UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pascasarjan Gelar ICON IMAD VII

[www.uinsgd.ac.id] Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, bekerjasama dengan tiga universitas di Asean yaitu Prince of Songkla University Thailand, University of Malaya dan Sultan Sharif Ali Al-Islamiyah University Brunei Darussalam, menggelar International Conference On Islam In Malaya World (ICON-IMAD) VII dari tanggal 19-21 September 2017.

Acara Konferensi Internasional Islam di Alam-Melayu ke-7 yang bertajuk “Memperkokohkan Islam Melayu Moderat di Asia Tenggara” dibuka secara resmi oleh Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor Sumedang, Selasa (19/9).

Agenda tahun ini merupakan lanjutan dari acara ICON IMAD enam tahun sebelumnya. Penyelenggaraan ICON IMAD I yang diadakan di Bandung pada 19-22 November 2011, ICON IMAD II yang diadakan di APIUM pada 2012, ICON IMAD III yang diadakan di Bandung tahun 2013, dan ICON IMAD IV yang diadakan di Klana Beach Resort Port Dickson (Komplek Baitul Hilal), Negeri Sembilan, Malaysia di pihak APIUM pada 19-21 September 2014; ICON IMAD V yang diadakan di Prince Songkla University, Pattani 12-14 September 2015 dan ICON IMAD VI yang diadakan di Universiti Sultan Sharif Ali, UNISSA, Brunei pada 20-22 September 2016. 

Dalam sambutannya Rektor menjelaskan untuk tahun 2017 ini, ketujuh  kalinya dilaksanakan International Conference On Islam In Malay World (ICON IMAD) atas kerjasama empat universitas dari empat negara yaitu Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia dengan Program Pasca Siswazah Akademi Pengajian Islam  University of Malaya (UM), Malaysia, Islamic College Prince of Songkla University Thailand dan Sultan Sharif Ali University Brunei Darussalam.

“Isu besar yang dibahas selama ini di Malayasia, Thailand dan Brunei Darussalam adalah Islam Melayu Moderat. Sikap moderat menjadi sikap umum kalangan ilmuwan dan sekaligus menjadi kajian keilmuan, sebagai jalan tengah dari sikap ekstrim kiri dan kanan yang kini menguat,” tegasnya.   

Realitas kebhinekaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan beragama di Indonesia dan bangsa Melayu di ASEAN. Kebinekaan merupakan kodrat primordial yang tidak dapat dihindari. Bangsa Melayu diberi limpahan rahmat oleh Allah dengan kebinekaan di berbagai bidang.

“Itu sebabnya, perlu dikembangkan wacana penulisan tafsir kebinekaan. Tafsir ini tidak semata-mata menafsir teks-teks suci tentang kebinekaan, tetapi lebih penting dari itu ialah bagaimana produk penafsiran tersebut di-break down menjadi manual prosedur mengenai cara hidup berdampingan dengan komunitas yang beragam, baik idiologi, sosial maupun karakter,” paparnya. 

Mengenai tragedi kemanusiaan di Rohingya, Rektor berharap peran perguruan tinggi Islam sangat dibutuhkan untuk mendorong gerakan kemanusiaan lebih kuat dan meluas. “Bangsa muslim Melayu harus berperan aktif dalam gerakan kemanusiaan yang sudah menyita perhatian dunia tersebut. Forum Icon Imad VII ini dapat memberikan rekomendasi yang komperhensif terkait persoalan tersebut dan aksi kemanusiaan yang nyata,” pungkasnya. [Humas Al-Jamiah]