UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pembinaan Optimal Lahirkan Karakter Ideal

[www.uinsgd.ac.id] Ketika mendengar ada santri yang melakukan tindakan kriminal (pencurian), indisipliner, atau menyalahgunakan narkoba; penyebabnya bisa jadi karena pembinaan karakter kurang optimal, sehingga ada kesenjangan antara proses dan tujuan pendidikan.

Demikian problem yang diangkat dalam disertasi Dr Sarbini, M.Ag pada sidang terbuka doktor Pascasarjana UIN SGD Bandung, Senin (31/07/2017). Dr Sarbini melakukan penelitian di Pondok Pesantren Persis 67 Benda Tasikmalaya, dengan judul “Optimalisasi Pendidikan Karakter Islami Santri”. Untuk memperoleh data yang lebih mendalam, digali melalui indikator: pengajaran, peneladanan, pembiasaan, pemotivasian, dan penegakan aturan. 

Menurut Dr Sarbini, pendidikan karakter santri dikembangkan melalui kebijakan pesantren. Pelaksanaannya di bawah asuhan para ustad dalam bentuk praktik nyata, hingga mampu menghasilkan santri berkarakter baik. Aspek pengajaran dikonstruksi melalui pengajaran kurikulum di kelas dan kegiatan ektrakurikuler. Proses peneladanan, dikonstruksi melaui stakeholders (pihak terkait), khususnya ustadz, murabbi, mudir, dan santri senior. 

Pembiasaan, terkonstruksi pada kelekatan kegiatan keseharian (embededness in livelihood) di pesantren, rumah, dan lingkungan. “Dalam menegakan aturan, pesantren menerapkan beberapa peraturan, sebagai upaya menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang dibawa oleh santri dari lingkungan luar,” jelas Dr Sarbini.

Pesantren memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter santri, terlibat dalam proses penciptaan tata nilai, baik yang dilakukan secara sadar dan kontinyu maupun melalui penerapan disiplin sosial yang ketat. Sifat mutual correlation, saling melengkapi antarkomponen atau antarproses, sehingga terjadi konsistensi untuk menekankan komitmen antara tujuan, program, proses  dan evaluasi. 

Proses pembelajaran pada dasarnya sosialisasi dan internalisasi dari ajaran agama. Nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, termasuk dalam kehidupan di pesantren, memiliki pengaruh dalam menentukan sikap seseorang. Aspek penting yang memungkinkan efektifnya peran pembentukan karakter ini adalah uswatun hasanah (contoh yang baik). 

“Penanaman nilai karakter di Pesantren Persis 67 Benda Tasikmalaya dapat terlihat dalam aktivitas santri sehari-hari, antara lain shalat berjamaah lima waktu, mengaji Al-Qur’an, dan mengaji kitab-kitab tertentu,” pungkas Dr Sarbini, yang kini menjabat Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung.[nanang sungkawa]