UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Membangun Habit Menulis

[www.uinsgd.ac.id] Ada persoalan dalam masyarakat kita bagaimana meningkatkan budaya tulis menulis. Faktornya, karena kita lebih suka dengan budaya oral. Di fakultas kita ini, oral menjadi hal yang harus menjadi kemampuan. Budaya tulis menulis juga harus mendapatkan perhatian secara serius. Habit menulis dipandang kurang di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Demikian dikatakan Wakil Dekan I Dr. Enjang AS, M.Si., M.Ag saat memberikan sambutan, mewakili Dekan Fakultas Dawah dan Komunikasi, pada Workshop Jurnal Internasional di Aula Fakultas, Kamis (26/11/2015).

Dalam workshop tersebut, Persoalan habit atau kebiasaan menulis dibahas secara gamblang oleh Ahmad Ali Nurdin, Penulis sekaligus sebagai reviewer jurnal internasional. Baginya, menulis itu harus menjadi kebutuhan yang dibiasakan. Sesuatu yang kita lakukan tanpa kita pikirkan. Namun, bagi Dosen FISIP UIN ini, selalu saja ada alasan untuk tidak menulis.

“Ketika tidak menulis karena tidak punya waktu, maka kita juga tidak akan menulis jika punya waktu. Karena ini persoalan habit. Karena kita tidak punya habit. Selalu ada alasan. Selalu ada alasan untuk tidak menulis,”ujarnya.

Berdasarkan pengalaman Ali, membangun habit sesuatu yang tidak mudah. Habit tidak bisa dibangun satu malam. Namun habit bisa diubah bahkan bisa mengubah masa depan dengan habit. “Tidak bisa mengganti atau mengubah masa depan tetapi kita bisa bisa mengubah habit. Habit berubah masa depan juga berubah,”tegasnya.

Bagi lulusan National University of Singapore tersebut, manusia bisa membangun habit. Habit juga bisa dipelajari. Namun memang kebiasaan baru tersebut susah diciptakan, sedangkan kebiasaan lama susah dilupakan. Namun bukan berarti habit tidak bisa diciptakan. Habit sesuatu yang dilakukan berulang-ulang. Jika sudah diulang-ulang bisa tercipta habit.

Lalu bagaimana habit tercipta?

Ali Nurdin mengungkapkan setidaknya membutuhkan 21 hari untuk menciptakan habit. Jika 21 sudah membiasakan menulis satu halaman insya Allah bisa kesananya. Namun menurutnya, ada juga yang mengatakan harus 6 minggu agar habit tercipta.

“Untuk menciptakan habit perlu perjuangan, perlu kesabaran, dan perlu pembiasaan,”tuturnya.

Terkait dengan persoalan budaya tulis menulis serupa denga yang disampaikan oleh Enjang AS, ini adalah persoalan kebiasaan. “Jadi menulis itu adalah persoalan habit. Seorang penulis adalah seorang yang sudah terbiasa menulis,”tegasnya.

Ia memberikan beberapa catatan bagaimana membangun habit: pertama, untuk membangun habit harus punya tujuan. Oleh karena itu sebelum memulai kebiasaan menulis harus menentukan terlebih dahulu tujuannya. Kedua, membuat rencana untuk mencapai tujuan itu. Ketiga, Konsisten dengan apa yang direncakan. Keempat, realisasikan dalam 6 minggu. Kelima, faham konsekuensinya jika habit tidak tercapai sehingga termotivasi. Keenam, Personality reward. Kedelapan, harus tahu bahwa yang mengubah habit itu adalah diri sendiri.

Memasuki gerbang kepenulisan dalam bidang jurnal, agar tercipta habit menulis ia memberikan kunci-kuncinya, yaitu: Pertama, Akademisi yang sukses adalah akademisi yang menulis. Kedua, sibukan dengan menulis, apa saja. Ketiga, Tidak menunggu inspirasi. Keempat, menulis harus menyendiri hanya mitos. Kelima, anggap tulisan yang ditolak adalah hal yang biasa. Keenam, menulis harus punya passion, bukan karena untuk menaikan pangkat.  Kalo passionnya menulis pasti bisa. Ketujuh, Buat Kalender.

Bagi penulis tetap di salah satu harian nasional Singapura ini, saat selesai menulis jurnal, seorang penulis harus menurunkan egonya dan berbagi tulisan dengan siapapun; profesor, teman sejawat, atau dengan yunior, tidak harus dengan seorang ahli untuk meminta masukan. ***[humas]