UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Ma’had, Melestarikan Tradisi Pesantren

[www.uinsgd.ac.id] Syeikh Ma’had Al-Jami’ah, Dr.H. Badruzzaman M.Yunus, M.A berkeyakinan Ma’had Al-Jamiah itu tetap melestarikan tradisi Pesantren. “Perlu diketahui secara bersama bahwa Ma’had Al-Jami’ah itu tetap melestarikan tradisi Pesantren dalam hal belajar ikhlas dan mencari ilmu” ungkapnya saat prosesi Wisuda dan pemberian ijazah (Haflah Takhrij) dihadapan orang tua (wali) santri putri yang dilantik sebanyak 114 orang di Gedung Ma’had Al-Jami’ah, Sabtu (16/6)

Ia menjelaskan “Kedua tradisi itu sangat melakat di pengelola yang terus menerus mencoba belajar ikhlas dan santri yang terus berusaha belajar mencari ilmu. Kedua mental ini yang jarang dimiliki kita” tegasnya

“Mudah-mudahan dengan adanya acara ini bisa tetap menjaga sikap dan berusaha menularkannya kepada orang lain di mana pun kita berada. Untuk itu, selamat berpisah kepada santri Ma’had. Akan tetapi Ma’had akan terbuka bagi santri untuk menjaga silaturahmi,” pesannya

Dalam pesan dan kesannya, Eva Meidi Kulsum, Fakultas Adab dan Humaniora jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) berusaha untuk tetap istihomah untuk menjalankan segala amalan dan kebaikan yang telah ditanamkan dan diajarkan selama di Ma’had. “Mudah-mudahan kita berusaha istiqomah terhadap segala kebaikan, amalan dan perintah Tuhan yang telah dibiasakan di Ma’had” ujarnya

Dengan adanya bekal yang telah diajarkan “Semoga kita bisa hidup mandiri, bersaing di tengah-tengah kehidupan karena telah mendapatkan bekal ilmu dari kakak-kakak dan guru yang menjadi suritauladan bagi kami” tegasnya

Kehadiran orang tua atau wali santri menambah keceriaan, kebahagiaan acara Haflah Takhrij. Neni, salah satu orang tua santri asal Bekasi menuturkan “Mohon maaf bila selama anaknya tinggal dan belajar di Ma’had berbuat kehilafan dan sebagai orang tua saya mengucapkan terimakasih atas segala apa yang telah diberikan oleh pengelola kepada anaknya, sehingga bisa hidup mandiri dan menguasai bahasa, kitab. Mudah-mudahan menjadi amal kebaikan,” pungkasnya [Ibn Ghifarie]