UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

MEMELIHARA AMALIAH TAQWA

KHUTBAH I’DUL FITRI 1433 H
FAIZAL PIKRI, SS.M.Ag.
Masjid Sunan Gunung Djati UIN SGD Bandung
MEMELIHARA AMALIAH TAQWA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته,

الحمد لله كثيراً، والله أكبر كبيراً وسبحان الله بكرة وأصيلاً. الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، وأشهد أن لا إله إلا الله وحدَه لا شريك له تعظيمًا لشأنه، وأشهد أنّ سيّدنا ونبيّنا محمّدًا عبده ورسوله الدّاعي إلى رضوانه، اللهمّ صلّ وسلّم وبارك عليه، وعلى آله وأصحابِه وإخوانه.
أمّا بعد: فيا أيّها المسلمون، أوصيكم ونفسي بتقوى الله جلّ وعلا فمن اتقاه حفظه في دنياه وأخراه.
واعلموا أن أصدق الحديث كلام الله ، وخير الهدي هدي نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.وعليكم بالجماعة فان يد الله مع الجماعة . قال عَزَّ وَجَلَّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجعَلْ لَكُم فُرقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُم سَيِّئَاتِكُم وَيَغفِرْ لَكُم وَاللهُ ذُو الفَضلِ العَظِيمِ اللهُ أَكبرُ اللهُ أَكبرُ، لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكبرُ، اللهُ أَكبرُ وَللهِ الحَمدُ

Ma’asyiral Mukminin Sidang idul fitri rahimakumullah

Tidak ada lagi kalam yang paling sempurna terawali keluar untuk membasahi bibir kita di pagi yang penuh kenikmatan dan kekhusuan selain ucapan yang akan mempertebal dan memperberat timbangan kebajikan kita diakhirat kelak yakni mengucap tahmid Alhamdulillah (segala puji bagi Allah SWT) dan sebuah kalimat yang apabila dilantunkan dalam satu alunan, maka Allah SWT akan membalas dengan sepuluh kebajikan dan mengangkat sepuluh derajat yakni bersahalawat kepada baginda uswah tauladan kita dan suri tauladan bagi seluruh ummat berperadaban yakni Nabi Muhammad, SAW.

Sidang idul fitri yang semoga dirahmati Allah, marilah kita meningkatkan kualitas taqwa kita dengan lebih mengikhlaskan segenap jiwa dan raga kita dalam bentuk aplikatif nilai-nilai ketaqwaan (input value) tertuang dalam bentuk tutur kata yang lembut, perprilaku dengan sopan dan santun, istiqomah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda Rasulullah SAW bersabda;
ليسَ مِنَّا مَنْ لمْ يرحَمْ صغيرَنا ويُوَقِّرْ كبيرَنَا ويَعْرِفْ لعَالِمِنَا حَقَّهُ (أخرجَهُ أحمدُ والطبرانيُّ)
“bukanlah termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua dan tidak mengenal hak orang alim.

Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamdu
Ma’asyiral Mukminin Sidang Idul fitri rahimakumullah

Gegap gempita gemuruh takbir dan tahlil membahana mendayu terdengar saling bersautan membesarkan asma Allah SWT, sejak terbenamnya sang surya menutup bulan ramadhan, bulan penuh barokah, rahmah, dan maghfirah Allah SWT, dimana didalamnya curahan kemuliaan telah diserap oleh segenap relung jiwa kaum muslimin di seluruh penjuru semesta ini. Lantunan takbir tersebut melahirkan kebahagiaan yang teramat sangat bagi segenap kaum muslimin baik bagi si kaya dan si miskin, kaum ningrat dan masyarakat sepi derajat. Begitupun kondisi yang terjadi pada diri si upik kecil si yatim-piatu, suara takbir yang membahana menambah rasa kegembiraan yang teramat sangat, terlebih mengetahui surya pagi telah menyingsing hari pertama di bulan syawal; Dengan bergegas ia mandi pagi dan melaksanakan sholat subuh hatinya penuh rasa gembira sehingga ia terlupa sejenak akan konsisi dirinya; selepas ia mengenakan pakaian seadanya dangan sedikit menegok ke jendela ia melihat cahaya matahari mulai membiaskan pandangan samar di pagi itu, sementara lantunan takbir dari lapangan yang akan digunakan pelaksanaan sholat Ied terus berngiang; ia pun bergegas pergi ke lapangan untuk melaksanakan shalat sunnah muakadah tersebut; sesampainya di lapangan kegembiran itupun terasa mencapai puncaknya tatkala melihat kaum muslimin dan muslimah telah berkumpul rapih dalam safnya masing-masing. Terlihat olehnya juga kegembiraan dalam raut-raut muka kaum muslimin yang duduk disampingnya. Rasa bahagia itu pun semakin terasa ketika ia melihat diarahnya ada anak kecil yang datang diaping kedua orang tuannya ia hadir dengan baju baru, celana baru, sepatu baru, bahkan mukena yang dikenakan anak sebayanya itu juga baru. Si upik pun tersenyum melihat keceriaan sebayanya itu, tetapi ketika ia memperhatikan dirinya sendiri tidak ada lagi baju baru, tidak ada lagi celana baru, dan tidak ada lagi sepatu merah baru, dan tatkala ia menengok ke samping kanan dan kirinya tidak ada lagi ayah-bunda yang tahun lalu masih mendampinginya; si upik pun baru sadar kembali bahwa ayah dan ibunya telah dipanggil lebih awal oleh yang Maha Kuasa Allah rabul alamin, ia pun segera berucap Allahummagfirlii waliwalidaya warrhamhuma kama rabbayani shogiro
Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamdu
Ma’asyiral Mukminin Sidang Idul fitri rahimakumullah

Kisah tadi hendaklah menjadi bahan renungan dan perhatian bagi kita sekalian betapa banyak orang-orang lemah yang bernasib seperti dalam kisah singkat tadi hadir di sekitar kita. Ramadhan yang telah kita lewati merupakan bulan latihan dan pendidikan (riyadhoh wa tarbiyyah) dalam pandangan al-Ghazali dan Bint Syati, di mana di dalamnya kita kaum muslimin dididik dan dilatih agar memiliki kepekaan terhadap kaum lemah sehingga selama bulan tersebut kita dirangsang untuk lebih optimal dalam hubungan baik dengan Allah (hablu minallah) dalam bentuk saum dan qiamu ramadhan dan dengan sesama manusia (hablu minannas) dalam bentuk cepat tanggap terhadap sesama, senang berderma dan tidak berprilaku kikir. Allah SWT berfirman;


فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)

serta menunaikan salah satu kewajiban di penghujung ramadhan dalam bentuk zakat fitrah. Seperti dalam hadist rasulullah SAW;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ . ” رواه أبو داود 1371 قال النووي : رَوَاهُ أَبُو دَاوُد مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ عَبَّاسٍ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Hadist di atas memberikan indikasi Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi yang melaksanakan saum dari prilaku yang sia-sia dan ucapan-ucapan yang tidak baik selama ramadhan dan juga sebagai bentuk pencukupan bagi kaum miskin, yang penunaiannya diharuskan sebelum didirikannya shalat Ied, karena apabila ditunaikan selepas pelaksanaan sholat Ied maka hanya bernilai shadaqah saja.

Hadist di atas pun menekankan secara syar’i bahwa penunaian zakat fitrah harus ditunaikan sebelum dilaksanakan shalat Ied karena tujuan utamannya adalah memberikan rasa bahagia bagi kaum miskin dan kaum marginal sehingga segenap duka dan nestapa sedikit terobati atas uluran tangan para muzaki.

Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamdu

Secara kebetulan hari kemenangan kita kali ini berdekatan dengan HUT RI yang ke-67, apabila ditinjau dari kaca mata sejarah kemerdekaan negeri kita terjadi pada hari jum’at, 17 Agustus 1945 dimana pada kala itu bertepatan dengan bulan ramadhan pula. HUT RI kali ini pun hampir persis kejadiannya seperti 67 tahun yang lalu yakni pada bulan ramadhan dan hari jum’at. Dari dua kemenangan ini kita bisa mengambil hikmah bahwasanya” kemenangan dari apapun bentuknya tidak akan tercapai kecuali harus dibarengi dengan pengorbanan”. Kemenangan dan kemerdekaan bukanlah semata-mata atas jerih payah kita sendiri, akan tetapi merupakan anugrah dari Allah SWT kepada kita. Kemenangan adalah nikmat, kemerdekaan Negara Indonesia adalah nikmat, diutusnya Nabi Muhammad adalah nikmat, hidayah Iman dan Islam adalah nikmat, Al-Qur’an adalah nikmat, berpuasa adalah nikmat, berbuka pun adalah nikmat, tawakal adalah nikmat, sabar adalah nikmat, istiqomah adalah nikmat, taqwa pun adalah nikmat dari Alloh SWT yang harus senantiasa kita syukuri.

Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamdu
Ma’asyiral Mukminin Sidang Idul fitri rahimakumullah

Kemenangan kita di hari yang fitri ini adalah kemenangan yang tidak hanya dinikmati dan dirayakan dalam bentuk pakaian baru, makan dan hidangan ketupat yang serba enak, berkumpul dengan sanak-saudara dan lain-lain, melainkan harus melahirkan semangat baru untuk mengaktualisasikan semangat- semangat ketaqwaan sebagai mana pepatah dari sayidina Ali bin Abi Thalib;

ليس العيد لمن لبس الجديد فان العيد لمن طاعته تزيد اليوم عيد وغدا عيد وبعد غد عيد وكل يوم لا نعصي الله فيه فهو عيد

Ied bukanlah bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, sesunggguhnya Ied adalah bagi siapa saja yang semakin bertambah ketaatannya. Hari ini adalah Ied, besok juga Ied, lusa juga Ied dan setiap hari kita tidak bermaksiat kepada Allah SWT adalah Ied.

Hari kemenangan yang diharapkan (output value) adalah fitrinya; dimana jiwa-jiwa yang telah disucikan Allah SWT melalui ramadhan menjelma menjadi diri-diri yang taqwa yaitu sikap yang terus mendorong diri dan jiwanya untuk berbuat kebajikan dan menolak segenap perbuatan buruk dan sia-sia, dan sikap tersebut terus terjaga sampai akhir hayatnya. Hal ini dikarenakan dengan jiwa yang taqwa maka kemaslahatan demi kemaslahatan dan pemecahan demi pemecahan berbagai prolematika hidup tidak disikapi dengan hawa nafsu melainkan atas hidayah Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan pembeda bagi kalian, menghapus kesalahan kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah memiliki kemuliaan yang agung.” (QS. Al-Anfal: 29).

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا﴿٢﴾وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

“…..Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah pasti Dia menjadikan untuknya jalan keluar (2). Dan memberinya rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka………..” (QS. At-Thalaq: 2-3).

Sementara ini ayuhal mukminun secara lahiriyah bangsa kita telah mendapatkan anugrah kemerdekaan yang telah dideklarasikan oleh founding father kita pada tahun 1945 lalu, akan tetapi penjajahan kemiskinan dan kebodohan masih membelenggu negeri kita tercinta ini. Kecintan dunia (hubu dunya) para pemimpin kita boleh jadi dan disinyalir menjadi penyebab tidak pernah terselesaikannya masalah ini, sehingga bertambah usia kemerdekaan negeri kita tidak diimbangi dengan terbebasnya pula dari belenggu kemiskinan dan kebodohan, maka bertaqwalah kepada Allah wahai para pemimpin negeri karena Rasulullah bersabda;

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا . فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Hampir tiba dimana umat-umat saling memanggil untuk melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap hidangannya. Salah seorang bertanya: apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Rasul menjwab: bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi kalian laksana buih dilautan dan sungguh Allah mencabut ketakutan dan kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Allah tanamkan di hati kalian al-wahn. Salah seorang bertanya: apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: cinta dunia dan membenci kematian (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Ditempat lain Rasulullah SAW bersabda dari Abu Said RA:
إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌُ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوْا الدَّنْيَا، وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (menyenangkan) dan Allah mengangkat kalian sebagai pimpinan di dunia. Maka Dia akan melihat apa yang kalian kerjakan. Maka bertaqwalah kalian dalam hal dunia dan bertaqwalah dalam hal wanita. Fitnah pertama yang menimpa Bani Israel adalah wanita.” (HR.Muslim).

Allahu akbar 3x wa lillahi al-hamdu
Ma’asyiral Mukminin Sidang idul fitri rahimakumullah

Akhirnya marilah kita jaga segenap nilai-nilai ketaqwaan yang telah kita timba selama ramadhan lalu dengan terus menjaga amaliah baik kita kedepan, lanjutkanlah selepas ramadhan ini dengan berpuasa enam hari ke depan agar mendapatkan pahala yang besar sebagaimana sabda Rasulullah SAW; Ù…ÙŽÙ† صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهرِ ” رَوَاهُ مُسلِمٌ وَغَيرُهُ berbuat baiklah dan maafkan atas kesalahan-kesalahan saudaramu serta tersenyumlah dihadapannya, perhatikanlah anak yatim dan orang-orang miskin, niscaya Allah SWT akan mengkayakan kita sekalian. Sebagai penghujung perhatikanlah sabda Nabi berikut ini insya Allah kita akan selamat dunia dan akhirat

إتَّقُوا الله وَصلُّوا خَمْسَكُمْ ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ ، وَأَدُّوا زَكاةَ أَمْوَالِكُمْ ، وَأَطِيعُوا أُمَرَاءكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ . ( رواه الترمذي(

”Bertaqwalah kalian kepada Allah, shalatlah yang lima waktu, puasalah di bulan kalian, tunaikan zakat harta kalian, dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian akan memasuki surga Tuhan kalian.” (Tirmidzi)

بارك الله لي ولكم ونفعني وإياكم بما فيه من الأياة و الذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم

الخطبة الثانية لعيد الفطر
الله أكبر ×٧ الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لاإله إلا الله والله أكبر ولله الحمد.
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَلَكَ الشُّكْرُ كُلُّهُ وَإِلَيْكَ يَرْجِعُ اْلأَمْرُ كُلُّهُ عَلاَ نِيتُهُ وَسِرُّهُ، فأهلٌ أَنْتَ أَنْ تُحْمَدَ، وَأَهْلٌ أَنْتَ أَنْ تُعبَدَ، وَأَنْتَ عَليَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. اللهم لَكَ الْحَمْدُ حَتَّي تَرْضَي، وَلَكَ الْحَمْدُ إِذاَ رَضِيْتَ وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضاَ
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله الدَّاعِي إِلَى رِضْواَنِهِ. اللهم صل على عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِناَ وَشَفِيْعِناَ وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أما بعد: فيا أيها الناس اتقواالله فِيْماَ أَمَرَ وَانْتَهَوْا فِيْماَ نَهَى وَزَجَر، وَاعْلَمُوْا أَنَّ الله أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بملائكته بقوله عَزَّ مِنْ قَائِل: إن الله وملائكته يصلون على النبي، ياأيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.
اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أنبيائك ورسلك وملائكتك المقربين، وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين المُهْدِيِّيْنَ: أبي بكر وعمر وعثمان و علي وعن بقية الصحابة والتابعين وتابعي التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين وَارْضَ عَناَّ مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الراَّحِمِيْنَ.
اللهم اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِماَتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَواَتِ ياَ قاَضِيَ الْحاَجاَتِ
اللهم انْصُرْ مَنْ نصر دِيْنَ مُحمدٍ واخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِيْنَهُ، اللهم انْصُرِ الإِسْلاَمَ والمسلمين وأَهْلِكِ الكَفَرَةَ والظالمين، اللهم اعْصِمْناَ وَاحْفَظْناَ مِنْ جَمِيْعِ الْفِتَنِ وَعاَفِناَ وَسَلِّمْناَ مِنَ الْبَلاَياَ وَالْمِحَنَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشاَءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّداَئِدَ ماَ ظَهَرَ مِنْهاَ وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هٰذاَ إِنْدُونيسية خاَصَةْ وَمِنْ بُلْداَنِ المسلمين عاَمَة ياَ ذاَالجلال والإكرام بِحُرْمة وَجْهِكَ الكريم أَعْطِنا صِحَّةً فِي التَّقْوَي وَطُولَ عُمْرٍ في حُسنِ عَمَلٍ وسعةِ رزقٍ ولا تُعَذّبنا عليه إنّك علي كل شيئ قدير
ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم
عباد الله إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون فاذكروا الله يذكركم واشكروه علي نعمه يزدكم واسألوه من فضله يعطكم ولذكر الله أعز وأكبر والله يعلم وأنتم لا تعلمون.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته