UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Membangun Industri Berbasis Inovasi

PERSAINGAN usaha diiklim Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dipastikan semakin ketat. Sejalan dengan itu, industri-industri di Jawa Barat (Jabar) harus terus didorong melakukan berbagai inovasi sehingga mampu memenangkan persaingan tersebut. Inovasi bisnis untuk memenangkan persaingan usaha bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, baik sifatnya inovasi di rantai produksi maupun juga inovasi di rantai pemasaran (distribusi). Untuk memunculkan adanya inovasi-inovasi yang bisa dilakukan, sektor-sektor usaha harus banyak melihat/mencermati peta persaingan komoditas yang ada di pasar. Kondisi di iklim MEA, analisis tingkat persaingan tidak saja melihat kondisi eksis pola produksi dan pasar di dalam negeri, namun juga melihat kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di negara-negara ASEAN lainnya. Kepentingan membangun industri yang dinamis dalam inovasi merupakan bagian dari strategi transformasi ekonomi yang berdaya saing global. Meski kapasitas untuk melakukan inovasi yang simultan dilakukan oleh unit-unit usaha bisnis di Jabar maupun di Indonesia sudah jauh lebih baik, namun upaya untuk terus melakukan inovasi harus dilakukan.

Posisi hasil survei daya saing internasional (World Competitiveness Report 2015) atas sejumlah faktor-faktor yang menghambat perkembangan usaha di Indonesia, menempatkan indikator ketidakcukupan kapasitas inovasi di Indonesia sebagai faktor yang paling bontot (bawah). Artinya iklim inovasi dikita sudah relatif lebih baik, bisa dikatakan peluang melakukan inovasi sudah terbuka sangat lebar. Secara kasat mata kita bisa melihat itu dari komoditas-komoditas yang kita produksi (produk TPT, Alas Kaki, Kuliner, Animasi dan lain-lain), bahkan beberapa Kota di Jabar menyebut Kota mereka sebagai Kota Kreatif (Creative City). Pentingnya kreativitas (inovasi) dilakukan sejalan dengan adanya pergeseran-pergesaran yang mempengaruhi pola/pilihan konsumsi masyarakat. Pola konsumsi domestik saat ini mungkin saja hanya melihat manfaat primer dari sebuah komoditas yang dikonsumsi, tanpa melihat kadar inovasi yang melekat dalam suatu komoditas. Namun sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan banyak faktor lainnya yang mempengaruhi permintaan, itu bisa saja mengalami pergeseran.  Kalau sebelumnya dominasi konsumen domestik hanya melek harga dalam menentukan pilihan konsumsi komoditasnya, ke depan sangat yakin akan lebih banyak konsumen yang mulai akan menambahkan faktor kreativitas (inovasi) dalam pilihan konsumsi komoditasnya. Alhasil konsumen melihat sepatu bukan hanya harganya berapa, tetapi akan melihat bahannya, asesorisnya, modelnya, dan sebagainya, dimana pilihan-pilihan plus semacam itu sangat tergantung pada kadar inovasi.  

Adapun Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum-WEF, 2014) memaknai penilaian daya saing inovasi berdasarkan tujuh (7) katagori, yakni: kapasitas inovasi, kualitas institusi penelitian, besarnya anggaran untuk penelitian dan pengembangan, tingkat kolaborasi industri dan perguruan tinggi dalam melakukan penelitian dan pengembangan, pengadaan teknologi produk, ketersedian ilmuan, dan persentase jumlah paten. Melihat ke 7 indikator tersebut dalam publikasi World Competitiveness Report 2015 untuk Indonesia, 5 indikator sudah lebih baik pencapaiannya. Untuk pengandaan teknologi produk, kita bahkan berada di peringkat 13 dunia dari 144 negara yang disurvei WEF. Adapun 2 indikator inovasi yang masih harus mendapat perhatian serius adalah kualitas institusi yang melakukan penelitian (ranking 41 dari 144 negara) serta persentase jumlah paten. Persentase jumlah paten di Indonesia menuru hasil survei WEF berada di posisi 106, dari 144 negara yang diteliti oleh WEF. Untuk itu, melihat kondisi tersebut upaya kita memperbaiki/meningkatkan kualitas institusi penelitian kita masih harus menjadi prioritas, disamping masalah utama kesadaran kita untuk memperbanyak hasil-hasil penelitian yang dipatenkan.

Dilihat dari kebutuhan pengembangan inovasi (kreativitas), beberapa hal juga masih harus dilakukan, meski iklim inovasi yang dilakukan oleh unit-unit usaha bisnis dikita sudah lebih baik. Upaya-upaya tersebut meliputi perhatian mendalam terhadap tingkat kreativitas industri-industri  kita pada setiap rantai produksinya. Peningkatan kreativitas tidak hanya ditingkat produksi, namun juga harus dilakukan ditingkat rantai pemasaran komoditas yang kita produksi. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh sektor bisnis diharapkan dapat sejalan dengan langkah-langkah yang ditempuh pemerintah. Dukungan pemerintah bisa sangat komprehensif, diantaranya  menyangkut kebijakan makro strategi dan kebijakan tata ruang pengembangan kawasan industri kreatif. Hal-hal lain yang  lebih bersifat mikro sektor juga dapat dilakukan pemerintah sebagai bentuk stimulasi atau insentif bagi pengembangan industri kreatif, diantaranya menyiapkan rencana struktur dan pola pengembangan kawasan industri kreatif; rencana pengembangan pemasaran produk industri kreatif; rencana pengembangan teknologi dan desain produk industri kreatif; rencana pengembangan investasi (modal) dan daya dukung infrastruktur pendukung; rencana pengembangan industri kreatif berbasis efisiensi pemanfaatan sumber daya pendukung, dan sebagainya. Banyak hal bisa dilakukan, sejalan dengan peningkatan kadar inovasi/kreativitas. Pada prinsipnya, kolaborasi pemerintah dengan sektor bisnis dalam mendorong daya saing ekonomi berbasis kreativitas adalah kebutuhan saat ini dan ke depan. Untuk itu, usaha pengembangan industri kreatif di Jabar dan Kabupaten/Kota khususnya diharapkan dapat lebih terintegrasi, meliputi mulai dari perencanaan strategi, kebijakan, program dan kegiatan ekonomi berbasis pengembangan industri kreatif hingga dukungan terhadap pengembangan industri kreatif, pemasarannya hingga pengembangan investasi industri-industri yang memiliki kadar inovasi tinggi. Dukungan kebijakan Kabupaten/Kota bagi pengembangan industri kreatif dalam hal ini diharapkan sejalan dengan dengan kebutuhan sektor-sektor usaha kreatif, sehingga perspektif kebutuhan pengembangan industri kreatif dengan upaya optimalisasinya dapat sejalan. ***

HERRY SUTANTO, Pengurus ISEI Bandung Koordinator Jawa Barat, Dosen UIN SGD Bandung, dan Pengurus DPP IAEI

Sumber: Rubrik Bisnis & UKM Pikiran Rakyat