UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Milad I Serundeng Kari (SK) Gelar “Satu Tahun Belajar Bicara”

[www.uinsgd.ac.id] Memperingati Milad ke-I, Komunitas Serundeng Kari (SK) menggelar diskusi publik bertem “Sastra sebagai Komoditas (Cultural Studies)” dengan menghadirkan narasumber;  Jakob Sumardjo (Budayawan), Hawe Setiawan (Kritikus Sastra) dan Khomisah, M.A (Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Bandung) yang dipandu oleh Hafidz Azhar di Aula Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandung, Rabu (3/4)

Dalam diskusi itu Jakob menuturkan pada dasarnya sastra untuk kebutuhan spiritual. “Sastra lebih memenuhi kebutuhan spiritual dan mental” ungkapnya.

Komoditas sendiri berhubungan dengan nilai jual. Dimana, semakin laku sesuatu dalam jumlah besar, maka sesuatu itu bernilai. Dipandang dari sudut industri pun sebuah karya sastra bernilai tinggi kalau nilai jualnya juga tinggi. “Karya sastra dan seni umumnya produk rohaniah, maka pegangan apa yang disebut bagus, baik, dan benar, sebagai dunia nilai, sesuai seperti yang diharapkan, dipahami, dan diinginkan oleh pembaca massalnya. Kesatuan tiga nilai tersebut berbeda-beda untuk tiap orang dan kelompok, sehingga suatu karya sastra dapat ditolak atau diterima sebagai penganut nilai,” ujarnya.

Jakob pun memaparkan lebih dalam, bahwasanya karya sastra idealnya memiliki  nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik. Namun, sering terlihat kecenderungan bahwa pembaca massal lebih menikmati segi intrinsik daripada ekstrinsik. Ia menilai bahwasanya hal ini tidak terlepas dari sejarah sastra Indonesia, yang mengawali perkembangan sastra dengan penerbitan komersial yang menilai buku sastra sebagai komoditas.

Hawe Setiawan berbicara dari persfektif  budaya popnya. Ia menuturkan bahwa media di sini berperan sebagai sarana yang menjadikan sesuatu menjadi populer. Dalam hal ini karya sastra. Ketika masuk pada media elektronik ataupun cetak. Seseorang yang sudah mempunyai nama sebagai penulis biasanya masyarakat tertarik dari luarnya saja, tidak dikaji secara mendalam. Dan pada akhirnya budaya seperti ini menjadi low culture atau budaya rendahan.

Bagi Khomisah, yang mengkaji dari sudut akademisi. Khususnya sastra pada tataran kampus UIN itu sendiri. Kata Khomisah, bahwa sebagai akademisi kita bukan dituntut menjadi seorang sastrawan. Akan tetapi sebagai peneliti sastra. Melihat perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa saling mempengaruhi satu sama lain. “Nah, kelemahan yang sering dilakukan oleh sebagian dosen atau pengajar di UIN SGD Bandung terlalu menggembar-gemborkan bahwa kuliah di jurusan sastra itu harus bisa menjadi seorang sastrawan. Sehingga paradigma mahasiswanya pun ikut tergerus. Dan pada akhirnya pula mahasiswa berbondong-bondong menulis puisi, novel dengan kata-kata metafornya dengan bayang-bayang menjadi seorang sastrawan  tanpa memperhatikan kualitas dari karya tersebut seperti apa,” tuturnya.

Alasannya kita mengambil tema diskusi “Sastra sebagai Komoditas” kata Hafid, pengurus SK menuturkan sebenarnya sebagai sebuah kritikan juga bagi para sastrawan dan penyair UIN SGD Bandung yang memandang Sastra hanya dari sudut estetisnya saja serta kajian sastra musiman.

“Dulu sering sekali diadakan acara-acara diskusi sastra minimal seminggu sekali melihat komunitas-komunitas yang mengatasnamakan pengkaji sastra banyak bermunculan. Tetapi, semakin ke sini-ke sini tidak ada lagi terlihat orang yang mengatasnamakan penyair dan sastrawan muncul membacakan puisi dan bernyanyi itu mengindikasikan bahwa ini sebagai komunitas musiman. Dan begitupun komunitas-komunitas yang di luar kampus. Kemudian mereka memandang sastra tidak murni untuk seni akan tetapi ada hal lain yang di belakang itu yaitu bangsa pasar,” pungkasnya. [Iis, Mariam, Ibn Ghifarie]