UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Menulis, Bukti Intellektual

[www.uinsgd.ac.id] Saat diskusi Dosen, seseorang bertanya, apa yang harus dilakukan oleh Dosen. Jawab saya waktu itu adalah menulis. Dengan menulis berarti telah menyubangkan pemikiran. Hal ini telah dilakukan oleh Penulis Buku ini. Begitu ungkap Afif Muhammad saat membedah buku Sejarah Sosial Intellektual Karya Moeflich Hasbullah di Aula Fakultas Adab dan Humaniora, Kamis, (07/03).

Selain Afif Muhammad, turut hadir penulis buku, Meflich Hasbullah. Ia merupakan Dosen Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam. Juga Aam Abdillah sebagai pembedah.

Menurut Direktur Pascasarjana periode lalu tersebut, jika Dosen tidak menulis, sama dengan kyai yang mengajar secara lisan saja. ia tidak memiliki karya.

Baginya, menulis juga merupakan amal. “Jika buku ini dicetak 3000 eksemplar dan setiap satu buku dibaca oleh seratus orang maka jadi amal bagi penulisnya”. ujarnya.

Bagi Aam Abdillah, yang menjadi pembedah, orang yang menguasai sejarah, ia akan menguasai dunia. Ia mencontoh pada proklamator, Ir. Soekarno. Bagi Aam, eksistensi Soekarno bukan karena ilmu tekniknya tapi karena menguasai sejarah, maka ia bisa menguasai Indonesia. Jadi yang bisa menguasai dunia itu adalah orang yang menguasai sejarah.

“Saya melihat 2 persfektif dalam meminjam buku ini, sosok penulisnya dan tulisannya. Merujuk pada pernyataan fachri Ali, ada 6 jenis manusia; teoritis, ekonomis, estetis, politis, teologis. Nah, Moeflich termasuk ke dalam jenis manusia teoritis, karena ia memiliki sifat kritis, rasional, sadarkan diri, juga manusia seperti ini sering keluar dari mainstream. Sebagai manusia teoritis, Moeflich bisa keluar dari mainstream yang ada “ujar Aam.

Ia melanjutkan, bahwa jenis manusia teoritis selalu kalah dalam wilayah politis. jadi menurutnya, jenis manusia teoritis jangan mengaharapkan untuk menang. Beberapa kali Moeflich mendukung calon Dekan selalu kalah.

“Dari segi penulisnya, Moeflich adalah orang yang hidup di alam Barat tetapi tidak terbaratkan”.

“Terakhir, ibarat tulisan Soekarno, tulisan dalam buku ini loncat-loncat, namun yang jelas ini adalah sebuah karya,”ia mengakhiri paparannya.

Menurut penulis, Moeflich Hasbullah, buku tersebut merupakan rekaman proses pengembaraan pemikiran selama kurang lebih 15 tahun terutama sejak selesai nyantri di Australia (1999).

Buku tersebut merupakan antologi berisi artefak-artefak ide, gagasan, dan pemikiran tentang Islam Indonesia dari berbagai persfektifnya.*** [Dudi]