UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Menag Minta PTKIN Inovasi Hidupkan Kajian Keislaman di Kampus

Menteri Agama (Menag), Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, meminta civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk memikirkan inovasi yang dapat menghidupkan kembali kajian keislaman di kampus. Agar kajian keislaman kembali bergairah.

Permintaan itu disampaikan Menag saat membuka Peluncuran Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN) dan Ujian Masuk (UM) PTKIN tahun 2020, di Gedung HM Rasjidi, Thamrin, Jumat (20/12). Peluncuran ini juga dihadiri Dirjen Pendidikan Islam, Prof Kamaruddin Amin; Ketua Forum Rektor PTKIN, Prof Babun Suharto; dan Ketua Umum SPAN-UM PTKIN, Prof Mahmud.

Menag menyampaikan, kajian keislaman di kampus PTKIN berkempang pesat pada tahun 80-an. Sayangnya, tradisi keilmuan tersebut kini dirasakan mulai meredup.

“Saya meminta kepada semua pejabat terkait untuk turut memikirkan inovasi-inovasi yang perlu dilakukan. Agar PTKIN tidak hanya menyuburkan ilmu-ilmu umum, namun menghidupkan kajian strategis ilmu-ilmu keislaman sebagai korps keilmuan yang strategis,” ucapnya seperti keterangan resmi Al-Jamiah UIN Bandung, Sabtu (21/12).

Menag memang sangat mengapresiasi jumlah pendaftar PTKIN yang terus meningkat. Untuk jalur UM-PTKIN misalnya, sejak dibuka pertama kali pada 2010, pendaftar meningkat dari hanya 8.845 menjadi 157.039. Pendaftar SPAN pada 2017 sebanyak 82.005 siswa. Jumlah pendaftar naik lagi di 2018 dan 2019.

Namun, Menag melihat ada fakta yang kurang baik, karena minat mahasiswa pada bidang kajian keislaman terus menurun. “Islamic Studies peminatnya rendah. Ini menjadi keprihatian bersama, karena PTKIN awalnya dibangun sebagai wadah kajian ilmu keislaman,” jelasnya.

Kini, PTKIN terus berkembang dan banyak diminati masyarakat. Menag berharap agar civitas akademika PTKIN memikirkan agar kejian keislaman tidak pudar. “Ini juga concern saya,” tegasnya.

Dalam pandangan Menag, melemahnya rumpun ilmu keislaman di PTKIN karena kebanyakan mahasiswa yang ingin melanjutkan ke UIN, umumnya lemah dalam ilmu keislamannya. “Ini harus menjadi perhatian kita bersama, terutama kampus IAIN yang berniat menjadi UIN,” pungkasnya. [USU]

Sumber, Rakyat Merdeka Sabtu, 21 Desember 2019, 10:03 WIB