UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Memaafkan

Dalam rangkaian proses interaksi kita dengan sesama baik dalam bertetangga, di lingkungan kerja maupun bermasyarakat, tidak hanya persetujuan dan kehangatan persahabatan yang dirasakan, kadang terjadi pula perbedaan pendapat dan pertengkaran. Amarah dan kebencian menguasai.  Hidup menjadi lelah dan susah karena dendam menyertai. Meminta maaf rasanya berat, memaafkan pun demikian halnya.

Padahal, sebagai seorang Muslim, Allah Swt mengingatkan bahwa memaafkan sangat mulia.  “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh” (QS Al-A’raf: 199). M Qurais Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyatakan bahwa makna dari ayat ini untuk melakukan suatu aktivitas atau menghiasi diri dengan sifat pemaaf.

Berat memang, apalagi bila tindakan orang lain kepada kita sangat menyakitkan, sering dilakukan dan tiada kata meminta maaf sekalipun meluncur dari mulutnya. Tapi Islam mendorong hambanya untuk menjadi pribadi mulia, untuk menjadi pemaaf tanpa batas. Pastikanlah hati selalu bersih, tanpa kebencian setitikpun. Ruang permaafan yang begitu luas, sehingga besaran kezaliman manusia kepada kita seolah tak ada artinya.

Hanya dengan latihan dan keinginan sungguh-sungguh yang dapat memandunya.  Menerimanya dengan tulus, tidak menuntut terlalu sempurna,  dan  selalu bersifat lembut, memaafkan kesalahan dan kekurangan sesama.

Namun mesti diingat, bahwa perintah memberi maaf  hanya untuk hal yang tidak berkaitan dengan ketentuan agama.  Mengapa, karena yang bertindak jahat pada kita itu mungkin saja bodoh (jahil). Dalam Tafsir Al-Misbah, M Qurais Shihab menyatakan istilah jahil dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna tidak tahu, tetapi juga dalam arti yang kehilangan kontrol dirinya sehingga melakukan hal-hal yang tidak wajar, baik atas dorongan nafsu, kepentingan sementara,  atau kepicikan pandangan. Istilah itu juga digunakan dalam arti mengabaikan nilai-nilai ajaran Ilahi.

Perhiasan mulia dalam jiwa itu salah satunya memaafkan dan selalu meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Itulah salah satu bekal agar kita menjadi ahli surga. Sebagaimana riwayat mashur yang menceritakan salah seorang sahabat yang disebut Rasulullah Saw sebagai ahli surga. Baginda Rasul menyebut itu berkali-kali. Saat bersama para sahabatnya di mesjid, Rasullah Saw berkata: “Sebentar lagi akan datang ahli surga.” Tidak lama datanglah seorang sahabat yang dimata para sahabat lain tidak ada istimewanya, biasa-biasa saja. Namun anehnya, keesokan harinya Rasulullah Saw menyatakan hal yang sama untuk orang tersebut. Sampai seorang sahabat penasaran dan ikut menginap di rumah sahabat yang disebut Rasulullah Saw sebagai ahli surga tersebut.

Tak ada yang istimewa, begitulah penilaian selama berada di rumah sahabat tersebut. Hingga malam ketiga, karena masih penasaran, diajukanlah pertanyaan. “Kepada kami, Rasullah menyebut kamu adalah ahli surga,  apakah rahasiahnya?” Tak ada jawaban yang istimewa, hanya saja diakhir jawaban itu disebutkan bahwa setiap malam menjelang tidur, sahabat itu selalu memohon ampun dan memberikan maaf kepada siapapun yang zalim kepadanya tanpa diminta sekalipun. Sehingga menjelang tidur, jiwanya bersih, tak ada sebercak kebencian pun yang tersisa.

Allah Swt  Maha Pemaaf dan Pengampun. Sebagai makhluq-Nya yang lemah, mengapa masih ada keengganan untuk meminta maaf dan  memaafkan? Jadilah pemaaf dan rayakanlah bahagia. Wallâhu’alam. []

Iu Rusliana, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, aktif di Mien R Uno Foundation Jakarta.

Sumber, Republika 24 April 2015.