UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Membaca Hubungan Indonesia-Timur Tengah

Ketika menulis The New World of Islam, Lothrop Stoddard tidak banyak menyinggung dinamika kebangkitan Islam di Indonesia. Padahal saat itu tengah berlangsung subuah kebangkitan Islam di kepulauan yang berpenduduk mayoritas Muslim ini dengan sangat menakjubkan. Karena kekagumannya pada karya Stoddard ini, Presiden Soekarno memerintahkan Muljadi Djojomartono selaku Menko Kesejahteraan saat itu untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sekaligus menambahkan satu bab khusus tentang Kebangkitan Dunia Baru Islam di Indonesia.

Lalu diterjemahkanlah ke dalam bahasa Indonesia dengan penambahan satu bab khusus sesuai pesanan dimaksud. Buku itu sengaja disebarluaskan dengan harapan dapat menjadi spirit kebangkitan Islam di Indonesia seperti yang terjadi di  belahan dunia yang lain seperti di Turki, Mesir, Pakistan, dan di beberapa belahan dunia lainnya yang secara keseluruhan tengah berlangsung gerakan membangun kesadaran nasionalisme yang tinggi serta gairah pembaruan berpikir yang sangat produktif.

Dalam konteks hubungan Indonesia-Timur Tengah, buku itu, dengan tambahan satu bab yang diletakkah di bagian akhir buku tersebut, terasa penting bukan saja karena menggambarkan dinamika kebangkitan Islam Indonesia yang sangat menakjubkan, tapi juga sekaligus memperlihatkan sebuah potret menarik tentang signifikansi Timur Tengah dalam gerakan kebangkitan Islam Indonesia. Timur Tengah dengan tokoh-tokoh Salafi yang sangat inspiratif saat itu telah banyak memberikan konstribusi berharga khususnya bagi kebangkitan Islam di Indonesia.

Pada titik inilah hubungan Indonesia-Timur Tengah menjadi sulit dipisahkan dengan alasan apapun, seolah telah diikat sejarah yang sangat sulit dinafikan. Dalam perbincangan gerakan pembaruan Islam di Indonesia yang salah satunya berimplikasi pada lahirnya Ormas-ormas Islam, misalnya, nama Haji Miskin yang pernah lama bermukim di Timur Tengah, hampir tidak mungkin ditinggalkan dari catatan sejarah yang menyertainya. Ia tercatat sebagai pelopor tumbuhnya gerakan-gerakan pembaruan untuk mewujudkan warna implementasi ajaran Islam di Indonesia.

Dalam beberapa catatan sejarah, disebut-sebut Haji Miskin bersama kawan-kawannya merupakan jembatan yang menghubungkan Indonesia-Timur Tengah. Sejak sekitar 1802, bersamaan dengan pulangnya Haji Miskin dari Mekkah, gerakan Salaf mulai masuk Indonesia. Pada awalnya mereka dikenal sebagai kaum Paderi hanya karena gaya berpakaiannya yang serba putih persis seperti apa yang biasa diperankan kaum Paderi. Mereka melakukan berbagai perombakan masyarakat secara radikal dan bahkan dalam banyak hal kerap melakukan kekerasan, sehingga konflik dengan pemerintahan Belanda pun tak lagi bisa dihindari.

Berangkat dari akar inilah, hubungan Indonesia-Timur Tengah memang tidak bisa diabaikan hanya karena persoalan-persoalan politik seperti kasus ISIS, ataupun hanya sekedar ketidakpuasan pelayanan ibadah haji. Hubungan antara keduanya memperlihatkan dinamika ideologis yang tidak sederhana. Di luar persoalan sejarah perkembangan kaum Salaf yang banyak diinspirasi Timur Tengah, sekurang-kurangnya saya dapat mencatat empat faktor yang tetap mengikat hubungan yang semakin kuat.

Pertama, Indonesia masih punya kepentingan dukungan pelaksanaan ibadah haji dan  umrah. Jamaah haji Indonesia tercatat merupakan jamaah terbanyak sesuai dengan komposisi penduduknya sebagai muslim terbanyak dibanding negara manapun di dunia. Meski pernah muncul gagasan pengelolaan haji dilaksanakan oleh sebuah konsorsium negara-negara berpenduduk muslim besar di dunia, Indonesia masih konsisten mempercayakan pengelolaan ibadah pada pemerintahan Arab Saudi.

Gagasan pengelolaan haji secara kolaboratif antar negara-negara berpenduduk muslim dunia memang pernah mucul dan bahkan mengundang kontroversi yang tidak sederhana. Indonesia sendiri tidak termasuk yang menyepakati gagasan tersebut, bukan saja karena akan rumitnya pengelolaan haji, tapi yang lebih penting lagi, menurut saya, justeru dalam rangka memelihara hubungan baik antara kedua negara dimaksud. Akhirnya gagasan itupun kandas dan pengelolaan haji tetap dilaksanaan Kerajaan Arab Saudi dengan raja sebagai ”pelayan” dua kota suci (khadim al-haramain).

Kedua, mata rantai sejarah pembaharuan Islam Indonesia, mulai dari posisi strategis komite Hijaz yang menjadi embrio kelahiran Nahdlatul Ulama, hingga peran sejumlah elit Ormas jebolan Timur Tengah. Hijaz sendiri adalah nama lain kota Mekkah pada saat itu. Dalam sejarahnya, komite Hijaz dibentuk untuk mengantisipasi gerakan kaum pembaharu yang saat itu nampak mendominasi utusan Indonesia untuk menghadiri undangan pertemuan kekhilafahan Islam di Mekkah.

Pertemuan yang diinisiasi Raja Abdul Aziz dari Dinasti Saudi tidak lama setelah penaklukan Mekkah itu memang secara khusus mengundang umat Islam di Jawa. Dalam kerangka persiapan memenuhi undangan inilah terjadi tarik-menarik antara kaum modernis dan tradisionalis. Meski tulisan ini tidak bermaksud mengomentari lebih jauh hubungan medornis-tradisionalis, tapi hal menarik untuk dicatat di sini adalah posisi penting umat Islam di Jawa dalam konteks kekuasaan raja di Arab Saudi. Dalam konteks inilah Komite Hijaz dibentuk yang kemudian menjadi organisasi besar Nahdlatul Ulama.

Di sisi lain, tumbuhnya organisasi-organisasi massa Islam yang diinisiasi kalangan modernis jauh sebelum kelahiran NU, juga tidak bisa dilepaskan dari napas Timur Tengah yang kuat menginspirasi lahirnya organisasi-organisasi dimaksud. Sejumlah tokoh yang menjadi inisiator kelahiran organisasi-organisasi tersebut seperti dicatat sejarah hampir selalu bersentuhan dengan semangat pembaruan yang terjadi di Timur Tengah yang menghadirkan para pemikir seperti Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridla, dan para pembaharu lainnya. Bahkan secara eksplisit nama-nama tersebut dicatat dalam salah satu mukaddimah anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya.

Ketiga, persentuhan kebutuhan ekonomi serta bantuan finansial dalam rangka pembangunan Indonesia. Secara historis bahkan tercatat telah terjadi kontak dagang antara Nusantara dengan Jazirah Arab sejak abad ke-2 Masehi. Keempat, sejarah Asia Afrika yang melibatkan negara-negara yang ada di Asia dan Afrika, juga tidak bisa menafikan kehadiran negara-negara di Timur Tengah.

Karena itu, sejarah yang hingga saat ini masih berlangsumg menunjukkan tidak sederhananya memutus hubungan Indonesia-Timur Tengah. Jadi, pada peta kontinuitas hubungan bilateral seperti inilah, konsistensi Indonesia dalam memelihara hubungan produktif dengan Timur Tengah hampir tidak mungkin diabaikan. 

Sumber: Pikiran Rakyat, Edisi Rabu 23 Desember 2015