UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Mahasiswa harus Ciptakan Kreatifitas dalam Sinetron, Drama & Dongeng

[www.uinsgd.ac.id] Krisisnya program siaran televisi yang mengankat nilai-nilai moral, spiritual dan budaya dalam kemasan hiburan yang cerdas, mendorong  Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menggelar workshop dengan tema “Menciptakan Kreatifitas Siaran yang Mendidik dalam Sinetron, Drama dan Dongeng di Televisi dan Radio,” di aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung, Rabu (9/12/2015).

Komisioner Bidang Isi Siaran, Aep Wahyudi menjelaskan dalam workhsopnya bahwa menciptakan kreatifitas siaran harus sehat dan mendidik. media mainstream memiliki dampak yang sangat kuat bagi perilaku dan pola pikir seseorang. Bahkan, dampak tersebut bisa menimbulkan kesan yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik. kini, masyarakat sudah dapat kritis dan menilai sendiri bagaimana kondisi isi siaran yang terdapat pada kancah pertelevisian di Indonesia. “Bertaburnya sinetron yang ada, tidak sesuai dengan harapan publik. Akan tetapi ratingnya tinggi,” jelas Aep.

Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN SGD Bandung, Asep Saeful Muhtadi juga menyampaikan bahwa potret sinetron Indonesia yang sudah dipenuhi oleh kekerasan kata-kata atau pun tindakan ini dapat mempengarui sikap dan perilaku yang tidak baik bagi masyarakat. Seharusnya  isi siaran televisi tersebut disuguhkan dengan acara yang syarat akan makna dan menayangkan sajian yang edukatif.

“Menghasilkan tontonan yang mendidik itu bukan mengadakan acara yang eksklusif, akan tetapi bagaimana caranya agar program televisi dapat memasukan unsur pendidikan disetiap programnya,” ujar profesor yang akrab disapa Samuh tersebut.

Ia juga berpesan agar masyarakat melek akan media sehingga masyarakat dapat memilah dan memilih tayangan apa saja yang layak untuk ditonton. Selain itu juga, ia berharap bahwa sumber daya manusia yang bergerak di bidang penyiaran, terutama mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini dapat menghasilkan kreatifitas dalam dongeng.

“Kini, dongeng telah menjadi sinetron yang dapat menciptakan realitas angan-angan dalam kehidupan nyata. Film dan sinetron memiliki dampak yang kuat oleh karena itu, buatlah dongeng yang dapat menghidupkan imajinasi dan membentuk kepribadian seseorang yang baik,” lanjutnya.

Menurut salah satu peserta Ayu Holilawanti, acara workshop ini sangatlah bermanfaat. “Wrokshop yang diselenggarakan KPI-D ini penting untuk diketahui oleh masyarakat, sebab masyarakat harus tahu bagaimana menjadi penonton yang cerdas,” ujar mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam tersebut.[Desti Nopianti Priatna, Isthiqonita/Suaka]