UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Mari Kita Rayakan Perbedaan & Keragaman dengan Cinta

[www.uinsgd.ac.id] Sekitar 200 orang mengikuti acara  Diskusi Panel  bertajuk “Sufisme dan Postmodernisme” yang diselenggarakan oleh  Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEM-J) Tasawuf Psikoterapi (Tapsi) Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung dengan menghadirkan narasumber; Jalaluddin Rakhmat, Muhtar Solihin dan M. Nursamad Kamba yang dipandu oleh Dian Siti Nurjanah di Aula Fakultas Ushuluddin, lantai IV, Senin (3/12).

Menurut Ramli, Ketua Pelaksana Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEM-J) Tasawuf Psikoterapi menjelaskan, “Acara diskusi panel yang diikuti oleh 200 orang dengan  narasumber; Jalaluddin Rakhmat, Muhtar Solihin dan Nursomad Kamba ini merupakan rangkaian dalam rangka Milad BEM-J Tasawuf Psikoterapi yang ke-14,” tegasnya. 

Meskipun serangkaian kegiatan telah dilaksanakan, diantaranya; pertemuan alumni, lomba Musabaqoh Tilawatil Quran, Catur, Kaligrafi, Futsal. Untuk perlombaan Cerpen dan puisi antar SMA se-Jawa Barat dengan memperebutkan piala; trophy, sertifikat, uang pembinaan, dan bingkisan dari sponsor akan diumumkan pada saat acara puncak “Tapsi Spiritual Week 2012″ yang aakn dilaksanakan pada hari Senin, 10 Desember 2012 pukul 14.00 WIB di Auditorium UIN SGD Bandung,” tuturnya.

Bagi Muhtar yang melihat Tasawuf dalam Dialektika Pemikiran Islam, “Untuk Sketsa Dialektika Pemikiran Islam paling tidak ada 5 kategori; Pertama, Ilmu Kalam, pada pioneer, dipicu politik, hegemoni keyakinan. Kedua, Filsafat Islam, yakni pergumulan dengan Filsafat Yunani. Ketiga, Fiqh atau Ushul Fiqh yang bersifat normatif. Keempat, Tasawuf yang mencakup etika, normatif, ortodoksi dan filosofi. Kelima, Bahasa adalah pergumulan budaya, hermeneutika,” paparnya.

Dalam perjalanya terjadi justifikasi dengan melahirkan dualisme, pPada Ilmu Kalam terjadi antara Iman atau kafir. Untuk Filsafat Islam berkenaan dengan logis atau tidak. Dalam Fiqh atau Ushul Fiqh selalu mempersoalkan syahatau tidak. Sedangkan di Tasawuf selalu memperbincangkan bermutu atau tidak. “Dari keempat kategori ini akan terus-menerus terjadi justifikasi dengan melahirkan dualisme,” tegasnya.

Ihwal kecenderungan metodologi pemikiran Islam; Dalam Ilmu Kalam dengan menggunakan wahyu (informatif) dan akal (konfirmatif), Filsafat Islam bersifat dengan menggunakan akal (informatif) dan wahyu (konfirmatif), Fiqh-Ushul Fiqh dengan menggunakan wahyu, akal empirik (Ekploratif Qiyasi), Tasawuf dengan menggunakan wahyu, akal, irfani (intuitif) dan Bahasa di dunia Islam dengan menggunakan gramatikal, ushul, empirikal.

Mengenai Islam yang harus terjadi perubahan dan berdialektika dengan isu-isu kontemporer melalui tasawuf.

Meskipun ada empat aliran dialektika pemikiran dalam dunia Islam global ini; Pertama, Tajdid, yakni pembaharuan  pemikiran dan cara pandang, Merumuskan suasana dialogis dan terbuka, dorongan lembaga politik dan tradisi. Kedua, Ijtihad, yakni membangun prinsip, kaedah hukum, Membangun alternatif fiqh yang kosmopolit, Memahami muhkam-mutasyabih, mutlaq-muqayyad. Ketiga, Purifikasi, yakni Pemurnian ideologi-Tauhid, Pembenahan adat-istiadat, meminimalisir praktek bid’ah kurafat, sekularisasi yang proporsional. Keempat, Futurisasi, yakni ayat Qur’an yang mencakup Grand Theory dan Midle range, Prediksi kedepan dengan mengutamakan Mistis-uthopis sama dengan ideologi menjadi “ilmu” ke depan.

Menurut Nursamad yang memfokuskan dari sisi tasawuf dan sufisme di era Postmodernitas menguraikan “Pemilihan judul ini sengaja menggunakan istilah era Postmodernitas yang mengindikasikan makna bahwa postmodernisme sesunguguhnya lebih memiliki sebuah era ketimbang dipandang sebagai aliran pemikirna atau mazhab filsafat,” ujarnya.

Bergandengannya era kapitalisme, modernisme yang menjadi alasan manusia untuk selalu terus berinovasi dan mengaktualisasikan diri. “Akibatnya menusia dengan mudah mengidentifikasi manusia lain hanya mellaui pakaian, maknan atau kendaraanya. Inilah yang menjadi kekerasan struktural sekaligus kultural,” keluhnya.  

Apa yang bisa ditawarkan sufisme dalam menjawab realitas kehidupan dewasa ini. “Sejak lahirnya tasawuf mencitrakan diri sebagai gerakan revolusioner dan pelurusan penghayatan kehidupan bergama. Ibnu Khaldun dalam muqaddimah melukiskan tasawuf sebagai gerakan kaum “elit” menjaga kemurnian agama,” paparnya.

“Oleh karena itu, dunia tasawuf tidak apa-apa dan siap bergandengan dengan era kapitalisme, modernisme dan postmodernisme karena bagi kaum sufi semua percikan-percikan pemikiran itu merupakan bagian dari makhluk Allah yang patut disyukuri,” optimis.

Di mata Kang Jalal menjelaskan, “Tasawuf itu orang yang berbicara dengan seluruh jantungnya. Kehadiran saya pada acara ini karena kerinduan saya terhadap Pa Nursamad, Pa Muhtar yang selalu berusaha mempelajari ilmu tasawuf, laduni dan sambil menangkap perjalanan untuk mengambil cahaya. Tentunya, cahaya di atas cahaya. Meskipun mengetahui undangan acara ini baru semalam karena suarat yang diberikan panitia seminggu sebelum acara tidak sampai kepada saya.”

Berkenaan dengan tema sufisme dan postmodernisme, kata Jalal “Kita harus mengetahui defenisi postmodernisme itu sendiri, postmodernisme itu tidak bisa didefinisikan. Pokoknya setiap orang mempunyai defenisi sendiri-sendiri. Sukar sekali dikendalikan yang tentunya membuat makna menjadi relatif. Dalam postmodernisme tidak ada kebenaran yang mutlak karena semuanya berdasarkan perspektif masing-masing.”

“Postmodernisme adalah karakter pada abad masa kini. Dan sufisme menjawab tantangan postmodernisme, sufi adalah seseorang yang melakukan perjalanan untuk mengenal Allah,” ujarnya.

Tasawuf ialah perjalanan untuk bertemu dengan wajah tuhan, dan seorang Sufi, bisa mengenal wajah tuhan hanya dengan mengenal Allah melalui sifat-sifatnya. “Kita mengenal Allah dengan cara harus mencintaiNya,” pesanya.

Pada dasarnya Tasawuf dimulai dengan cinta, “Dalam cinta tidak ada yang berlebihan dan sulit diungkapkan karena tasawuf bukanlah urusan pemikiran tapi urusan kenikmatan,” jelasnya.

“Untuk itu, mari kita rayakan segala perbedaan dan kergaman kita dengan cinta karena dengan cinta akan melahirkan dan mengakui keberadaan orang lain,” pungkasnya.***[Ibn Ghifarie]