UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Melampaui Kecemasan

Mungkin saja masyarakat kita tengah sakit, buta untuk bisa melampaui kecemasan yang tengah memuncak, mudah frutasi dan menganggap jalan pintas bunuh diri sebagai solusi. Sedih rasanya membaca berita bunuh diri saja dengan sengaja diuplod secara live di facebook. Bunuh diri pun kini tak lagi dipahami sebagai aib dan berdosa, tapi menjadi tontonan publik. Seperti yang disinyalir oleh Umberto Eco, bunuh diri kerap menjadi justifiksi atas krisis sosial, kemelaratan, ketidakadilan dan lenyapnya moral.

 Orientasi kehidupan yang sekedar pada kehidupan duniawi, jauh dari nilai-nilai agama, menjadikan masyarakat rapuh secara psikologis. Kalau mau jujur, sejak usia balita, stress sudah dirasa. Sedari subuh harus sudah bangun, bersiap sekolah di tempat yang jauh. Masih ngantuk, harus tertidur di motor atau mobil di tengah macetnya kota, menuju sekolah favorit pilihan orang tua. 

Masuk sekolah akrab dengan pekerjaan rumah. Tekanan orang tua untuk berprestasi, karena rangking satu di kelas adalah gengsi. Kadang muncul pertanyaan, yang sekolah itu orang tua atau anaknya? Di luar jam sekolah, harus bersiap dengan berbagai les dan kursus yang dipilihkan mamah dan papah. Maka hari-hari sibuk sudah terasa sejak usia sekolah dasar. Masuk perguruan tinggi, lulus jadi sarjana, pusing lagi mencari kerja. Apabila tidak punya uang, orang dekat dan pandai bergaul, susahlah mendapatkan pekerjaan impian. Padahal kerja adalah prestise, karena pertanyaan masyarakat tentang siapa kita akan dimulai dengan apa profesi atau pekerjaan kita.

 Sementara itu, agama hanya pengetahuan dan ritual harian, kurang membekas ke lubuk hati yang terdalam dan tumbuh sebagai kesadaran. Energi sabar dan ikhlas tak banyak dilatihkan, akibatnya rapuh ketika menghadapi gelombang besar ujian. Kesulitan hidup belum dipahami sebagai cara terindah naik kelas kehidupan kita oleh Tuhan.

Memang, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya bahagia. Laporan tahun 2016 yang diterbitkan oleh The Sustainable Development Solutions Network (SDSN), menjadi program PBB untuk mengukur tingkat kebahagiaan di dunia menyampaikan bahwa, Indonesia berada di peringkat ke 79 dari 157 negara di dunia. Enam variabel yang diukur adalah produk domestik bruto per kapita, harapan hidup, kebebasan memilih, kebebasan dari korupsi, kemurahan hati dan memiliki seseorang yang diandalkan. Masyarakat Denmark dalam laporan itu diperingkat paling bahagia, disusul Switzerland, Islandia, Norwegia dan Finlandia. 

Meraih Bahagia

Setiap manusia ingin bahagia, namun kadang tidak tahu tentang cara meraihnya. Setiap manusia merindukan cinta, namun salah kaprah tentang maknanya. Jalan pintas mencapai bahagia dipilih dengan hiburan, hura-hura dan poya-poya. Padahal bukannya mendekatkan, malah menjauhkan, menjadikan eksistensi diri semakin terasing (ter-alienasi).

Rumah, sekolah dan lingkungan harus membantu agar kesehatan mental terjaga. Abdul Aziz Ahyadi dalam bukunya berjudul Psikologi Agama, menyebutkan bahwa beberapa  prinsip kesehatan mental sebagai cara meraih bahagia. Enam belas prinsip ini menjadi ciri apakah kita sehat mental atau tidak.

Mereka yang sehat mentalnya akan seimbang kesehatan jasmani dan ruhaninya. Tak bisa dibedakan salahsatunya, kebutuhan fisik dan psikis harus terpenuhi dengan cukup. Ciri lainnya adalah adanya kesesuaian dengan kodratnya secara biologis, sosiopsikologis dan ruhaniah. Kodrat kewanitaan, kelelakian, anak-anak, remaja, dewasa, harus sesuai dengan kondisinya. Mengubahnya akan menjadikannya sakit. Dunia hiburan memberikan kita fakta, anak-anak terpaksa dewasa, kelak saat mereka remaja dan usia dewasa, kerap mengalami defresi dan bergelimang narkoba.

Selain itu, memiliki kontrol diri. Mereka yang mentalnya sehat akan mampu mengendalikan emosi, angan-angan, harapan dan fantasi. Realistis, mampu meredam amarah dan bersikap wajar.  Sehat mental itu butuh pengetahuan yang luas tentang diri sendiri. Siapa kita, siapa keluarga kita, apakah tugas kita di dunia, bagaimana menjadi manusia sejati, menjadi hamba Tuhan, menjadi pengetahuan wajib untuk dipahami sepenuh hati. 

Adanya penerimaan diri dan penilaiain yang realistis atas status dan harga dirinya. Kadang kita sulit menerima fakta tentang diri, rendah diri, kecewa, menyesal dan merasa terbuang. Akui apa adanya, tumbuhlah dengan penuh percaya diri dan yakinlah kualitas manusia itu tidak ditentukan status, harta dan jabatan, tapi oleh kebaikan, kemuliaan dan ketaatan kepada Tuhan. 

Dibandingkan meratapi nasib diri yang menyebabkan defresi, berusahalah untuk mengembangkan diri dan merealisasikannya dalam pergaulan. Sadari masih banyak komunitas dan orang-orang hebat yang rendah hati, mau berbagi dan membantu kita untuk bertumbuh dengan baik.

Berusahalah mengembangkan moralitas secara terus menerus. Pelihara kebiasaan yang baik dan belajarlah untuk mampu beradaptasi dengan baik.  Lebih dari itu, berusahalah agar tumbuh dengan baik, menjadi dewasa dalam berpikir, memutuskan sesuatu , sikap, emosi dan tingkah laku.  Kesehatan mental juga akan terjaga pada orang yang mampu belajar tentang bagaimana cara menyelsaikan konflik, frustasi dan ketegangan jiwa. Itu lah kebutuhan mendasar dalam membangun kesehatan mental secara personal. 

Secara sosial, bangunlah hubungan sosial yang sehat di keluarga.  Bekerjalah sesuai dengan hobi dan menyenangkan diri.   Bersikaplah realistis, menerima hal-hal yang objektif dan apa adanya. Lebih dari itu, jadikan setiap hari penuh dengan  makna bagi diri secara spiritual.  Sebagai umat beragama, pastikan kita taat beragama, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. 

Tentu saja semua kita pasti pernah mengalami masa-masa sulit, merasa hilang harga diri, tapi tak berarti harus bunuh diri. Seperti yang diingatkan oleh Jim Collins dan Morten T Hansen dalam bukunya berjudul Great By Choice, saat kita takut dan kelelahan, pilihan apa yang kita buat? Mencampakkan nilai yang kita anut dan kemudian menyerah? Janganlah bertindak demikian. Untuk diketahui, orang hebat sangat memperdulikan nilai sebagaimana mereka mementingkan kemenangan, mementingkan tujuan mulia seperti mereka meraih laba dan mementingkan untuk mulia sebagaimana mereka mementingkan untuk menjadi sukses. Karena itu, jangan pernah putus asa untuk mencapai bahagia, bersyukur dan menerima kehidupan apa adanya. Profesi, status, agama dan atribut sosial apapun, memiliki hak yang sama. 

Pada akhirnya, boleh jadi kita hanya mengendalikan secuil dari apa yang terjadi pada diri, namun manusia bebas memilih, bebas menjadi hebat karena pilihan sendiri. Menjadi bahagia adalah pilihan sadar, harus dengan disiplin dan cinta. F Scott Fitzgerald dalam bukunya The Crack-Up mengingatkan bahwa seseorang harus mampu menyadari bahwa keadaan begitu buruk, tapi dia bertekad untuk membalikan keadaan.  Teruslah berusaha melampaui kecemasan dan meraih kebahagiaan, sampai aliran darah dan helaan napas terakhir kehidupan. Wallaahu’alam.

Iu Rusliana, Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jabar, Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Bandung

Sumber, Pikiran Rakyat 23 Maret 2017