UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Nilai dan Etika Sastra Tidak Bersifat Universal

[www.uinsgd.ac.id] Berbicara nilai serta etika sastra tidak bisa diseragamkan pada setiap masanya. Misalnya pada tahun 1930, sastra dimaknai sebagai tulisan yang baik dan bagus dari segi pembuatan dan bahasa terukur, tema terpilih, serta mengandung moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dosen Satra Inggris UIN SGD Bandung, Lili Awalludin dalam seminar Stadium General dengan pembahasan ‘Perkembangan Sastra dalam Dunia Teknologi dan Industri’. Seminar tersebut diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (BEM- FAH), Selasa (17/11/2015).

“Jika menganggap karya William Shakespeare  baik, kenapa orang tidak menciptakan  drama seperti masanya. Kenapa abad 18 berbeda dengan abad 17, abad 18 berbeda dengan abad 19,” terang Lili. Lili juga menambahkan faktor seperti  politik, ekonomi dan kekuasaan ataupun foktor lainya menetukan suatu karya menjadi baik selain dari diinya sendirinya.

Masih kisaran abad ke -20 sampai sekarang, sejarawan tidak memiliki parometer yang jelas mana suatu karya yang baik dan karya yang jelek. Meski siapa saja boleh menulis, namun sastra memiliki standar yang berpengaruh terhadap hasil karya, yaitu waktu dan tempat tertentu. Tidak asa satupun  nilai etika sastra yang bersifat universal. [Anisa Dewi Anggraeni, Isthiqonita/Suaka]