininabobokan berbagai keberhasilan. Keberanian akan membuka pintu pada hal yang paling bermanfaat. Keberanian bukan saja memberikan permulaan yang baik, tetapi juga masa depan yang lebih baik.

Tentu sebagai masyarakat harus melakukan pengawasan terhadap kinerja para pemimpinnya. Abu Hurairah RA. berkata,
“Rasulullah bersabda, ‘Dahulu Bani Israil selalu dipimpin nabi, tiap mati seorang nabi digantikan nabi lainnya, dan sesudah aku ini tidak ada nabi, dan akan terangkat sepeninggalku beberapa khalifah. Bahkan akan bertambah banyak.’ Sahabat bertanya, Ya Rasulullah, apakah pesanmu kepada kami?’ Jawab Nabi, Tepatilah baiatmu (janji/kontrak politik) pada yang pertama, dan berikan kepada mereka haknya, dan mohonlah kepada Allah bagimu, maka Allah akan menanyakan mereka dari hal apa yang diamanatkan dalam memelihara hamba-Nya.'” Selamat memimpin untuk melayani. []

Penulis, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Raudhatus Sibyan Sukabumi.

Sumber, Pikiran Rakyat 7 Maret 2013