UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Misi Transformatif Hijriah

Tahun baru Hijriah sejatinya memantik semangat kita melakukan transformasi di berbagai lini kehidupan. Sebagai khalifah di muka bumi, kita diwajibkan mengejawantahkan nilai-nilai transformatif yang terkandung dalam Alquran dan sunah Nabi sehingga fungsi agama Islam tidak terkesan mati rasa ketika menghadapi tantangan zaman.Di tengah kesemrawutan hidup, peran agama diperlukan sebagai kekuatan yang dapat memberikan solusi. Dengan demikian, optimisme memandang hidup mewujud dalam bentuk laku positif ilahiah, tidak putus asa, dan berdaya hidup. Harapan optimistik tumbuh dan berkembang sebagai inti religiusitas. Nilai-nilai Ilahiah yang “melangit” diejawantahkan ke muka bumi untuk mentransformasi manusia menuju perubahan lebih baik.“Hijrah” dapat diartikan perpindahan suatu kaum menuju kondisi yang lebih baik. Ini artinya terdapat perpindahan aktivitas fisik-geografis atau perubahan sikap dan laku. Oleh karena itu, tahun baru Hijriah mestinya dimaknai sebagai ruang dan waktu merenungi semangat Nabi Muhammad saw. mewujudkan masyarakat madani. Pergantian tahun harus menyadarkan kita untuk berubah dan berpindah menuju kehidupan yang baik. Hijrah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi konsistensi diri menanamkan nilai-nilai luhur sehingga terwujud suatu masyarakat beradab, toleran, dan sejahtera.Mendawamkan lakuPergantian tahun juga merupakan anugerah tak terkira dari Allah. Kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk memanfaatkan sisa usia dengan perbuatan yang lebih baik. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya, dan seburuk-buruknya manusia adalah orang yang berusia panjang dan jelek amalannya.” (H.R. Ahmad). Dalam konteks hijriah, yang jatuh pada Selasa, 1 Muharam 1432 H kemarin, sejatinya anugerah waktu dari-Nya ini digunakan untuk mendawamkan laku transformatif.Kehadiran agama – menurut Arnold J. Toynbee – merupakan suatu usaha memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mendesak disebabkan ilmu dan filsafat tidak memberi jawaban tuntas. Agama adalah ikhtiar mencari jalan bagaimana mendamaikan diri kita dengan fakta-fakta yang melingkari hidup (A. Syafi’i Ma’arif, 2008: 10). Ketika tahun baru hanya dijadikan ritual seremonial, kontribusi membebaskan warga dari belenggu kemiskinan, imoralitas, dan persebaran etika destruktif; fungsi Islam sebagai agama pembebas seolah tiada.Oleh karena itu, nilai-nilai keislaman diharapkan mesti menciptakan kondisi sosial yang bersahabat, bermartabat, dan harmonis sesuai dengan nilai-nilai agung. Pergantian tahun dari “lama” menuju “baru”, sejatinya memunculkan kesadaran publik untuk mencari solusi pemecahan atas persoalan yang mendera bangsa. Bermula dari kesadaran inilah lahir kesadaran transformatif membebaskan warga dari belitan kesulitan hidup.Agama dapat dikatakan telah menjadi bagian dari pandangan hidup umat Islam. Nilai-nilai agama telah mengakar dalam diri Muslim. Alhasil ketika problem sosial muncul ke permukaan sosial, dari agamalah kita menemukan pijakan kolektif untuk mencari solusi. “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shaf [61]:4).Seorang Muslim sejatinya melakukan upaya perubahan ke arah yang lebih baik sebagai wujud dari kesadaran manusiawi-ilahiah. “Hendaklah ada sebagian di antara umat yang menyuruh pada kebajikan dan memerintahkan berbuat bajik, melarang dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan.” (Q.S. Ali-Imran [3]:104). Ayat ini membicarakan gerak transformatif dakwah islamiah dalam mewujudkan suasana aman, sentosa, dan sejahtera. Meminjam penafsiran Kuntowijoyo, gerak transformatif itu ialah gerak pembebasan (liberasi), gerak pemanusiawian (humanisasi), dan gerak penanaman nilai ilahi (transendensi).Hal itu dilakukan karena kehadiran agama (Islam) di muka bumi untuk mengubah masyarakat dari keterpurukan menuju keberdayaan. Kejumudan, ketidaksejahteraan, dan ketakmajuan mesti diperangi untuk menciptakan negeri sejahtera dan berkeadaban. Intinya, ajaran Islam tidak hanya berwujud ritual-vertikal-individual, tetapi mewujud dalam bentuk ritual-horizontal-sosial. Penting kiranya aktualisasi keimanan dalam wujud kesalehan sosial, karena diinformasikan ayat-ayat Alquran yang memuat kata aaminu dan kerap bersanding dengan kata aamalu. Ini mengindikasikan kesempurnaan iman ditentukan seberapa salehnya seseorang ketika berinteraksi dengan persoalan-persoalan kemanusiaan.Hal itu juga memberi kita pemahaman bahwa keimanan, keyakinan, dan pemahaman mesti selaras dengan wujud nyata (amal). Maka, pada tahun baru Hijriah kali ini, penting kiranya memicu diri agar bersemangat mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai kebajikan yang islamiah-ilahiah-insaniah. Perubahan itu tidak diukur dengan perubahan kuantitatif angka semata; perubahan itu mesti dibarengi dengan perubahan nyata dan dapat dirasakan dalam kehidupan riil. Waktu terus bergerak, dan sejatinya kita terus bergerak mempraktikkan amal saleh yang bermanfaat bagi kehidupan ini.Misi transformatif dalam Islam, dengan bergantinya tahun (hijriah), selayaknya mengantarkan kita untuk terus memperbaiki kata, sikap, dan laku jadi lebih baik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al-Hasyr [59] : 18). Wallahua’lam.***Penulis, Guru Besar Ilmu Tafsir, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat, 8 Desember 2010

Tahun baru Hijriah sejatinya memantik semangat kita melakukan transformasi di berbagai lini kehidupan. Sebagai khalifah di muka bumi, kita diwajibkan mengejawantahkan nilai-nilai transformatif yang terkandung dalam Alquran dan sunah Nabi sehingga fungsi agama Islam tidak terkesan mati rasa ketika menghadapi tantangan zaman.Di tengah kesemrawutan hidup, peran agama diperlukan sebagai kekuatan yang dapat memberikan solusi. Dengan demikian, optimisme memandang hidup mewujud dalam bentuk laku positif ilahiah, tidak putus asa, dan berdaya hidup. Harapan optimistik tumbuh dan berkembang sebagai inti religiusitas. Nilai-nilai Ilahiah yang “melangit” diejawantahkan ke muka bumi untuk mentransformasi manusia menuju perubahan lebih baik.“Hijrah” dapat diartikan perpindahan suatu kaum menuju kondisi yang lebih baik. Ini artinya terdapat perpindahan aktivitas fisik-geografis atau perubahan sikap dan laku. Oleh karena itu, tahun baru Hijriah mestinya dimaknai sebagai ruang dan waktu merenungi semangat Nabi Muhammad saw. mewujudkan masyarakat madani. Pergantian tahun harus menyadarkan kita untuk berubah dan berpindah menuju kehidupan yang baik. Hijrah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi konsistensi diri menanamkan nilai-nilai luhur sehingga terwujud suatu masyarakat beradab, toleran, dan sejahtera.Mendawamkan lakuPergantian tahun juga merupakan anugerah tak terkira dari Allah. Kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk memanfaatkan sisa usia dengan perbuatan yang lebih baik. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya, dan seburuk-buruknya manusia adalah orang yang berusia panjang dan jelek amalannya.” (H.R. Ahmad). Dalam konteks hijriah, yang jatuh pada Selasa, 1 Muharam 1432 H kemarin, sejatinya anugerah waktu dari-Nya ini digunakan untuk mendawamkan laku transformatif.Kehadiran agama – menurut Arnold J. Toynbee – merupakan suatu usaha memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mendesak disebabkan ilmu dan filsafat tidak memberi jawaban tuntas. Agama adalah ikhtiar mencari jalan bagaimana mendamaikan diri kita dengan fakta-fakta yang melingkari hidup (A. Syafi’i Ma’arif, 2008: 10). Ketika tahun baru hanya dijadikan ritual seremonial, kontribusi membebaskan warga dari belenggu kemiskinan, imoralitas, dan persebaran etika destruktif; fungsi Islam sebagai agama pembebas seolah tiada.Oleh karena itu, nilai-nilai keislaman diharapkan mesti menciptakan kondisi sosial yang bersahabat, bermartabat, dan harmonis sesuai dengan nilai-nilai agung. Pergantian tahun dari “lama” menuju “baru”, sejatinya memunculkan kesadaran publik untuk mencari solusi pemecahan atas persoalan yang mendera bangsa. Bermula dari kesadaran inilah lahir kesadaran transformatif membebaskan warga dari belitan kesulitan hidup.Agama dapat dikatakan telah menjadi bagian dari pandangan hidup umat Islam. Nilai-nilai agama telah mengakar dalam diri Muslim. Alhasil ketika problem sosial muncul ke permukaan sosial, dari agamalah kita menemukan pijakan kolektif untuk mencari solusi. “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shaf [61]:4).Seorang Muslim sejatinya melakukan upaya perubahan ke arah yang lebih baik sebagai wujud dari kesadaran manusiawi-ilahiah. “Hendaklah ada sebagian di antara umat yang menyuruh pada kebajikan dan memerintahkan berbuat bajik, melarang dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan.” (Q.S. Ali-Imran [3]:104). Ayat ini membicarakan gerak transformatif dakwah islamiah dalam mewujudkan suasana aman, sentosa, dan sejahtera. Meminjam penafsiran Kuntowijoyo, gerak transformatif itu ialah gerak pembebasan (liberasi), gerak pemanusiawian (humanisasi), dan gerak penanaman nilai ilahi (transendensi).Hal itu dilakukan karena kehadiran agama (Islam) di muka bumi untuk mengubah masyarakat dari keterpurukan menuju keberdayaan. Kejumudan, ketidaksejahteraan, dan ketakmajuan mesti diperangi untuk menciptakan negeri sejahtera dan berkeadaban. Intinya, ajaran Islam tidak hanya berwujud ritual-vertikal-individual, tetapi mewujud dalam bentuk ritual-horizontal-sosial. Penting kiranya aktualisasi keimanan dalam wujud kesalehan sosial, karena diinformasikan ayat-ayat Alquran yang memuat kata aaminu dan kerap bersanding dengan kata aamalu. Ini mengindikasikan kesempurnaan iman ditentukan seberapa salehnya seseorang ketika berinteraksi dengan persoalan-persoalan kemanusiaan.Hal itu juga memberi kita pemahaman bahwa keimanan, keyakinan, dan pemahaman mesti selaras dengan wujud nyata (amal). Maka, pada tahun baru Hijriah kali ini, penting kiranya memicu diri agar bersemangat mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai kebajikan yang islamiah-ilahiah-insaniah. Perubahan itu tidak diukur dengan perubahan kuantitatif angka semata; perubahan itu mesti dibarengi dengan perubahan nyata dan dapat dirasakan dalam kehidupan riil. Waktu terus bergerak, dan sejatinya kita terus bergerak mempraktikkan amal saleh yang bermanfaat bagi kehidupan ini.Misi transformatif dalam Islam, dengan bergantinya tahun (hijriah), selayaknya mengantarkan kita untuk terus memperbaiki kata, sikap, dan laku jadi lebih baik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al-Hasyr [59] : 18). Wallahua’lam.***Penulis, Guru Besar Ilmu Tafsir, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat, 8 Desember 2010

Tahun baru Hijriah sejatinya memantik semangat kita melakukan transformasi di berbagai lini kehidupan. Sebagai khalifah di muka bumi, kita diwajibkan mengejawantahkan nilai-nilai transformatif yang terkandung dalam Alquran dan sunah Nabi sehingga fungsi agama Islam tidak terkesan mati rasa ketika menghadapi tantangan zaman.Di tengah kesemrawutan hidup, peran agama diperlukan sebagai kekuatan yang dapat memberikan solusi. Dengan demikian, optimisme memandang hidup mewujud dalam bentuk laku positif ilahiah, tidak putus asa, dan berdaya hidup. Harapan optimistik tumbuh dan berkembang sebagai inti religiusitas. Nilai-nilai Ilahiah yang “melangit” diejawantahkan ke muka bumi untuk mentransformasi manusia menuju perubahan lebih baik.“Hijrah” dapat diartikan perpindahan suatu kaum menuju kondisi yang lebih baik. Ini artinya terdapat perpindahan aktivitas fisik-geografis atau perubahan sikap dan laku. Oleh karena itu, tahun baru Hijriah mestinya dimaknai sebagai ruang dan waktu merenungi semangat Nabi Muhammad saw. mewujudkan masyarakat madani. Pergantian tahun harus menyadarkan kita untuk berubah dan berpindah menuju kehidupan yang baik. Hijrah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi konsistensi diri menanamkan nilai-nilai luhur sehingga terwujud suatu masyarakat beradab, toleran, dan sejahtera.Mendawamkan lakuPergantian tahun juga merupakan anugerah tak terkira dari Allah. Kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk memanfaatkan sisa usia dengan perbuatan yang lebih baik. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya, dan seburuk-buruknya manusia adalah orang yang berusia panjang dan jelek amalannya.” (H.R. Ahmad). Dalam konteks hijriah, yang jatuh pada Selasa, 1 Muharam 1432 H kemarin, sejatinya anugerah waktu dari-Nya ini digunakan untuk mendawamkan laku transformatif.Kehadiran agama – menurut Arnold J. Toynbee – merupakan suatu usaha memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mendesak disebabkan ilmu dan filsafat tidak memberi jawaban tuntas. Agama adalah ikhtiar mencari jalan bagaimana mendamaikan diri kita dengan fakta-fakta yang melingkari hidup (A. Syafi’i Ma’arif, 2008: 10). Ketika tahun baru hanya dijadikan ritual seremonial, kontribusi membebaskan warga dari belenggu kemiskinan, imoralitas, dan persebaran etika destruktif; fungsi Islam sebagai agama pembebas seolah tiada.Oleh karena itu, nilai-nilai keislaman diharapkan mesti menciptakan kondisi sosial yang bersahabat, bermartabat, dan harmonis sesuai dengan nilai-nilai agung. Pergantian tahun dari “lama” menuju “baru”, sejatinya memunculkan kesadaran publik untuk mencari solusi pemecahan atas persoalan yang mendera bangsa. Bermula dari kesadaran inilah lahir kesadaran transformatif membebaskan warga dari belitan kesulitan hidup.Agama dapat dikatakan telah menjadi bagian dari pandangan hidup umat Islam. Nilai-nilai agama telah mengakar dalam diri Muslim. Alhasil ketika problem sosial muncul ke permukaan sosial, dari agamalah kita menemukan pijakan kolektif untuk mencari solusi. “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shaf [61]:4).Seorang Muslim sejatinya melakukan upaya perubahan ke arah yang lebih baik sebagai wujud dari kesadaran manusiawi-ilahiah. “Hendaklah ada sebagian di antara umat yang menyuruh pada kebajikan dan memerintahkan berbuat bajik, melarang dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan.” (Q.S. Ali-Imran [3]:104). Ayat ini membicarakan gerak transformatif dakwah islamiah dalam mewujudkan suasana aman, sentosa, dan sejahtera. Meminjam penafsiran Kuntowijoyo, gerak transformatif itu ialah gerak pembebasan (liberasi), gerak pemanusiawian (humanisasi), dan gerak penanaman nilai ilahi (transendensi).Hal itu dilakukan karena kehadiran agama (Islam) di muka bumi untuk mengubah masyarakat dari keterpurukan menuju keberdayaan. Kejumudan, ketidaksejahteraan, dan ketakmajuan mesti diperangi untuk menciptakan negeri sejahtera dan berkeadaban. Intinya, ajaran Islam tidak hanya berwujud ritual-vertikal-individual, tetapi mewujud dalam bentuk ritual-horizontal-sosial. Penting kiranya aktualisasi keimanan dalam wujud kesalehan sosial, karena diinformasikan ayat-ayat Alquran yang memuat kata aaminu dan kerap bersanding dengan kata aamalu. Ini mengindikasikan kesempurnaan iman ditentukan seberapa salehnya seseorang ketika berinteraksi dengan persoalan-persoalan kemanusiaan.Hal itu juga memberi kita pemahaman bahwa keimanan, keyakinan, dan pemahaman mesti selaras dengan wujud nyata (amal). Maka, pada tahun baru Hijriah kali ini, penting kiranya memicu diri agar bersemangat mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai kebajikan yang islamiah-ilahiah-insaniah. Perubahan itu tidak diukur dengan perubahan kuantitatif angka semata; perubahan itu mesti dibarengi dengan perubahan nyata dan dapat dirasakan dalam kehidupan riil. Waktu terus bergerak, dan sejatinya kita terus bergerak mempraktikkan amal saleh yang bermanfaat bagi kehidupan ini.Misi transformatif dalam Islam, dengan bergantinya tahun (hijriah), selayaknya mengantarkan kita untuk terus memperbaiki kata, sikap, dan laku jadi lebih baik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al-Hasyr [59] : 18). Wallahua’lam.***Penulis, Guru Besar Ilmu Tafsir, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat, 8 Desember 2010

Tahun baru Hijriah sejatinya memantik semangat kita melakukan transformasi di berbagai lini kehidupan. Sebagai khalifah di muka bumi, kita diwajibkan mengejawantahkan nilai-nilai transformatif yang terkandung dalam Alquran dan sunah Nabi sehingga fungsi agama Islam tidak terkesan mati rasa ketika menghadapi tantangan zaman.Di tengah kesemrawutan hidup, peran agama diperlukan sebagai kekuatan yang dapat memberikan solusi. Dengan demikian, optimisme memandang hidup mewujud dalam bentuk laku positif ilahiah, tidak putus asa, dan berdaya hidup. Harapan optimistik tumbuh dan berkembang sebagai inti religiusitas. Nilai-nilai Ilahiah yang “melangit” diejawantahkan ke muka bumi untuk mentransformasi manusia menuju perubahan lebih baik.“Hijrah” dapat diartikan perpindahan suatu kaum menuju kondisi yang lebih baik. Ini artinya terdapat perpindahan aktivitas fisik-geografis atau perubahan sikap dan laku. Oleh karena itu, tahun baru Hijriah mestinya dimaknai sebagai ruang dan waktu merenungi semangat Nabi Muhammad saw. mewujudkan masyarakat madani. Pergantian tahun harus menyadarkan kita untuk berubah dan berpindah menuju kehidupan yang baik. Hijrah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi konsistensi diri menanamkan nilai-nilai luhur sehingga terwujud suatu masyarakat beradab, toleran, dan sejahtera.Mendawamkan lakuPergantian tahun juga merupakan anugerah tak terkira dari Allah. Kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk memanfaatkan sisa usia dengan perbuatan yang lebih baik. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya, dan seburuk-buruknya manusia adalah orang yang berusia panjang dan jelek amalannya.” (H.R. Ahmad). Dalam konteks hijriah, yang jatuh pada Selasa, 1 Muharam 1432 H kemarin, sejatinya anugerah waktu dari-Nya ini digunakan untuk mendawamkan laku transformatif.Kehadiran agama – menurut Arnold J. Toynbee – merupakan suatu usaha memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mendesak disebabkan ilmu dan filsafat tidak memberi jawaban tuntas. Agama adalah ikhtiar mencari jalan bagaimana mendamaikan diri kita dengan fakta-fakta yang melingkari hidup (A. Syafi’i Ma’arif, 2008: 10). Ketika tahun baru hanya dijadikan ritual seremonial, kontribusi membebaskan warga dari belenggu kemiskinan, imoralitas, dan persebaran etika destruktif; fungsi Islam sebagai agama pembebas seolah tiada.Oleh karena itu, nilai-nilai keislaman diharapkan mesti menciptakan kondisi sosial yang bersahabat, bermartabat, dan harmonis sesuai dengan nilai-nilai agung. Pergantian tahun dari “lama” menuju “baru”, sejatinya memunculkan kesadaran publik untuk mencari solusi pemecahan atas persoalan yang mendera bangsa. Bermula dari kesadaran inilah lahir kesadaran transformatif membebaskan warga dari belitan kesulitan hidup.Agama dapat dikatakan telah menjadi bagian dari pandangan hidup umat Islam. Nilai-nilai agama telah mengakar dalam diri Muslim. Alhasil ketika problem sosial muncul ke permukaan sosial, dari agamalah kita menemukan pijakan kolektif untuk mencari solusi. “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shaf [61]:4).Seorang Muslim sejatinya melakukan upaya perubahan ke arah yang lebih baik sebagai wujud dari kesadaran manusiawi-ilahiah. “Hendaklah ada sebagian di antara umat yang menyuruh pada kebajikan dan memerintahkan berbuat bajik, melarang dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan.” (Q.S. Ali-Imran [3]:104). Ayat ini membicarakan gerak transformatif dakwah islamiah dalam mewujudkan suasana aman, sentosa, dan sejahtera. Meminjam penafsiran Kuntowijoyo, gerak transformatif itu ialah gerak pembebasan (liberasi), gerak pemanusiawian (humanisasi), dan gerak penanaman nilai ilahi (transendensi).Hal itu dilakukan karena kehadiran agama (Islam) di muka bumi untuk mengubah masyarakat dari keterpurukan menuju keberdayaan. Kejumudan, ketidaksejahteraan, dan ketakmajuan mesti diperangi untuk menciptakan negeri sejahtera dan berkeadaban. Intinya, ajaran Islam tidak hanya berwujud ritual-vertikal-individual, tetapi mewujud dalam bentuk ritual-horizontal-sosial. Penting kiranya aktualisasi keimanan dalam wujud kesalehan sosial, karena diinformasikan ayat-ayat Alquran yang memuat kata aaminu dan kerap bersanding dengan kata aamalu. Ini mengindikasikan kesempurnaan iman ditentukan seberapa salehnya seseorang ketika berinteraksi dengan persoalan-persoalan kemanusiaan.Hal itu juga memberi kita pemahaman bahwa keimanan, keyakinan, dan pemahaman mesti selaras dengan wujud nyata (amal). Maka, pada tahun baru Hijriah kali ini, penting kiranya memicu diri agar bersemangat mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai kebajikan yang islamiah-ilahiah-insaniah. Perubahan itu tidak diukur dengan perubahan kuantitatif angka semata; perubahan itu mesti dibarengi dengan perubahan nyata dan dapat dirasakan dalam kehidupan riil. Waktu terus bergerak, dan sejatinya kita terus bergerak mempraktikkan amal saleh yang bermanfaat bagi kehidupan ini.Misi transformatif dalam Islam, dengan bergantinya tahun (hijriah), selayaknya mengantarkan kita untuk terus memperbaiki kata, sikap, dan laku jadi lebih baik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al-Hasyr [59] : 18). Wallahua’lam.***Penulis, Guru Besar Ilmu Tafsir, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat, 8 Desember 2010

Tahun baru Hijriah sejatinya memantik semangat kita melakukan transformasi di berbagai lini kehidupan. Sebagai khalifah di muka bumi, kita diwajibkan mengejawantahkan nilai-nilai transformatif yang terkandung dalam Alquran dan sunah Nabi sehingga fungsi agama Islam tidak terkesan mati rasa ketika menghadapi tantangan zaman.Di tengah kesemrawutan hidup, peran agama diperlukan sebagai kekuatan yang dapat memberikan solusi. Dengan demikian, optimisme memandang hidup mewujud dalam bentuk laku positif ilahiah, tidak putus asa, dan berdaya hidup. Harapan optimistik tumbuh dan berkembang sebagai inti religiusitas. Nilai-nilai Ilahiah yang “melangit” diejawantahkan ke muka bumi untuk mentransformasi manusia menuju perubahan lebih baik.“Hijrah” dapat diartikan perpindahan suatu kaum menuju kondisi yang lebih baik. Ini artinya terdapat perpindahan aktivitas fisik-geografis atau perubahan sikap dan laku. Oleh karena itu, tahun baru Hijriah mestinya dimaknai sebagai ruang dan waktu merenungi semangat Nabi Muhammad saw. mewujudkan masyarakat madani. Pergantian tahun harus menyadarkan kita untuk berubah dan berpindah menuju kehidupan yang baik. Hijrah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi konsistensi diri menanamkan nilai-nilai luhur sehingga terwujud suatu masyarakat beradab, toleran, dan sejahtera.Mendawamkan lakuPergantian tahun juga merupakan anugerah tak terkira dari Allah. Kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk memanfaatkan sisa usia dengan perbuatan yang lebih baik. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang panjang umur dan baik amalannya, dan seburuk-buruknya manusia adalah orang yang berusia panjang dan jelek amalannya.” (H.R. Ahmad). Dalam konteks hijriah, yang jatuh pada Selasa, 1 Muharam 1432 H kemarin, sejatinya anugerah waktu dari-Nya ini digunakan untuk mendawamkan laku transformatif.Kehadiran agama – menurut Arnold J. Toynbee – merupakan suatu usaha memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mendesak disebabkan ilmu dan filsafat tidak memberi jawaban tuntas. Agama adalah ikhtiar mencari jalan bagaimana mendamaikan diri kita dengan fakta-fakta yang melingkari hidup (A. Syafi’i Ma’arif, 2008: 10). Ketika tahun baru hanya dijadikan ritual seremonial, kontribusi membebaskan warga dari belenggu kemiskinan, imoralitas, dan persebaran etika destruktif; fungsi Islam sebagai agama pembebas seolah tiada.Oleh karena itu, nilai-nilai keislaman diharapkan mesti menciptakan kondisi sosial yang bersahabat, bermartabat, dan harmonis sesuai dengan nilai-nilai agung. Pergantian tahun dari “lama” menuju “baru”, sejatinya memunculkan kesadaran publik untuk mencari solusi pemecahan atas persoalan yang mendera bangsa. Bermula dari kesadaran inilah lahir kesadaran transformatif membebaskan warga dari belitan kesulitan hidup.Agama dapat dikatakan telah menjadi bagian dari pandangan hidup umat Islam. Nilai-nilai agama telah mengakar dalam diri Muslim. Alhasil ketika problem sosial muncul ke permukaan sosial, dari agamalah kita menemukan pijakan kolektif untuk mencari solusi. “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shaf [61]:4).Seorang Muslim sejatinya melakukan upaya perubahan ke arah yang lebih baik sebagai wujud dari kesadaran manusiawi-ilahiah. “Hendaklah ada sebagian di antara umat yang menyuruh pada kebajikan dan memerintahkan berbuat bajik, melarang dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan.” (Q.S. Ali-Imran [3]:104). Ayat ini membicarakan gerak transformatif dakwah islamiah dalam mewujudkan suasana aman, sentosa, dan sejahtera. Meminjam penafsiran Kuntowijoyo, gerak transformatif itu ialah gerak pembebasan (liberasi), gerak pemanusiawian (humanisasi), dan gerak penanaman nilai ilahi (transendensi).Hal itu dilakukan karena kehadiran agama (Islam) di muka bumi untuk mengubah masyarakat dari keterpurukan menuju keberdayaan. Kejumudan, ketidaksejahteraan, dan ketakmajuan mesti diperangi untuk menciptakan negeri sejahtera dan berkeadaban. Intinya, ajaran Islam tidak hanya berwujud ritual-vertikal-individual, tetapi mewujud dalam bentuk ritual-horizontal-sosial. Penting kiranya aktualisasi keimanan dalam wujud kesalehan sosial, karena diinformasikan ayat-ayat Alquran yang memuat kata aaminu dan kerap bersanding dengan kata aamalu. Ini mengindikasikan kesempurnaan iman ditentukan seberapa salehnya seseorang ketika berinteraksi dengan persoalan-persoalan kemanusiaan.Hal itu juga memberi kita pemahaman bahwa keimanan, keyakinan, dan pemahaman mesti selaras dengan wujud nyata (amal). Maka, pada tahun baru Hijriah kali ini, penting kiranya memicu diri agar bersemangat mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai kebajikan yang islamiah-ilahiah-insaniah. Perubahan itu tidak diukur dengan perubahan kuantitatif angka semata; perubahan itu mesti dibarengi dengan perubahan nyata dan dapat dirasakan dalam kehidupan riil. Waktu terus bergerak, dan sejatinya kita terus bergerak mempraktikkan amal saleh yang bermanfaat bagi kehidupan ini.Misi transformatif dalam Islam, dengan bergantinya tahun (hijriah), selayaknya mengantarkan kita untuk terus memperbaiki kata, sikap, dan laku jadi lebih baik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Q.S. Al-Hasyr [59] : 18). Wallahua’lam.***Penulis, Guru Besar Ilmu Tafsir, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.Sumber, Pikiran Rakyat, 8 Desember 2010