UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Otoritas Baru Islam; dari Ulama ke Cendekiawan

[www.uinsgd.ac.id] Sebanyak 20 dosen di lingkungan UIN SGD Bandung mengikuti Diskusi Rutin Malem Reboan yang biasa diselenggarakan oleh Madrasah Malem Reboan dengan menghadirkan narasumber Moeflich Hasbullah yang membahasa “Otoritas Baru Islam; Transformasi dan Pergeseran Legitimasi Islam dari Timur Tengah ke Barat di Indonesia Abad ke-20” yang dipandu Aam Abdillah di gedung Fakultas Ushuluddin Lt 1, Selasa (26/1).

Menurut Moeflich, sejak tahun 1980-an di kalangan terpelajar, mahasiswa dan generasi muda Islam Indonesia yang berada di wilayah perkotaan, dunia kampus dan kelas menengah telah terjadi transformasi dan pergeseran arus belajar yang melahirkan pola otoritas baru Islam dari ulama ke cendekiawan.

Pergeseran ini diakui oleh Penasehat Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kairo tahun 2005-2006, Romli Syarkowi Zain:
 
“Pada awal dekade 90-an, perbincangan tentang alumni Timur tengah (Timteng) sempat mengemuka di publik intelektual Indonesia. Alumni Timteng disorot karena pada beberapa dekade sebelumnya, mereka dianggap “merajai” diskursus keislaman di tanah air. Tapi situasi mulai bergeser ketika pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama mulai melirik dunia Barat sebagai alternatif studi-studi keislaman. Dekade 80-an, melalui Program Pembibitan Dosen IAIN/STAIN, pemerintah mulai mengirim “rombongan-rombongan” sarjana untuk ngelmu Islam di Barat, persis seperti yang dilakukan Muhammad Ali di Mesir ketika mengirim para intelektual Mesir ke Perancis pada abad ke-19. Pada dekade 90-an, “tindakan” pemerintah ini mulai membuahkan hasil. Para sarjana yang belajar Islam di Barat mulai ramai-ramai mudik. Mereka, berbekal metodologi kajian keislaman yang dikembangkan di Barat, mulai menunjukkan “taring” dengan melontarkan tinjauan-tinjauan baru dalam kajian Islam di Indonesia. Isu-isu yang diangkat utamanya berkaitan dengan bagaimana Islam, agama yang dianut mayoritas rakyat Indonesia, mampu mendorong modernisasi yang perlahan mulai deras menerabas ke jantung masyarakat. Pada poin ini, alumni Barat memiliki kelebihan daripada alumni Timteng, karena mereka lebih fasih mengartikulasikan isu-isu Islam dan modernitas dengan langgam dan idiom-idiom modern pula. Dari sini, muncullah usaha-usaha untuk mulai membanding-bandingkan antara sarjana lulusan Timteng dengan alumni Barat. Lalu tersiarlah pandangan umum yang menyatakan; alumni Timteng, dibanding “saingannya,” para alumni Barat, mulai “lumpuh,” atau lebih tepatnya, absen dalam percaturan diskursus Islam dan modernitas di Indonesia.” 

Mengingat keterlibatan para sarjana Muslim alumni Barat dalam diskursus Islam Indonesia modern terutama sejak tahun 1970-an terlihat lebih aktif dan lebih artikulatif ketimbang para lulusan Timur Tengah. “Sebab Timur Tengah hanya kaya konten dan Barat punya metodologi yang jelas,” paparnya.

Bukti dari generasi sarjana Muslim alumni Barat jauh lebih intensif dalam merespon tantangan-tantangan zaman yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang cepat (rapid social changes) dan mampu merumuskan jawaban-jawaban Islam yang lebih akademis, sosiologis dan realistis.

“Lahirnya penerbit Mizan Pimpinan Haidar Bagir dengan menerbitkan buku-buku Seri Cendekiawan dan Intelektual Muslim Indonesia yang merekam hampir keseluruhan pemikiran Islam intelektual Muslim Indonesia modern dan terbitnya Harian Republika, Majalah Ummat, Jurnal ’Ulumul Qur’an, Studia Islamika, Jurnal Hikmah, Jurnal Islamika itu menjadi bukti atas pergeseran ototitas Islam. Bukan berarti peran Ulam hilang di tengah masyarakat, tapi hanya hadir di Pondok Pesantren. Berbeda dengan sarjan lulusan Barat yang lebih inten dalam merespon persoalan zaman yang terus berubah dan menuntut jawaban segera,” jelasnya.

Paling tidak, terdapat lima latar global yang menyebabkan pusat legitimasi keilmuan Islam bergeser yang bagi Indonesia kemudian menjadi alasan pengiriman para sarjana untuk belajar di kawasan baru Islam itu. Pertama, melimpahnya kepustakaan di Barat. Pada awalnya, fungsi kajian-kajian keislaman di Eropa diselenggarakan untuk melegitimasikan dominasi Eropa atas negeri-negeri Muslim. Kedua, bebasnya hambatan psikologis. Dalam tradisi akademik Barat, Islam dianalisis secara lebih historis, sosiologis dan fenomenologis karena sebagai objek studi agama ditempatkan sebagai hal yang profan. Ketiga, menjamurnya institusi-institusi kajian keislaman. Pada zaman modern, kaum Muslim dapat menemukan banyak sekali pusat-pusat lembaga kajian Islam (Islamic studies) di Barat.Keempat, metodologi yang lebih maju dan terbuka. Pendekatan terbaru yang berkembang dewasa ini atas studi Islam mengakui bahwa Islam hanya dapat dipahami sebagai agama bila dilihat sebagai gabungan berbagai aspek yang komprehensif yaitu sosial, kultural, ekonomi, politik, hukum, pendidikan dan bahkan mistik-spiritual. Kelima, banyaknya tawaran-tawaran beasiswa yang disediakan oleh lembaga-lembaga donor asing dan perguruan tinggi di Barat untuk studi ke negara-negara mereka mengambil program master (MA) dan doktor (Ph.D).

“Kelima tren global Islam di Barat itulah yang telah menciptakan arus para sarjana Islam Indonesia belajar ke Barat terutama para dosen dari perguruan tinggi Islam (IAIN/UIN). Pergeseran otoritas dan legitimasi keilmuan dunia Islam itu adalah fenomena alami sebagai konsekuensi dari berpindah-pindah atau bergesernya pusat-pusat keilmuan dan peradaban,” sambungnya.

Bagi Asep S. Muhtadi, harus dibedakan dengan jelas antara lulusan Timur Tengah dengan Barat dalam pergeseran otoritas Islam ini, “Pada era 80-an memang terjadi pergeseran di perguruan tinggi Islam, khususnya IAIN. Berkat belajar di Barat, seperti Kang Jalal. Lulusan sarjana Barat dengan memikili metodologi yang jelas dan baru ini terus menjadi pembicara di perguruan tingi Islam. Akan tetapi, karena isi materi yang disampaikan seputar itu-itu saja, maka keberadaan mereka ditinggalkan dan kembali ke lulusan IAIN, seperti Pa Juhaya dan Afif Muhammad,” terangnya.

“Tidak semua sarjan Barat yang berasal dari perguruan tinggi umum dan belajar di sana, bahkan ketika kembali ke Indonesia pelajar ini menjadi fundamental karena pada saat belajar di Barat, mereka berkumpul dengan kelompok muslim yang hanya belajar permukaan Islam dengan hati, bukan dengan pemikiran yang kritis, sehingga keahlian dalam menguasai metodologi untuk berusaha menjawab berbagai persoalan perubahan sosial yang dihadapai masyarakat bisa dipecahkan. Untuk itu, perlu dibedakan antara lulusan Barat, sebaba tidak semua sarjana Barat ini lebih terbuka, justru ada yang lebih tertutup,” jelasnya.

Tingginya gelombang lulusan STAIN/IAIN yang melanjutkan ke McGill membuat tanda tanya perguruan tinggi umum, diakuinya, “kenapa harus belajar ke Barat lulusan STAIN/IAIN ini, bukan ke Timur Tengah? Untuk itu, peran perguruan tinggi Islam harus menjadi kajian yang serius dalam memotret terjadinya pergeseran otoritas ini, sehingga kontribusi lulusan STAIN/IAIN yang belajar di Barat ini jelas,” saranya.

Menurut Adeng Muchtar Ghazali dalam mengkaji otoritas Islam ini harus melahirkan tipologi sarjana Barat, “sebenarnya tidak ada pendikotomian antara ilmu umum dan ilmu agama karena semuanya berasal dari Islam. Dengan begitu,  baik lulusan Barat maupun Timur Tengah harus melahirkan tipologi sarjana yang jelas karena tidak sedikit lulusan Barat itu jadi fundamental,” paparnya.

Dalam catatan Cik Hasan Bisri, kajian ini mesti dilihat dari segi sejarah sosial, sehingga tidak perlu diperdebatkan secara berbenturan antara lulusan Timur Tengah dengan Barat ini. “ini kajian sejarah sosial. Memang tidak semuanya terjadi pergeseran, tapi ada wilayah-wilayah tertentu yang berubah dan terjadi pergeseran ini dengan melihat fakta sosial dari kajian sejarah,” pungkasnya. []