UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

NIKMATNYA UMRAH RAMADHAN

NIKMATNYA UMRAH RAMADHAN

Oleh : H. Aden Rosadi

(Pembimbing Haji dan Umrah Plus Qiblat Tour dan Dosen FSH UIN SGD Bandung)

 

Melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramdhan adalah sangat utama. Karena Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan dimana seluruh amalan dilipiatgandakan menjadi 70 kali lipat dari bulan-bulan lainnya. Bulan penuh dengan rahmat, dimana rahmat atau kasih sayang Allah diturunkan seluas-luasnya di bulan ini, dan juga merupakan bulan ampunan, bulan dimana Allah membuka pintu ampunan bagi para hambaNya. Bulan ini juga terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yakni yang dinamakan lailatul Qodar..

Oleh karenanya banyak umat muslimin yang berduyun-duyun berlomba untuk bisa hadir malaksanakan umrah di bulan ramadhan ini. Sehingga tidak heran kondisi  Masjidil Haram tentunya sangat padat sekali. Seluruh rangkaian ibadah, dari mulai shalat berjamaah, thawaf, sai, shalat taraweh, baca Quran, i’tikaf penuh sesak, dan tak henti-hentinya. 

Begitu juga ketika hendak datang waktu berbuka puasa, Semenjak selesai shalat ashar secara berrjamaah, mulai dipersiapkan alaqah-alaqah yang akan digunakan untuk buka bersama, di barbagai sudut akan terlihat jemaah yang  mulai bekumpul untuk buka bersama.

Di saat Adzan Maghrib dikumandangkan, terlihat jutaan umat Islam, buka bersama dengan hidangan air zam-zam, kurma, ashir, atau bahkan dengan nasi bukhari. Hidanga-hidangan tersebut, diletakan di atas plastik memanjang. Mengapa Umrah Ramadhan begitu nikmat?  Terdapat dua faktor yang menyebabkan umrah ramadhan begitu nikmat, antara lain :

 

Pertama, Qolban Syaakiron (Hati yang selalu bersyukur)..

Memiliki hati yang bersyukur berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala nikmat yang diperoleh merupakan karunia Allah. Segala nikmat yang dirasakan manusia berasal dan bersumber dari-Nya. Allah-lah pemberi nikmat kepada setiap hamba-Nya. Kesadaran dan keyakinan di atas membuat hati menjadi tenang.  Tidak ada rasa khawatir atau takut kehilangan nikmat yang telah diperoleh. Karena, kita  meyakini bahwa Allah yang memberikan nikmat dan karunia-Nya, maka Dia berhak pula untuk mengambilnya kembali jika Dia menghendaki.

Ilustrasinya seperti tukang parkir. Tukang parkir tidak pernah merasa memiliki berbagai mobil yang ada di area parkirnya. Karena, ia mengetahui bahwa ia hanya dititipi dan diamanahi untuk menjaga mobil-mobil itu dengan baik. Maka, ketika orang yang punya mobil mengambil kembali mobilnya, tidak ada rasa kecewa pada diri tukang parkir. Ia legowo memberikan kembali mobil-mobil itu kepada pemilik sebenarnya. Demikianlah, sikap orang yang bersyukur. Karena ia meyakini bahwa segala nikmat bersumber dari Allah dan merupakan karunia-Nya, maka ia tidak  merasa memiliki aneka nikmat yang dia peroleh. Ia menyadari bahwa segala nikmat yang diperolehnya hanya merupakan titipan. Allah-lah pemilik sejati dari semua nikmat tersebut. 

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kesadaran dan penghayatan akan nikmat dan karunia Allah ini akan memberikan perasaan nikmat dalam hati yang jauh lebih tinggi daripada perasaan nikmat yang ditimbulkan dari kepemilikan seluruh harta kekayaan yang ada di alam ini. Terlebih jika melihat pahala yang didapat dari memuji Allah yang dapat dirasakan bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat nanti. Ketika umrah di bulan Ramadhan betapa hati ini selalu tertambat dengan yang Maha Kuasa, sehingga yang muncul adalah ketenangan dan kesenangan.

 

Kedua, Lisaanan Dzaakiron (Lidah yang senantiasa Dzikir)

Janganlah sampai lisan kita lalai dari dzikir pada Allah. Basahnya lisan dengan dzikir yang membuat hati ini hidup. Dzikir yang membuat kita semangat mengarungi kehidupan. Dzikir kepada Allah yang membuat kita terangkat dari kesulitan.

Lisan ini diperintahkan untuk berdzikir setiap saat. Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata,

 “Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?” “Yang panjang umurnya dan baik amalannya,” jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad 4: 188, sanad shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir itu dilakukan setiap saat, bukan hanya di masjid, sampai di sekitar orang-orang yang lalai dari dzikir, kita pun diperintahkan untuk tetap berdzikir.

Abu ‘Ubaidah bin ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika hati seseorang terus berdzikir pada Allah maka ia seperti berada dalam shalat. Jika ia berada di pasar lalu ia menggerakkan kedua bibirnya untuk berdzikir, maka itu lebih baik.” (Lihat Jaami’ul wal Hikam, 2: 524). Dinyatakan lebih baik karena orang yang berdzikir di pasar berarti berdzikir di kala orang-orang pada lalai. Para pedagang dan konsumen tentu lebih sibuk dengan tawar menawar mereka dan jarang yang ambil peduli untuk sedikit mengingat Allah barang sejenak.

Lihatlah contoh ulama salaf. Kata Ibnu Rajab Al Hambali setelah membawakan perkataan Abu ‘Ubaidah di atas, beliau mengatakan bahwa sebagian salaf ada yang bersengaja ke pasar hanya untuk berdzikir di sekitar orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ibnu Rajab pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sempat berjumpa di pasar. Lalu salah satu dari mereka berkata, “Mari sini, mari kita mengingat Allah di saat orang-orang pada lalai dari-Nya.” Mereka pun menepi dan menjauh dari keramaian, lantas mereka pun mengingat Allah. Lalu mereka berpisah dan salah satu dari mereka meninggal dunia. Dalam mimpi, salah satunya bertemu lagi temannya. Di mimpi tersebut, temannya berkata, “Aku merasakan bahwa Allah mengampuni dosa kita di sore itu dikarenakan kita berjumpa di pasar (dan lantas mengingat Allah).” Lihat Jaami’ul wal Hikam, 2: 524.

Dalam konteks umrah Ramadhan dua hal tersebut sangat mendominasi perasaan setiap jamaah. Di samping itu, pembimbing utama Qiblat Tour Islami KH Sodik Mujahid pernah mengingatkan bahwa salah satu yang membuat nikmat umrah Ramadhan adalah adanya dua ihram, pertama ihram untuk shaum dan kedua ihram untk umrah. Kedua ihram itulah yang mampu memngkondisikan jamaah untk senantiasa terjaga dengan Qolban Syaakiron dan Lisaanan Dzakiron. Semoga. Amin Ya Rabbal A’alamiin.