UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Munira Safitri, Penghafal Quran 30 Juz, Sempat Putus Asa dan Berhenti di Tengah Jalan

Munira Safitri (19), mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Guru UIN SGD Bandung, merupakan hafizah Quran 30 juz. Munira mengaku termotivasi menghafal Quran kerena penasaran ingin hafal semua juz dalam Alquran.

“Jadi awalnya penasaran gimana rasanya menghafal semua juz. Sempat putus asa, tapi karena terus dicoba, malah jadi ketagihan,” ujar Munira (19) saat ditemui Tribun di kampus UIN SGD Bandung, Sabtu (18/5).

Munira Safitri mengakui, dalam proses menghafal ada banyak godaan dan keluhan yang tidak bisa ia hindari. Kendati begitu, berkat dukungan guru serta doa orang tuanya, akhirnya dia bisa menyelesaikan hafalan.

Ia mengawali menghafal Quran saat berusia 9 tahun, ketika masih duduk di bangku SD dan belajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Saat itu Munira kecil baru bisa menghafal surat-surat pendek di juz 30.

Guru TPA-nya memperhatikan perkembangan hafalan Munira dan menilai Munira memiliki daya tangkap dan cepat untuk menghafal dibandingkan anak-anak lainnya.

Sang guru kemudian menyarankan agar Munira meneruskan hafalannya hingga hafal juz 30.

Saat itu, ia hanya menuruti saran gurunya itu, lalu mulai mencobanya. “Awalnya sebenarnya gak mau, tapi mau mencoba,” ujarnya.

Munira Safitri mengaku saat itu ia tidak mau menghafal.

Namun, entah mengapa di dalam hatinya ia menantang diri hingga mau mencobanya kendati sering mengeluh dan sempat putus asa. Dia terus dibimbing oleh guru dan orang tuanya hingga mau terus mencobanya.

Munira pun berhasil menghafal 1 juz (juz 30) saat masih duduk di bangku SD.

Tak berhenti dari sana, saat ia melanjutkan pendidikan ke SMP, guru mengajinya menyarankan agar ia melanjutkan hafalannya menjadi tiga juz.

Munira mengaku saat itu ia merasa malas dan tidak ingin menghafal lagi. Hingga kembali tergugah menghafal lantaran melihat tayangan anak-anak mengaji menghafal Quran di televisi.

“Saat itu termotivasi lagi, soalnya lihat orang tua lihat tayangan itu jadi tergugah, mau nyoba lagi,” ujarnya.

Ia mengakui, di tengah perjalanan menghafal, ia sempat mengeluh lagi dan baru bisa menyelesaikan tiga juz hafalannya di akhir SMP.

Karena masih dalam bimbingan guru mengajinya di TPA, Munira Safitri mendapat saran untuk melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Tahfidz Darul Quran, Tangerang Selatan, milik Ustaz Mansyur. Munira berpikir betapa jauhnya jarak antara Belitung dan Pulau Jawa.

Namun, kata Munira, mendengar saran dari gurunya itu ia tertegun dan perlahan mengikuti saran gurunya untuk melanjutkan sekolah merantau jauh dari orang tua.

Saat ia memiliki keinginan tersebut, orang tuanya sempat tidak mengizinkannya lantaran pertimbangan biaya yang kurang mampu dipenuhi orang tuanya.

Munira mengungkapkan, entah mengapa saat itulah tiba-tiba ia bertekad penuh untuk menghafal Quran. Bahkan meminta kepada orang tuanya agar disekolahkan di pondok pesantren pilihannya itu.

Karena melihat tekad anak sulungnya itu, orang tua Munira Safitri pun mengizinkannya. “Akhirnya orang tua mengizinkan karena ada tetangga juga yang sudah melihat kemampuan aku saat di TPA. Jadi mereka mendukung,” ujarnya.

Perjalanan mental Munira tidak cukup sampai di sana. Saat ia masuk ke Pondok Pesantren Tahifdz itu, timbul rasa takut karena melihat kemampuan orang lain yang lebih baik darinya.

Di tahun pertama ia menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mendapatkan semangat untuk menghafal hingga ia menyelesaikan setahun itu enam juz.

Munira terus termotivasi oleh lingkungannya lantaran merasa bersaing dengan teman-temannya. Hingga ia bisa mencapai hafalan 18 juz.

Namun di fase pertengahannya ini, Munira sempat dirundung kekhawatiran dan kebingungan untuk menjaga hafalan yang kian bertambah itu.

Ia baru tercerahkan setelah mendapat bimbingan dari guru serta cerita dari teman-temannya.

Memasuki tahun terakhir ia sekolah, Munira mengaku keteteran belum bisa menyelesaikan juga hafalannya. Namun lagi-lagi ia teringat dan termotivasi lagi perjuangan orang tuanya menyekolahkannya ke pesantren dengan biaya yang tidak sedikit.

Ayahnya, Junianto (41), hanya berprofesi buruh harian dan mengajar mengaji. Ibunya, Musria (40), ibu rumah tangga dan terkadang mengajar juga di TPA.

“Di sana aku berpikir, masa iya saya harus menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan mereka kepada aku,” ujarnya.

Setelah itu, di tahun keempat, Munira mengikuti dauroh, setoran lebih padat. Ia bisa menghafal di setiap waktu mulai Subuh, Duha, Zuhur, Asar, dan bakda Isya.

Munira terus memantapkan diri berusaha menaklukkan keraguannya untuk menghafal. Ia terus termotivasi berkat dukungan gurunya dulu di TPA-nya serta tentu kedua orang tuanya.

Setelah terus mendorong diri, Munira pun berhasil menghafal 30 juz di detik-detik akhir sebelum kelulusan.

Setelah menyelesaikan setoran hafalan 30 juz itu Munira mengaku sangat senang bahkan hingga menangis lantaran sempat tak percaya. Ia bergegas langsung menelepon ibunya dan menangis terharu membawa kabar gembira untuk orang tuanya.

“Saat nelepon Mamah lagi di Aceh mengantar Adik ikut lomba MTQ. Terus Mamah juga nangis, gak nyangka bisa selesai juga,” kata Munira.

Bagi Munira, semua hasil yang ia raih semata bukan karena kerja kerasnya, tapi juga berkat dukungan dan doa orang tua serta guru yang terus memotivasinya hingga selesai. (Hilda Rubiah)

Sumber, Tribun Jabar Senin, 20 Mei 2019 15:12