UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Mencari “Kaaingan” Ki Sunda

Mun aing suhud ka sirungTandaning lali ka beutiMun rada embat meueusanEling ka asaling jadiTangtu rumasa nyasamaItu aing ieu aingKaaingan adalah filsafat eksistensialisme khas Sunda dalam tafsir filsuf Haji Hasan Mustapa. Kesadaran tentang kaaingan bukan sekadar penting namun substansi dari penghayatan religiositas seseorang. Orang yang tidak sadar terhadap kaaingan bukan hanya kemungkinan tidak mengenal dirinya, lingkungannya bahkan juga tidak akan pernah paham terhadap Tuhannya.Karena pemahaman terhadap dirinya defisit, akhirnya menganggap yang tidak penting adalah penting. Kalangkang dianggap mataholang. Tidak memiliki skala prioritas. Terjadilah apa yang diformulasikan dalam kearifan Sunda sebagai cul dog-dog tinggal igel. Moro julang ngalepaskeun peusing:Nya basa wayang kalangkang/Tapi dalangna pribadi/Tara merangkeun kalangkang/Panglandi malik ka jisim/Nya wayang golek kulit/Ngawayang sacukupna prung/Ngucap henteu karasa/Tibalik buta kasari/Nu maksana nu enya henteu karasa/Absennya kesadaran seperti ini sejatinya adalah merupakan awal dari kehancuran dalam skala yang lebih luas: krisis ekologi, ketimpangan, robohya tata nilai dan akhirnya keadaan menjadi serba terbalik: Nyebut kalangkang ka raga//Nyebut raga ka rohani//Nu matak teu nelah-nelah//Nu matak teu ngarti-ngarti/Tertutupnya akses terhadap pengetahuan diri sesungguhnya yang merupakan muasal rontoknya harkat kemanusiaan, negara burakrakan dan kehidupan semakin tidak menemukan marwahnya. Dalam penggambaran Sayyed Hossen Nasr, “Dekadensi humanistik pada zaman modern ini adalah disebabkan manusia telah kehilangan pengetahuan langsung tentang diri keakuan yang senantiasa dimilikinya, karena ia tergantung kepada pengetahuan eksternal yang tidak langsung berhubungan dengan dirinya yaitu pengetahuan yang hendak dicarinya dari luar dirinya. Pengetahuan yang tidak mengandung kesadaran mengenai interioritas, mengenai aksis dan jari-jari lingkaran eksistensi yang senantiasa menghadang manusia dan menghubungkannya seperti seberkas sinar matahari kepada matahari Ilahiah”Tentu mengenal kaaingan sangat mudah untuk diucapkan, namun kita acapkali mengalami hambatan ketika itu hendak dijadikan bagian tak terpisahkan dari pengalaman kita. Karena dalam kaaingan mengandaikan sikap diri yang selalu pasrah dalam haluan kebeneran, kejujuran dan ketulusan. Mensyaratkan diri yang berani mempertanyakan perilaku menyimpang dan atau mempertawakan tindakan yang tak selayaknya dilakukan.Di sisi lain, keaingan juga mengharuskan untuk tidak pernah lelah mencari kesejatian, memosisikan iman sebagai kata kerja yang musti dibenturkan secara sosial dengan kehidupan nyata dan secara individual dengan renungan mendalam tentang hakikat diri, tentang purwadaksi, tentang eling sangkan paraning dumadi seperti ditulis Haji Hasan Mustapa:Di susul ka gunung suwung, ditungtik ka cai leungit, aing neangan jeung saha, aing deui aing deui, nelahkeun ngaran ka mana, napsiahing anu aing.Sadar akan kaaingan dalam konteks sosial akan menjadi pintu masuk untuk membangun kemanusiaan yang tertib, santun dan beradab. Sebab sedari awal ia mentautkan sebuah keyakinan inklusif bahwa sikap menghargai orang lain relasi simboliknya sama dengan menghargai dirinya sendiri. Bagaimana orang lain menghargai diri kita, tergantung kepada bagaimana aing menghargai orang lain.Kaaingan bukan mengalirkan terbentuknya watak anomali individualis, tapi justru menjadi jangkar tegaknya individu yang otentik. Dimana salah satu alamat otentisitas ini diacukan kepada kepribadian dengan sebuah “kesadaran” ketuhanan (transendensi), kemanusiaan (humanisasi) dan pembebasan (liberasi).Membaca kaainganMembaca kaaingan sesungguhnya adalah membaca kebijakan yang bersifat universal walaupun acapkali terlupakan. Dalam literasi Tao Te Ching misalnya, “Siapa pun yang mengenal orang lain, maka dia adalah bijaksana; siapa pun mengenal dirinya sendiri maka dia memperoleh terang.”Dalam tradisi lain, kesadaran kaaingan itu biasanya dimetaforkan dengan kesadaran eskatologi. Kesadaran akan kematian. Kematian bukan sebagai media yang membuat hidup menjadi pasif tapi ingatan akan perayaan hidup yang sadar diri, yang penuh tanggungjawab. Dalam khazanah spiritualisme Jepang disebutkan, “Siapa pun yang mengenal kematian, dia mengenal hidup, dan siapa pun yang melalaikan kematian dia melalaikan hidup.” Pemikir besar Andre Malraux seperti dikutip Louis Leahy (1995) menyatakan hal yang sama:“Bahwa memikirkan kematian, itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Pantas dirayakan hari di mana manusia untuk pertama kali membicarakan tema kematian, karena hari inilah yang menandai peralihan ke kematangan. Manusia baru lahir waktu dia, untuk pertama kali, berbisik di depan sesosok mayat, “Mengapa?”Absennya kaainganSayang kaaingan inilah yang punah dalam peradaban bangsa kita, absen dari serabut nalar kita. Seiring dengan absennya kaaingan ini maka kita seringkali larut dalam kerumunan massa yang tidak jelas orientasinya. Seandainya dibincangkan ideologi maka tak lebih adalah: pragmatisme kebendaan. Kesundaan hanya dijadikan sebagai politik legitimatif atas kehendak hasrat hedonistiknya.Akibat kaaingan yang hilang, budaya luar dengan mudah mengobrak-abrik budaya sendiri dan akhirnya terjadi hegemoni dalam pemaknaan Gramsci atau dalam kearifan lama disebut jati ka silih ku junti.Kaaingan yang punah kemudian menyisakan kejamaahan yang nyaris tak ubahnya buih di samudera: ke mana angin tertiup ke sana Ki Sunda (bangsa Indonesia) terdampar. Inilah yang dalam sosiologi disebut dengan anomalil. Kita menyebutnya dengan penyakit kultural gering nangtung ngalanglayung. Hirup teu neut paeh teu hos.***Sumber, Galamedia 8 Maret 2012

Mun aing suhud ka sirungTandaning lali ka beutiMun rada embat meueusanEling ka asaling jadiTangtu rumasa nyasamaItu aing ieu aingKaaingan adalah filsafat eksistensialisme khas Sunda dalam tafsir filsuf Haji Hasan Mustapa. Kesadaran tentang kaaingan bukan sekadar penting namun substansi dari penghayatan religiositas seseorang. Orang yang tidak sadar terhadap kaaingan bukan hanya kemungkinan tidak mengenal dirinya, lingkungannya bahkan juga tidak akan pernah paham terhadap Tuhannya.Karena pemahaman terhadap dirinya defisit, akhirnya menganggap yang tidak penting adalah penting. Kalangkang dianggap mataholang. Tidak memiliki skala prioritas. Terjadilah apa yang diformulasikan dalam kearifan Sunda sebagai cul dog-dog tinggal igel. Moro julang ngalepaskeun peusing:Nya basa wayang kalangkang/Tapi dalangna pribadi/Tara merangkeun kalangkang/Panglandi malik ka jisim/Nya wayang golek kulit/Ngawayang sacukupna prung/Ngucap henteu karasa/Tibalik buta kasari/Nu maksana nu enya henteu karasa/Absennya kesadaran seperti ini sejatinya adalah merupakan awal dari kehancuran dalam skala yang lebih luas: krisis ekologi, ketimpangan, robohya tata nilai dan akhirnya keadaan menjadi serba terbalik: Nyebut kalangkang ka raga//Nyebut raga ka rohani//Nu matak teu nelah-nelah//Nu matak teu ngarti-ngarti/Tertutupnya akses terhadap pengetahuan diri sesungguhnya yang merupakan muasal rontoknya harkat kemanusiaan, negara burakrakan dan kehidupan semakin tidak menemukan marwahnya. Dalam penggambaran Sayyed Hossen Nasr, “Dekadensi humanistik pada zaman modern ini adalah disebabkan manusia telah kehilangan pengetahuan langsung tentang diri keakuan yang senantiasa dimilikinya, karena ia tergantung kepada pengetahuan eksternal yang tidak langsung berhubungan dengan dirinya yaitu pengetahuan yang hendak dicarinya dari luar dirinya. Pengetahuan yang tidak mengandung kesadaran mengenai interioritas, mengenai aksis dan jari-jari lingkaran eksistensi yang senantiasa menghadang manusia dan menghubungkannya seperti seberkas sinar matahari kepada matahari Ilahiah”Tentu mengenal kaaingan sangat mudah untuk diucapkan, namun kita acapkali mengalami hambatan ketika itu hendak dijadikan bagian tak terpisahkan dari pengalaman kita. Karena dalam kaaingan mengandaikan sikap diri yang selalu pasrah dalam haluan kebeneran, kejujuran dan ketulusan. Mensyaratkan diri yang berani mempertanyakan perilaku menyimpang dan atau mempertawakan tindakan yang tak selayaknya dilakukan.Di sisi lain, keaingan juga mengharuskan untuk tidak pernah lelah mencari kesejatian, memosisikan iman sebagai kata kerja yang musti dibenturkan secara sosial dengan kehidupan nyata dan secara individual dengan renungan mendalam tentang hakikat diri, tentang purwadaksi, tentang eling sangkan paraning dumadi seperti ditulis Haji Hasan Mustapa:Di susul ka gunung suwung, ditungtik ka cai leungit, aing neangan jeung saha, aing deui aing deui, nelahkeun ngaran ka mana, napsiahing anu aing.Sadar akan kaaingan dalam konteks sosial akan menjadi pintu masuk untuk membangun kemanusiaan yang tertib, santun dan beradab. Sebab sedari awal ia mentautkan sebuah keyakinan inklusif bahwa sikap menghargai orang lain relasi simboliknya sama dengan menghargai dirinya sendiri. Bagaimana orang lain menghargai diri kita, tergantung kepada bagaimana aing menghargai orang lain.Kaaingan bukan mengalirkan terbentuknya watak anomali individualis, tapi justru menjadi jangkar tegaknya individu yang otentik. Dimana salah satu alamat otentisitas ini diacukan kepada kepribadian dengan sebuah “kesadaran” ketuhanan (transendensi), kemanusiaan (humanisasi) dan pembebasan (liberasi).Membaca kaainganMembaca kaaingan sesungguhnya adalah membaca kebijakan yang bersifat universal walaupun acapkali terlupakan. Dalam literasi Tao Te Ching misalnya, “Siapa pun yang mengenal orang lain, maka dia adalah bijaksana; siapa pun mengenal dirinya sendiri maka dia memperoleh terang.”Dalam tradisi lain, kesadaran kaaingan itu biasanya dimetaforkan dengan kesadaran eskatologi. Kesadaran akan kematian. Kematian bukan sebagai media yang membuat hidup menjadi pasif tapi ingatan akan perayaan hidup yang sadar diri, yang penuh tanggungjawab. Dalam khazanah spiritualisme Jepang disebutkan, “Siapa pun yang mengenal kematian, dia mengenal hidup, dan siapa pun yang melalaikan kematian dia melalaikan hidup.” Pemikir besar Andre Malraux seperti dikutip Louis Leahy (1995) menyatakan hal yang sama:“Bahwa memikirkan kematian, itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Pantas dirayakan hari di mana manusia untuk pertama kali membicarakan tema kematian, karena hari inilah yang menandai peralihan ke kematangan. Manusia baru lahir waktu dia, untuk pertama kali, berbisik di depan sesosok mayat, “Mengapa?”Absennya kaainganSayang kaaingan inilah yang punah dalam peradaban bangsa kita, absen dari serabut nalar kita. Seiring dengan absennya kaaingan ini maka kita seringkali larut dalam kerumunan massa yang tidak jelas orientasinya. Seandainya dibincangkan ideologi maka tak lebih adalah: pragmatisme kebendaan. Kesundaan hanya dijadikan sebagai politik legitimatif atas kehendak hasrat hedonistiknya.Akibat kaaingan yang hilang, budaya luar dengan mudah mengobrak-abrik budaya sendiri dan akhirnya terjadi hegemoni dalam pemaknaan Gramsci atau dalam kearifan lama disebut jati ka silih ku junti.Kaaingan yang punah kemudian menyisakan kejamaahan yang nyaris tak ubahnya buih di samudera: ke mana angin tertiup ke sana Ki Sunda (bangsa Indonesia) terdampar. Inilah yang dalam sosiologi disebut dengan anomalil. Kita menyebutnya dengan penyakit kultural gering nangtung ngalanglayung. Hirup teu neut paeh teu hos.***Sumber, Galamedia 8 Maret 2012

Mun aing suhud ka sirungTandaning lali ka beutiMun rada embat meueusanEling ka asaling jadiTangtu rumasa nyasamaItu aing ieu aingKaaingan adalah filsafat eksistensialisme khas Sunda dalam tafsir filsuf Haji Hasan Mustapa. Kesadaran tentang kaaingan bukan sekadar penting namun substansi dari penghayatan religiositas seseorang. Orang yang tidak sadar terhadap kaaingan bukan hanya kemungkinan tidak mengenal dirinya, lingkungannya bahkan juga tidak akan pernah paham terhadap Tuhannya.Karena pemahaman terhadap dirinya defisit, akhirnya menganggap yang tidak penting adalah penting. Kalangkang dianggap mataholang. Tidak memiliki skala prioritas. Terjadilah apa yang diformulasikan dalam kearifan Sunda sebagai cul dog-dog tinggal igel. Moro julang ngalepaskeun peusing:Nya basa wayang kalangkang/Tapi dalangna pribadi/Tara merangkeun kalangkang/Panglandi malik ka jisim/Nya wayang golek kulit/Ngawayang sacukupna prung/Ngucap henteu karasa/Tibalik buta kasari/Nu maksana nu enya henteu karasa/Absennya kesadaran seperti ini sejatinya adalah merupakan awal dari kehancuran dalam skala yang lebih luas: krisis ekologi, ketimpangan, robohya tata nilai dan akhirnya keadaan menjadi serba terbalik: Nyebut kalangkang ka raga//Nyebut raga ka rohani//Nu matak teu nelah-nelah//Nu matak teu ngarti-ngarti/Tertutupnya akses terhadap pengetahuan diri sesungguhnya yang merupakan muasal rontoknya harkat kemanusiaan, negara burakrakan dan kehidupan semakin tidak menemukan marwahnya. Dalam penggambaran Sayyed Hossen Nasr, “Dekadensi humanistik pada zaman modern ini adalah disebabkan manusia telah kehilangan pengetahuan langsung tentang diri keakuan yang senantiasa dimilikinya, karena ia tergantung kepada pengetahuan eksternal yang tidak langsung berhubungan dengan dirinya yaitu pengetahuan yang hendak dicarinya dari luar dirinya. Pengetahuan yang tidak mengandung kesadaran mengenai interioritas, mengenai aksis dan jari-jari lingkaran eksistensi yang senantiasa menghadang manusia dan menghubungkannya seperti seberkas sinar matahari kepada matahari Ilahiah”Tentu mengenal kaaingan sangat mudah untuk diucapkan, namun kita acapkali mengalami hambatan ketika itu hendak dijadikan bagian tak terpisahkan dari pengalaman kita. Karena dalam kaaingan mengandaikan sikap diri yang selalu pasrah dalam haluan kebeneran, kejujuran dan ketulusan. Mensyaratkan diri yang berani mempertanyakan perilaku menyimpang dan atau mempertawakan tindakan yang tak selayaknya dilakukan.Di sisi lain, keaingan juga mengharuskan untuk tidak pernah lelah mencari kesejatian, memosisikan iman sebagai kata kerja yang musti dibenturkan secara sosial dengan kehidupan nyata dan secara individual dengan renungan mendalam tentang hakikat diri, tentang purwadaksi, tentang eling sangkan paraning dumadi seperti ditulis Haji Hasan Mustapa:Di susul ka gunung suwung, ditungtik ka cai leungit, aing neangan jeung saha, aing deui aing deui, nelahkeun ngaran ka mana, napsiahing anu aing.Sadar akan kaaingan dalam konteks sosial akan menjadi pintu masuk untuk membangun kemanusiaan yang tertib, santun dan beradab. Sebab sedari awal ia mentautkan sebuah keyakinan inklusif bahwa sikap menghargai orang lain relasi simboliknya sama dengan menghargai dirinya sendiri. Bagaimana orang lain menghargai diri kita, tergantung kepada bagaimana aing menghargai orang lain.Kaaingan bukan mengalirkan terbentuknya watak anomali individualis, tapi justru menjadi jangkar tegaknya individu yang otentik. Dimana salah satu alamat otentisitas ini diacukan kepada kepribadian dengan sebuah “kesadaran” ketuhanan (transendensi), kemanusiaan (humanisasi) dan pembebasan (liberasi).Membaca kaainganMembaca kaaingan sesungguhnya adalah membaca kebijakan yang bersifat universal walaupun acapkali terlupakan. Dalam literasi Tao Te Ching misalnya, “Siapa pun yang mengenal orang lain, maka dia adalah bijaksana; siapa pun mengenal dirinya sendiri maka dia memperoleh terang.”Dalam tradisi lain, kesadaran kaaingan itu biasanya dimetaforkan dengan kesadaran eskatologi. Kesadaran akan kematian. Kematian bukan sebagai media yang membuat hidup menjadi pasif tapi ingatan akan perayaan hidup yang sadar diri, yang penuh tanggungjawab. Dalam khazanah spiritualisme Jepang disebutkan, “Siapa pun yang mengenal kematian, dia mengenal hidup, dan siapa pun yang melalaikan kematian dia melalaikan hidup.” Pemikir besar Andre Malraux seperti dikutip Louis Leahy (1995) menyatakan hal yang sama:“Bahwa memikirkan kematian, itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Pantas dirayakan hari di mana manusia untuk pertama kali membicarakan tema kematian, karena hari inilah yang menandai peralihan ke kematangan. Manusia baru lahir waktu dia, untuk pertama kali, berbisik di depan sesosok mayat, “Mengapa?”Absennya kaainganSayang kaaingan inilah yang punah dalam peradaban bangsa kita, absen dari serabut nalar kita. Seiring dengan absennya kaaingan ini maka kita seringkali larut dalam kerumunan massa yang tidak jelas orientasinya. Seandainya dibincangkan ideologi maka tak lebih adalah: pragmatisme kebendaan. Kesundaan hanya dijadikan sebagai politik legitimatif atas kehendak hasrat hedonistiknya.Akibat kaaingan yang hilang, budaya luar dengan mudah mengobrak-abrik budaya sendiri dan akhirnya terjadi hegemoni dalam pemaknaan Gramsci atau dalam kearifan lama disebut jati ka silih ku junti.Kaaingan yang punah kemudian menyisakan kejamaahan yang nyaris tak ubahnya buih di samudera: ke mana angin tertiup ke sana Ki Sunda (bangsa Indonesia) terdampar. Inilah yang dalam sosiologi disebut dengan anomalil. Kita menyebutnya dengan penyakit kultural gering nangtung ngalanglayung. Hirup teu neut paeh teu hos.***Sumber, Galamedia 8 Maret 2012

Mun aing suhud ka sirungTandaning lali ka beutiMun rada embat meueusanEling ka asaling jadiTangtu rumasa nyasamaItu aing ieu aingKaaingan adalah filsafat eksistensialisme khas Sunda dalam tafsir filsuf Haji Hasan Mustapa. Kesadaran tentang kaaingan bukan sekadar penting namun substansi dari penghayatan religiositas seseorang. Orang yang tidak sadar terhadap kaaingan bukan hanya kemungkinan tidak mengenal dirinya, lingkungannya bahkan juga tidak akan pernah paham terhadap Tuhannya.Karena pemahaman terhadap dirinya defisit, akhirnya menganggap yang tidak penting adalah penting. Kalangkang dianggap mataholang. Tidak memiliki skala prioritas. Terjadilah apa yang diformulasikan dalam kearifan Sunda sebagai cul dog-dog tinggal igel. Moro julang ngalepaskeun peusing:Nya basa wayang kalangkang/Tapi dalangna pribadi/Tara merangkeun kalangkang/Panglandi malik ka jisim/Nya wayang golek kulit/Ngawayang sacukupna prung/Ngucap henteu karasa/Tibalik buta kasari/Nu maksana nu enya henteu karasa/Absennya kesadaran seperti ini sejatinya adalah merupakan awal dari kehancuran dalam skala yang lebih luas: krisis ekologi, ketimpangan, robohya tata nilai dan akhirnya keadaan menjadi serba terbalik: Nyebut kalangkang ka raga//Nyebut raga ka rohani//Nu matak teu nelah-nelah//Nu matak teu ngarti-ngarti/Tertutupnya akses terhadap pengetahuan diri sesungguhnya yang merupakan muasal rontoknya harkat kemanusiaan, negara burakrakan dan kehidupan semakin tidak menemukan marwahnya. Dalam penggambaran Sayyed Hossen Nasr, “Dekadensi humanistik pada zaman modern ini adalah disebabkan manusia telah kehilangan pengetahuan langsung tentang diri keakuan yang senantiasa dimilikinya, karena ia tergantung kepada pengetahuan eksternal yang tidak langsung berhubungan dengan dirinya yaitu pengetahuan yang hendak dicarinya dari luar dirinya. Pengetahuan yang tidak mengandung kesadaran mengenai interioritas, mengenai aksis dan jari-jari lingkaran eksistensi yang senantiasa menghadang manusia dan menghubungkannya seperti seberkas sinar matahari kepada matahari Ilahiah”Tentu mengenal kaaingan sangat mudah untuk diucapkan, namun kita acapkali mengalami hambatan ketika itu hendak dijadikan bagian tak terpisahkan dari pengalaman kita. Karena dalam kaaingan mengandaikan sikap diri yang selalu pasrah dalam haluan kebeneran, kejujuran dan ketulusan. Mensyaratkan diri yang berani mempertanyakan perilaku menyimpang dan atau mempertawakan tindakan yang tak selayaknya dilakukan.Di sisi lain, keaingan juga mengharuskan untuk tidak pernah lelah mencari kesejatian, memosisikan iman sebagai kata kerja yang musti dibenturkan secara sosial dengan kehidupan nyata dan secara individual dengan renungan mendalam tentang hakikat diri, tentang purwadaksi, tentang eling sangkan paraning dumadi seperti ditulis Haji Hasan Mustapa:Di susul ka gunung suwung, ditungtik ka cai leungit, aing neangan jeung saha, aing deui aing deui, nelahkeun ngaran ka mana, napsiahing anu aing.Sadar akan kaaingan dalam konteks sosial akan menjadi pintu masuk untuk membangun kemanusiaan yang tertib, santun dan beradab. Sebab sedari awal ia mentautkan sebuah keyakinan inklusif bahwa sikap menghargai orang lain relasi simboliknya sama dengan menghargai dirinya sendiri. Bagaimana orang lain menghargai diri kita, tergantung kepada bagaimana aing menghargai orang lain.Kaaingan bukan mengalirkan terbentuknya watak anomali individualis, tapi justru menjadi jangkar tegaknya individu yang otentik. Dimana salah satu alamat otentisitas ini diacukan kepada kepribadian dengan sebuah “kesadaran” ketuhanan (transendensi), kemanusiaan (humanisasi) dan pembebasan (liberasi).Membaca kaainganMembaca kaaingan sesungguhnya adalah membaca kebijakan yang bersifat universal walaupun acapkali terlupakan. Dalam literasi Tao Te Ching misalnya, “Siapa pun yang mengenal orang lain, maka dia adalah bijaksana; siapa pun mengenal dirinya sendiri maka dia memperoleh terang.”Dalam tradisi lain, kesadaran kaaingan itu biasanya dimetaforkan dengan kesadaran eskatologi. Kesadaran akan kematian. Kematian bukan sebagai media yang membuat hidup menjadi pasif tapi ingatan akan perayaan hidup yang sadar diri, yang penuh tanggungjawab. Dalam khazanah spiritualisme Jepang disebutkan, “Siapa pun yang mengenal kematian, dia mengenal hidup, dan siapa pun yang melalaikan kematian dia melalaikan hidup.” Pemikir besar Andre Malraux seperti dikutip Louis Leahy (1995) menyatakan hal yang sama:“Bahwa memikirkan kematian, itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Pantas dirayakan hari di mana manusia untuk pertama kali membicarakan tema kematian, karena hari inilah yang menandai peralihan ke kematangan. Manusia baru lahir waktu dia, untuk pertama kali, berbisik di depan sesosok mayat, “Mengapa?”Absennya kaainganSayang kaaingan inilah yang punah dalam peradaban bangsa kita, absen dari serabut nalar kita. Seiring dengan absennya kaaingan ini maka kita seringkali larut dalam kerumunan massa yang tidak jelas orientasinya. Seandainya dibincangkan ideologi maka tak lebih adalah: pragmatisme kebendaan. Kesundaan hanya dijadikan sebagai politik legitimatif atas kehendak hasrat hedonistiknya.Akibat kaaingan yang hilang, budaya luar dengan mudah mengobrak-abrik budaya sendiri dan akhirnya terjadi hegemoni dalam pemaknaan Gramsci atau dalam kearifan lama disebut jati ka silih ku junti.Kaaingan yang punah kemudian menyisakan kejamaahan yang nyaris tak ubahnya buih di samudera: ke mana angin tertiup ke sana Ki Sunda (bangsa Indonesia) terdampar. Inilah yang dalam sosiologi disebut dengan anomalil. Kita menyebutnya dengan penyakit kultural gering nangtung ngalanglayung. Hirup teu neut paeh teu hos.***Sumber, Galamedia 8 Maret 2012

Mun aing suhud ka sirungTandaning lali ka beutiMun rada embat meueusanEling ka asaling jadiTangtu rumasa nyasamaItu aing ieu aingKaaingan adalah filsafat eksistensialisme khas Sunda dalam tafsir filsuf Haji Hasan Mustapa. Kesadaran tentang kaaingan bukan sekadar penting namun substansi dari penghayatan religiositas seseorang. Orang yang tidak sadar terhadap kaaingan bukan hanya kemungkinan tidak mengenal dirinya, lingkungannya bahkan juga tidak akan pernah paham terhadap Tuhannya.Karena pemahaman terhadap dirinya defisit, akhirnya menganggap yang tidak penting adalah penting. Kalangkang dianggap mataholang. Tidak memiliki skala prioritas. Terjadilah apa yang diformulasikan dalam kearifan Sunda sebagai cul dog-dog tinggal igel. Moro julang ngalepaskeun peusing:Nya basa wayang kalangkang/Tapi dalangna pribadi/Tara merangkeun kalangkang/Panglandi malik ka jisim/Nya wayang golek kulit/Ngawayang sacukupna prung/Ngucap henteu karasa/Tibalik buta kasari/Nu maksana nu enya henteu karasa/Absennya kesadaran seperti ini sejatinya adalah merupakan awal dari kehancuran dalam skala yang lebih luas: krisis ekologi, ketimpangan, robohya tata nilai dan akhirnya keadaan menjadi serba terbalik: Nyebut kalangkang ka raga//Nyebut raga ka rohani//Nu matak teu nelah-nelah//Nu matak teu ngarti-ngarti/Tertutupnya akses terhadap pengetahuan diri sesungguhnya yang merupakan muasal rontoknya harkat kemanusiaan, negara burakrakan dan kehidupan semakin tidak menemukan marwahnya. Dalam penggambaran Sayyed Hossen Nasr, “Dekadensi humanistik pada zaman modern ini adalah disebabkan manusia telah kehilangan pengetahuan langsung tentang diri keakuan yang senantiasa dimilikinya, karena ia tergantung kepada pengetahuan eksternal yang tidak langsung berhubungan dengan dirinya yaitu pengetahuan yang hendak dicarinya dari luar dirinya. Pengetahuan yang tidak mengandung kesadaran mengenai interioritas, mengenai aksis dan jari-jari lingkaran eksistensi yang senantiasa menghadang manusia dan menghubungkannya seperti seberkas sinar matahari kepada matahari Ilahiah”Tentu mengenal kaaingan sangat mudah untuk diucapkan, namun kita acapkali mengalami hambatan ketika itu hendak dijadikan bagian tak terpisahkan dari pengalaman kita. Karena dalam kaaingan mengandaikan sikap diri yang selalu pasrah dalam haluan kebeneran, kejujuran dan ketulusan. Mensyaratkan diri yang berani mempertanyakan perilaku menyimpang dan atau mempertawakan tindakan yang tak selayaknya dilakukan.Di sisi lain, keaingan juga mengharuskan untuk tidak pernah lelah mencari kesejatian, memosisikan iman sebagai kata kerja yang musti dibenturkan secara sosial dengan kehidupan nyata dan secara individual dengan renungan mendalam tentang hakikat diri, tentang purwadaksi, tentang eling sangkan paraning dumadi seperti ditulis Haji Hasan Mustapa:Di susul ka gunung suwung, ditungtik ka cai leungit, aing neangan jeung saha, aing deui aing deui, nelahkeun ngaran ka mana, napsiahing anu aing.Sadar akan kaaingan dalam konteks sosial akan menjadi pintu masuk untuk membangun kemanusiaan yang tertib, santun dan beradab. Sebab sedari awal ia mentautkan sebuah keyakinan inklusif bahwa sikap menghargai orang lain relasi simboliknya sama dengan menghargai dirinya sendiri. Bagaimana orang lain menghargai diri kita, tergantung kepada bagaimana aing menghargai orang lain.Kaaingan bukan mengalirkan terbentuknya watak anomali individualis, tapi justru menjadi jangkar tegaknya individu yang otentik. Dimana salah satu alamat otentisitas ini diacukan kepada kepribadian dengan sebuah “kesadaran” ketuhanan (transendensi), kemanusiaan (humanisasi) dan pembebasan (liberasi).Membaca kaainganMembaca kaaingan sesungguhnya adalah membaca kebijakan yang bersifat universal walaupun acapkali terlupakan. Dalam literasi Tao Te Ching misalnya, “Siapa pun yang mengenal orang lain, maka dia adalah bijaksana; siapa pun mengenal dirinya sendiri maka dia memperoleh terang.”Dalam tradisi lain, kesadaran kaaingan itu biasanya dimetaforkan dengan kesadaran eskatologi. Kesadaran akan kematian. Kematian bukan sebagai media yang membuat hidup menjadi pasif tapi ingatan akan perayaan hidup yang sadar diri, yang penuh tanggungjawab. Dalam khazanah spiritualisme Jepang disebutkan, “Siapa pun yang mengenal kematian, dia mengenal hidup, dan siapa pun yang melalaikan kematian dia melalaikan hidup.” Pemikir besar Andre Malraux seperti dikutip Louis Leahy (1995) menyatakan hal yang sama:“Bahwa memikirkan kematian, itulah yang membuat manusia menjadi manusia. Pantas dirayakan hari di mana manusia untuk pertama kali membicarakan tema kematian, karena hari inilah yang menandai peralihan ke kematangan. Manusia baru lahir waktu dia, untuk pertama kali, berbisik di depan sesosok mayat, “Mengapa?”Absennya kaainganSayang kaaingan inilah yang punah dalam peradaban bangsa kita, absen dari serabut nalar kita. Seiring dengan absennya kaaingan ini maka kita seringkali larut dalam kerumunan massa yang tidak jelas orientasinya. Seandainya dibincangkan ideologi maka tak lebih adalah: pragmatisme kebendaan. Kesundaan hanya dijadikan sebagai politik legitimatif atas kehendak hasrat hedonistiknya.Akibat kaaingan yang hilang, budaya luar dengan mudah mengobrak-abrik budaya sendiri dan akhirnya terjadi hegemoni dalam pemaknaan Gramsci atau dalam kearifan lama disebut jati ka silih ku junti.Kaaingan yang punah kemudian menyisakan kejamaahan yang nyaris tak ubahnya buih di samudera: ke mana angin tertiup ke sana Ki Sunda (bangsa Indonesia) terdampar. Inilah yang dalam sosiologi disebut dengan anomalil. Kita menyebutnya dengan penyakit kultural gering nangtung ngalanglayung. Hirup teu neut paeh teu hos.***Sumber, Galamedia 8 Maret 2012