UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Membuka Surat-Surat Haji Hasan Mustapa

Tak diragukan lagi bahwa sosok Haji Hasan Mustapa (1852-1930) kini sudah semakin dikenal. Tidak saja karena namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Bandung, tetapi juga tampak dari pengakuan resmi pemerintah Indonesia yang sudah dua kali memberikan penghargaan padanya di bidang seni dan kebudayaan (1977 dan 2013).

Sejak Ajip Rosidi mempublikasikan karya-karya HHM sekitar tahun 1960-an, hingga kini sudah banyak sarjana yang menjadikan HHM sebagai bahan kajian. Bukan hanya sarjana dalam negeri, tetapi juga mancanegara seperti Malaysia dan Australia. Tepat kiranya ramalan HHM bahwa karya-karyanya kelak akan banyak yang memerlukan di penghujung abad dan ternyata terus berlanjut hingga sekarang.

Namun, dari sejumlah kajian tersebut, surat-surat pribadi HHM belum banyak mendapatkan perhatian. Surat-surat itu ditujukan pada figur kolonial, Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936). Seorang penasehat Belanda yang pernah tinggal di Jeddah dan Mekah (1884-1885), lalu menetap lama di Hindia Belanda (1886-1906).

Surat-surat HHM kepada Snouck umumnya ditulis dalam bahasa Arab. Kadang di beberapa bagian terdapat kutipan berbahasa Melayu, Sunda, Aceh atau Belanda. Selain itu, terdapat lampiran surat berbahasa Melayu seperti yang ditujukan pada bangsawan Aceh, buku kecil tentang etika bangsa jajahan, deskripsi tentang Keumala, Syair Perang dan surat-surat bangsawan Sunda lainnya salah satunya dari Muhamad Roesdi.

Semua surat-surat HHM kini masih disimpan di UB Leiden. Tidak diketahui nasib surat-surat balasan dari Snouck. Boleh jadi surat-surat balasan itu sudah hilang, sebagaimana nasib surat-surat Snouck pada istri dan anak-anaknya di Priangan yang hilang selama tahun-tahun pertama Perang Dunia Kedua.

Van Koningsveld (1990) menyebutkan bahwa hampir setiap pekan HHM berkirim surat kepada Snouck. HHM diakuinya menjadi saksi penting perubahan Aceh setelah kepergian Snouck dari Aceh ke Batavia. Ajip Rosidi (1998) menyatakan bahwa dengan ditemukannya surat-surat HHM diharapkan bisa mengungkap peranannya dalam mempengaruhi kebijakan kolonial Belanda di Aceh dan menggambarkan kedekatan dan kepribadiannya dari sisi yang lain. Ini tentunya juga bisa dijadikan bahan untuk mengkaji karya-karyanya.

Sedikitnya terdapat dua jenis naskah surat-surat Mustapa. Cod. Or. 18.097 berjumlah 43 surat (198 halaman ditambah 20 amplop). Ia berisi surat-surat yang ditulisnya saat menjadi Penghulu Besar di Kutaraja, Banda Aceh sekitar dua tahun sembilan bulan (1893-1895). Satu lagi, yaitu Cod. Or. 8952 berjumlah 18 surat (102 halaman ditambah 7 amplop) yang ditulis saat HHM menjabat Penghulu Besar Bandung (1895-1917) hingga masa pensiun. Surat terakhir ditulis tanggal 9 Agustus 1923. Penanggalan surat dalam naskah umumnya ditulis secara jelas dengan menggunakan penanggalan hijriyah dan masehi. Naskah tersebut, meskipun sudah diberi kode khusus, tetapi tidak tercantum dalam katalog manapun.

Nama HHM sebagai penulis naskah surat diketahui dari beberapa penanda khas, di antaranya: kop surat dan amplop yang secara jelas mencantumkan namanya, tanda tangannya; lampiran foto setengah badan, bentuk tulisan hingga bahasa Arab fushah yang digunakannya yang kadang cenderung “kesunda-sundaan.” Di beberapa bagian, ia sengaja menggunakan sejumlah bahasa Sunda yang mungkin dirasa sulit untuk diterjemah ke dalam bahasa Arab.

Surat-surat HHM sangat penting tidak saja melengkapi informasi kajian tentang kehidupan Snouck, tetapi juga bisa dijadikan bahan kajian ulang kehidupan, karya dan pemikiran HHM. Tak hanya mengenai kehidupan pribadi Snouck kepada sahabat sekaligus partner kolonialnya itu, tetapi juga informasi apapun terkait keperluan pribadi seperti kabar keluarga Snouck yang ditinggalkannya di Priangan, kiriman berbagai manuskrip ke Belanda dan informasi sosial-keagamaan di Hindia Belanda.

Biasanya pada bagian awal dan akhir surat-surat HHM didahului dan diakhiri doa, salam ucapan tahun baru atau hari raya, soal balasan surat dari Snouck, salam persaudaraan dan kabar tentang kesehatan HHM dan keluarga Snouck di Priangan dan menanyakan kesehatannya di Belanda. Keluarga Snouck yang dimaksud adalah empat anak dari mendiang istri pertamanya, yaitu Emah, Umar, Ibrahim dan Aminah beserta ibu angkatnya, Raden Ayu Lasmitakusuma yang tinggal di Ciamis, serta kabar istri keduanya, Siti Sadijah beserta anaknya, R. Jusuf, yang tinggal di Bandung. HHM juga memberi kabar tentang kondisi dirinya yang semakin tua dan kehidupan anak-anaknya, seperti Subki, Agam Ma’soem dan Soeleiman.

Dalam surat-suratnya, seringkali HHM menyebut Snouck sebagai saudara lama dan teman setia (al-akh al-qadim wa al-rafiq al-qawim). Ia berusaha mengungkapkan kesedihan dan penyesalan Snouck di Belanda. HHM memahami perasaan berat hati Snouck menghadapi situasi yang dihadapinya, hingga HHM menetes air matanya ketika membaca keinginan kuat Snouck untuk datang kembali ke Jawa. Sebuah keinginan yang bukan tanpa alasan bila mengingat keluarga dan sahabat yang ditinggalkannya jauh di Hindia Belanda.

Selain kabar pribadi, banyak informasi menarik lainnya yang disampaikan HHM terutama tentang kondisi sosial-budaya masyarakat Priangan pada awal abad ke-20. Informasi tersebut bisa dijadikan sebagai sumber kajian sejarah para sarjana yang berminat mempelajarinya lebih jauh. Berikut sebagian kabar penting tersebut: kabar merebaknya pakaian bergaya Eropa dan model memendekkan rambut hingga menjamurnya tukang cukur di bawah pohon, konversi nama-nama orang Sunda dari Sunda ke Arab, pendidikan Pribumi, pergantian para pejabat di Aceh dan Priangan, ulang tahun Kota Bandung ke-100, perkembangan tarekat, munculnya perselisihan antara Kaum Tua dan Kaum Muda, kemajuan masyarakat dalam berpendapat dan berorganisasi terkait pendirian Sarekat Islam dan Darma Loemakoe, keterlambatan hujan dan naiknya harga-harga, perubahan sejumlah aturan keagamaan oleh pemerintah kolonial, penurunan minat pada pendidikan agama, kabar tentang jemaah haji, permintaan kajian tentang adat-istiadat Sunda, dan masih banyak informasi lainnya.

Surat-surat HHM pada Snouck tidak saja mencerminkan hubungan erat antar individu yang sudah terbangun sedemikian lama, tetapi memperlihatkan kontribusi besar HHM dalam membentuk cara pandang kolonial terhadap bangsa jajahan. Sebuah korespondensi antara dua sahabat yang sangat dekat diliputi oleh beragam ungkapan kerinduan sebagai sahabat yang sudah dianggap sebagai saudara dekat. []

Jajang A Rohmana, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, Pikiran Rakyat 20 Maret 2017