UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Melindungi Anak Indonesia

Akhir-akhir ini, masyarakat dihadapkan pada peristiwa beruntun yang memilukan, nasib tragis yang dialami sejumlah anak Indonesia. Mereka menjadi korban kelalaian orang dewasa, kekejaman orangtua, bahkan kenakalan teman sebaya. 

Kisah sedih nasib anak memang menjadi fakta sejarah yang sulit disangkal; menggelinding dari jaman ke jaman. Kelucuan, kepolosan, dan ketidakberdayaan mereka acapkali menjadi bulan-bulanan orang dewasa. Namun, tahun-tahun ini tinta sejarah mencatat, anak tidak hanya menjadi korban, tetapi mereka pun dapat menjelma menjadi “pemangsa” yang dapat mengancam siapa saja; kadang orang dewasa pun dapat menjadi korban, termasuk anak sebayanya juga menjadi sasaran.

Ada apa dengan anak Indonesia? Padahal mereka tumpuan harapan bangsa di masa depan; pewaris tonggak sejarah; penerus perjuangan. Teori Tabularasa dari Aristoteles menyebutkan, ketika anak dilahirkan ibarat kertas putih bersih yang tanpa noda. Namun ketika mereka lahir ke dunia, mulailah tinta lingkungan menuliskan: mulai lingkungan orang tua, kerabat dan tetangga, sekolah, kampus, dan masyarakat, sehingga menjelmalah kertas yang bertuliskan kepribadian manusia.

Bahkah, Watson, Ilmuwan Behavioristik menegaskan, manusia itu ibarat robot, lingkunganlah yang mengatur dan mengendalikan. Namun J.J. Rousseau menambahkan, manusia merupakan mahluk baik, masyarakat yang membuat manusia jahat (mementingkan diri sendiri dan bersifat merusak), sehingga negara berfungsi untuk memungkinkan manusia mendapatkan kembali sifat kebaikannya yang asli.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, benarkah lingkungan Indonesia sudah tidak ramah lagi terhadap manusia, sehingga anak-anak yang seharusnya lucu, polos, dan imut-imut, berubah menjadi “pemangsa”. Yang biasanya sejarah mencatat mereka menjadi korban, malah menjadi pelaku? Atau Indonesia sebagai negara tidak mampu untuk menyelamatkan manusia dari pengaruh lingkungan yang buruk?

Salah satu faktor yang dominan di antara faktor lingkungan lainnya yang dapat mempengaruhi perilaku manusia pada era informasi ini adalah media massa. Tesis para ilmuwan komunikasi sudah menyimpulkan, media massa tidak ubahnya bagai pedang bermata dua: bisa menyatukan peradaban dunia dan bisa menjadi penghancur peradaban. Peranan media massa sangat besar dalam penyampaian informasi karena media massa mempunyai beberapa keunggulan, antara lain, media massa memiliki jangkauan luas dalam penyampaian pesan kepada khalayak dan memiliki pengaruh langsung dan segera terhadap penerima pesan. 

Media massa mempengaruhi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Media massa memang tidak dapat menentukan what to think, tetapi mempengaruhi what to think about. Dengan memilih berita tertentu dan mengabaikan yang lain, media massa membentuk citra atau gambaran dunia seperti yang disajikan media massa (Rakhmat, 1994). Globalisasi informasi, menurut Nina Syam (2002) telah menciutkan dunia dari besar (L) menjadi sedang (M) dan dari sedang menjadi kecil (S). Hal itu terjadi karena penggabungan antara teknologi komputer dengan komunikasi yang mendorong keunggulan dalam penyebarluasan informasi. 

Salah satu media massa yang disadari pengaruhnya sangat besar pada perilaku manusia, terutama anak-anak adalah televisi. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa televisi dengan kekuatan audio visualnya memberikan kontribusi besar pada perubahan perilaku anak-anak, baik perilaku positif maupun negatif. Hal itu sangat disadari oleh Pemerintah, sehingga salah satu substansi utama yang ada pada UU No. 32 Tahun 2012 tentang Penyiaran adalah perlindungan terhadap anak. Bahkan beberapa pasal awal pada UU tersebut pun bervisi menyelamatkan anak, seperti tujuan penyiaran yang di antaranya konsen pada terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Begitu juga terkait fungsi penyiaran, selain sebagai sarana penyebaran informasi, kontrol dan perekat sosial juga sebagai sarana pendidikan dan hiburan yang sehat. 

Dalam Pasal 36 tentang Isi Siaran, UU Penyiaran pun dengan tegas menyebutkan, isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran.

Implementasi dari UU Penyiaran terkait dengan perlindungan terhadap anak dijabarkan dalam Peraturan KPI No. 01/P/KPI/-3/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan No. 02/P/KPI/3/2012 tentang Standar Program Siaran (SPS). Kalau dicermati secara saksama, substansi pokok dari P3 SPS fokus pada penyelematan anak dari pengaruh negatif lembaga penyiaran. Mulai dari pelarangan dan pembatasan tayangan tindak kekerasan, adegan seks, minuman keras, rokok, dan horor/mistik. Semuanya konsen sebagai upaya melindungi anak dari pengaruh isi siaran yang dapat mendorong perilaku buruk.  

Dalam konteks ini, Pemerintah cukup peduli terhadap nasib anak, sehingga berbagai aspek, di antaranya isi siaran televisi pun menjadi bagian konsen untuk melindungi anak. KPI & KPID pun berperan sama, selain mengeluarkan P3 SPS, upaya pembinaan dan penjatuhan sanksi pun dilakukan. Tiap bulan, puluh sanksi dijatuhkan terhadap lembaga penyiaran, mulai teguran hingga penghentian program siaran. 

Lembaga Penyiaran pun banyak yang taat dan peduli, tetapi tidak sedikit juga yang tak bergeming, mereka tetap dalam kemanjaan kepentingan bisnis yang menggurita menjanjikan surga dunia. Merekalah yang harus kita sadarkan bersama; mereka harus paham, nasib anak Indonesia di “ujung tanduk”, sehingga semua pihak, termasuk lembaga penyiaran, harus bervisi, mari melindungi anak Indonesia.[]

Mahi M. Hikmat, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Koordinator Pengawas Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat.     

Sumber, Pikiran Rakyat 22 September 2015