UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Moderasi Sunda

Catatan untuk Lokakarya Nasiomal “Harmoni Agama dan Budaya” UIN Bandung-Dewan Ketahanan Nasional”

Mendiskusikan Sunda kaitannya dengan gerakan keagamaan mutakhir yang  cenderung karib dengan kekerasan menjadi penting. Apalagi justru di tengah situasi di mana artikulasi kekerasan atasnama agama acapkali terjadi di tatar Jawa Barat, seperti tercantum dalam banyak penelitian.

Laiknya ajaran Islam, Sunda sebagai rujukan kultural masyarakat Jawa Barat  hakikat nilai-nilai budayanya berporos pada spirit moderasi, sikap lapang, terbuka, kosmopolit dan inklusif seperti nampak dalam kearifan yang dimilikinya: someah hade ka semah,henteu cueut kanu hideungtara ponteng kanu koneng, estu merenah saimbang sareng takerannana,ngindung kawaktu mibapa ka zaman, ulah jadi Sunda anu sarubak zaman, tapi kudu jadi Sunda anu saamparjagat.

Khitah kultural budaya Sunda yang memiliki paralelisme terutama dengan tasawuf Islam mengingatkan saya pada falsafah almarhum HR Hidayat Suryalaga bahwa agar “Sunda” itu memiliki kontribusi nyata bagi upaya mewujudkan kehidupan yang berkeadaban maka harus memiliki tujuh karakter utama:

Pertama,kesadaran monoteistik akan hadirnya Nu Ngersakeun/Sanghyang Tunggal; kedua,Ngertakeun Bumi Lamba. Memahami secara utuh ihwal peran profetis dan kultural untuk mendistribusikan kesejahteraan bagi semesta ; ketiga,dunia akan sejahtera apabila Tri Tangtu di Bumi berperan dengan baik, yang meliputi: Rama, memiliki makna keluarga yang berfungsi optimal sebagai fondasi keluarga/nucleus family yang harmonis, Resi, bermakna sebagai alim ulama/cendikiawan yang berperan sebagai penjaga moral bangsa dan senantiasa kritis dalam melihat hal ihwal, Prabu, dapat diartikan sebagai tatanan birokrasi yang berkhidamat kepada rakyat; keempat,Luhung Elmuna, yakni memiliki ilmu yang bermanfaat; kelima,Pengkuh Agamana, yakni teguh dalam melaksanakan kehidupan beragama yang dianutnya; keenam,Jembar Budayana; ketujuh,Silih Asih (proses silaturahmi ), silih asah (proses saling mencerdaskan) dan silih asuh, dapat menempatkan diri (positioning), proporsional dan profesional.

Nampak jelas dari falsafah-falsafah seperti itu bagaimana Tuhan sesungguhnya menjadi nafas kesundaan, nilai-nilai ilahiah menjadi oksigen budaya Sunda. Sungapan tradisi Sunda berujung dan berpangkal pada sangkan paraning dumadi, pada mataholang pangbalikan:mulih ka jati mulang ka asal, inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Dengan sebuah keyakinan tentang totalitas kepasrahan kepada-Nya (islam-hanafiah) seperti tercermin dari senarai peribahasa ini: umur gagaduhan, banda sasampiran, hirup di dunya wawayangan, rejeki tara pahili, bagja teu paala-ala, Takdir teubisadipungkir, kadar teu bisa disinglar papasten Gusti Yang Widi. Dalam bahasa Haji Hasan Mustapa, “Urang Sunda mah geus Islam, sememeh Islam datang”

Makna “pamali”
Di Sunda juga dikenal istilah “Pamali”. Bagi saya pamali menjadi semacam interupsi kultural yang menyadarkan pentingnya hidup selaras dengan hukum alam, hukum Tuhan dan hukum budaya. Ketika hal ini dilanggar maka bukan hanya akan menimbulkan kehancuran  lingkungan tapi juga resiko politik, sosial dan lain sebagainya.

Dalam kajian Barat “pamali” diwadahi dalam konsep mitos. Mitos memiliki makna sebagai  pernyataan atas suatu kebenaran lebih tinggi tentang realitas asali (Dhavamony, 1995). Mitos mempunyai suatu aspek ontologis: memandang hubungan antara keadaan manusia yang asli dengan keadaan historisnya sekarang yang ditandai alienasi (Berthes, 2001). Roland Barthes  menjelaskan bahwa  mitos merupakan “tipe  wicara”. Segala macam wicara dapat diterapkan menjadi mitos asal hal itu disampaikan lewat wacana (discourse). Wicara dapat merupakan bentuk tulisan atau penggambaran, komunikasi, film, fotografi, laporan, publisitas, semua bisa mendukung bagi wicara mitos.

Malinowski seperti dikutip Dhavamony (1995) menjelaskan, bahwa mitos harus dirumuskan menurut fungsinya. Mitos merupakan kisah yang diceritakan untuk menetapkan kepercayaan tertentu, berperan sebagai peristiwa pemula dalam suatu ritus, atau sebagai model tetap dari perilaku religious. Karenanya mitologi atau tradisi suci dari suatu masyarakat adalah kumpulan cerita yang terjalin dalam kebudayaan mereka, yang menyuarakan keyakinan mereka, menentukan ritus mereka, yang berlaku sebagai peta peraturan sosial maupun sebagai model tetap dari tingkahlaku moral mereka. Setiap mitos memiliki isi literer  karena selalu berbentuk narasi. Narasi ini bukan sekadar dongeng tetapi  cerita sejati mengenai kejadian-kejadian yang bisa dirasa  telah turut membentuk dunia dan hakikat tindakan moral, serta  menentukan hubungan ritual antara manusia dengan penciptanyanya.

Eliade mengatakan (P Louis Leahy, 2008), “Semakin orang menjadi religious, semakin ia masuk ke dalam yang riil dan semakin berkuranglah ia berada  dalam bahaya penyimpangan.” Ia menjadi integral dan tidak mengalami pragmentasi, komunikasi yang dilakukannya bukan hanya sesaman manusia namun juga dengan Sang Kuasa bahkan menghubungkan apa yang dilakukan di dunia fisik dengan metafisik.

Pamali tidak ada hubungannya dengan sikap tidak rasional, tapi justru melampaui rasionalisme. Pamali menjadi wadah untuk menampung gagasan kearifan masyarakat tradisional. Pamali menggambarkan bagaimana masyarakat lokal melakukan hubungan yang intens dengan sesama, alam dan Tuhannya. Bagaimana mereka mentautkan jagat mikroskosmik (jagat alit) dengan makrokosmik (jagat besar), dengan sesuatu yang bersifat ilahiah yang menjadi asal mula hal ihwal.

Persoalan mutakhir
Inilah barangkali yang menjadi concern UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Gunung Djati Bandung bekerjasama dengan Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional pada Rabu (29 Juli 2015) bertempat di Htel Panghegar merasa perlu menyelenggarakan Seminar Nasional dan Lokakarya mengenai harmonisasi budaya Sunda dengan agama kaitannya dalam upaya membangun kehidupan yang lapang, inklusif dan toleran. Sebab justru di titik inilah persoalannya, kemuliaan budaya Sunda dan keagungan agama Islam seringkali tidak terartikulasikan dalam praksis tindakan kesehariannya. Normativitas Sunda berseberangan dengan historisitas masyarakatnya.

Budaya Sunda mengajarakan silih asah, asih dan asuh prakteknya malah saling menista dan mengkafirkan mereka yang berbeda.
Kebudayaan Sunda yang adilihung akhirnya hanya bertenggar pada peribahasa, angon-angon,  cerita rakyat, hanya indah dikhutbahkan sementara perilaku yang dikembangbiakkan malah berbanding terbalik. Orang Sunda (dan orang Islam) terlampau sering mulangkeun panineungan kepada masa lalu tanpa ada upaya serius bagaimana “silam” itu mampu ditafsirkan secara tepat guna melakukan transformasi ke arah kini dan masa depan yang cemerlang. Bukankah hakikat kebudayaan adalah interpretasi membebaskan  bukan sain beku seperti dibilang Cliford Geertz, “I take culture and the analysis of if to be therefore not an experimental science in search of law but an interpretive one in search of meaning.”

Pada pusaran tragika ini Jawa Barat menjadi propinsi kedua setelah Aceh Darussalam dalam hal kekerasan, propinsi dengan indeks korupsi akut. Kawasan dengan populasi muslim tertinggi tapi sayang fantasi politik penduduknya kebanyakan berwatak partisan, archaik dan sama sekali tidak mencerminkan keberagamaan-kesundaan yang utuh. Tidak nyunda, tidak nyantri dan tidak nyantika.

Di sini menjadi penting kita belajar kepada empat kampung adat yang menjadi subjek penelitian dalam lokakarya itu. Diharapkan bagaimana pada gilirannya budaya adat itu memberikan kontribusi kultural  bagi upaya membangun harmoni baik dalam konteks lokal Jawa Barat atau dalam aras keindonesiaan.

Menjadi penting juga bagaimana saham kearifan itu agar kontekstual, maka harus ada upaya serius membumikannya dalam tubuh politik, sosial dan kebudayaan (penelitian tidak hanya berhenti sebatas kertas kerja yang kemudian ditumpuk  di ruang birokrasi dan apalagi kalau sekadar menghabiskan anggaran akhir tahun). Sehingga pada gilirannya kemajemukan itu tidak sekadar wacana tapi menjadi pengalaman nyata seperti diteladankan masyarakat adat itu.[]

Asep Salahudin, Pemerhati kebudayaan dan dosen UIN SGD Bandung.

Sumber, Republika 5 Agustus 2015.