UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Modal Pemimpin

Berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk menjadi pemimpin saat ini? Jawabannya tentu mengarah pada materi yang dimilikinya. Karena jadi pemimpin sekarang haruslah memiliki modal yang besar. Dengan dana besar itu bisa menggalang kampanye, mengumpulkan massa, memberi upah kepada orang yang dengan setia menjadi pendampingnya, dan terakhir dana untuk ‘membeli suara’.

Beberapa kali Pilkada di beberapa tempat telah membuktikan anggapan ini. Ini jelas siapa pun dia yang hendak menjadi pemimpin sebuah daerah haruslah memiliki dana yang sangat besar. Dan ke depan beberapa bulan lagi, di Jabar akan mengadakan Pilkada. Dengan lima pasang kandidat Cagub dan Cawagub, Pilkada Jabar sudah pasti mempertarungkan lima pasang orang yang telah memiliki modal yang kuat. Bahkan di media, dengan jelas para kandidat itu menyebutkan sumber modal yang dipakainya, yaitu dari pribadi, keluarga, rekan, dan beberapa donatur sebagai simpatisan atau ‘bobotoh setia’.

Meskipun sudah disebutnya beberapa sumber, tetapi itu tidaklah cukup untuk menggalang dan memenuhi biaya yang dibutuhkan. Karena biaya yang dibutuhkan saat ini akan jauh lebih besar dibanding masa-masa sebelumnya. Semakin besar wilayahnya akan semakin besar pula modal yang dibutuhkan. Terlebih lagi kalau levelnya lebih tinggi, misalnya daerah provinsi akan membutuhkan dana yang jauh lebih besar ketimbang daerah kabupaten atau kota.

Besarnya dana untuk menjadi pemimpin ini bisa karena masyarakat sudah sangat cerdas bagaimana memanfaatkan para kandidat, sekaligus ketika menghadapi para tim suksesnya. Masyarakat akan memilih kandidat yang paling banyak memberinya, saudaranya, relasinya, dan apa yang akan bermanfaat untuk masa depannya. 

Belum lagi nanti setelah pemilihan, begitu kandidat pemimpin itu memenangi Pilkada, dia akan ditagih janji-janjinya sewaktu kampanye. Masyarakat akan berani meneriakkan kritikan, menagih janji, dan menyalurkan keinginannya kepada pemimpinnya. Selama pimpinannya belum mengabulkan permintaan rakyat, mereka tidak akan pernah berhenti. Kalau pun berhenti mereka kecewa dan ujung-ujungnya kepercayaan akan hilang atau dukungan akan beralih ketika Pilkada berikutnya.

Sementara di sisi lain, ada banyak penagih yang sudah antri meminta imbalan, menagih janji posisi dan peluang proyek, yaitu mereka yang dulunya menjadi tim sukses, donatur, simpatisan, partai-partai yang melakukan koalisi dan lain sebagainya. Belum lagi uang pribadi dan keluarga yang dipakai, sudah pastinya ingin segera kembali terlebih lagi mendapat untung.

Ini baru tahap pertama ketika menjabat pemimpin. Belum lagi pada tahap berikutnya dalam roda kepemimpinan yang akan berdatangan silih berganti menggoda, merongrong, dan menguji kualitas kepemimpinanya. Kalau begitu modal seorang pemimpin tidaklah hanya duit, tetapi kesiapan mental, kesehatan, rasa malu yang harus hilang, dan percaya diri yang harus lebih dibanding orang lain.  

Namun anehnya, meskipun berat untuk menjadi pemimpin karena persyaratan yang ketat dan menguasai modal sebagai pemimpin, tetapi tetap saja tidak sedikit orang yang antri mencalonkan diri menjadi pemimpin sebuah wilayah. Tidak peduli dengan trackrecord jelek, tidak peduli dengan beban tugas yang nanti bakal dipundaknya segede gunung, tidak peduli citra dan sorotan publik kepada dirinya setiap jengkal langkah dan setapak jejak dan ucapannya akan diminta pertanggungjawabannya pada Sang Khaliq di hari akhirat kelak. Terpenting dirinya diakui dan pernah menjadi pemimpin.

Untuk yang menang selamat anda sudah bisa membuktikan diri sebagai pemimpin dan jadilah orang yang konsisten dengan janjinya. Kepada yang kalah terima kasih anda telah berbuat baik kepada rakyat dengan banyak memberi apa yang dibutuhkan rakyat meskipun periodik! []

Encep Dulwahab, Staf pengajar Jurnalistik UIN SGD Bandung.