UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Mahasiswa Harus Kreatif

[www.uinsgd.ac.id] Manusia keberadaanya akan diakui apabila memiliki kreatifitas. Karena itu, mahasiswa Aqidah Filsafat harus kreatif. Demikian arahan Ketua Jurusan  Aqidah Filsafat (AF), Muhlas, S.Ag., M.Hum  dalam acara Talk Show bertajuk “Tuhan, Kopi, Buku,  Baju” dengan menghadirkan narasumber;  Faridz Yusuf (alumni AF, Aleitheia TM), Wanda Rasid Husada (Komunitas Kopi Bahe), Muhammad Rais (Taman Bacaan Sophia) yang dipandu oleh Zaini Lutfi, Senin (6/5)

Muhlas pun mengingatkan kepada semua peserta talk Show yang terpenting itu adalah mengambil peran terbaik dan bermanfaat bagi sesama manusia. “Bagaimana kita memaknai, Tuhan, Kopi, Buku, Baju itu dengan cara mengambil peran, nilai-nilai dari sebuah ketuhanan yang maha sempurna untuk mengenali, menggali, segala potensi dan kreatifitas yang ada sehingga kita bermakna dan memiliki manfaat terhadap diri pribadi serta masyarakat sekitar,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Muhlas pun mengajak seluruh peserta untuk mengenali asma-asma Tuhan sebagai bentuk kecintaan kepada-Nya. “Dari nilai-nilai kreatif itu mari kita ambil segala nama atau asma-asma Tuhan untuk menciptakan nilai-nilai kemanusiaan supaya bisa membangun peradaban,” katanya.

Membaca dan Berdiskusi

Menurut Abdillah, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) AF menuturkan, idealnya mahasiswa harus rajin membaca dan berdiskusi. “Semangat itu pula yang coba disemaikan dalam acara Milad Aqidah Filsafat tahun ini. Sejumlah acara diskusi dan bazar buku dilakukan. Bedah buku “ Istri Tanpa Crulit” yang dibedah langsung oleh penulis bukunya, sastrawan muda Bode Riswandi.”

Selain Bode Riswandi, panitia juga menghadirkan pembanding, Dosen Aqidah Filsafat Neng Hannah, M.Ag. Neng Hannah juga dikenal sebagai aktivis kesetaraan jender.

 Acara bedah buku pun sangat meriah, karena banyaknya mahasiswa UIN bandung yang hadir. “Apalagi  diramaikan dengan bazar kaos Alitheia dan buku “Istri Tanpa Crulit”. Acara itu pun dimeriahkan dengan pembagian doorprize kepada para penanya,” pungkasnya.  [Ibn Ghifarie]