UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kontribusi Ulama terhadap Bandoeng Tempo Doeloe

[www.uinsgd.ac.id] Dalam rangka Milad XXVII  Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEM-J) Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandung menggelar Seminar Bandoeng Temo Doeloe dengan menghadirkan pembicara: Moeflich Hasbullah (Dosen SPI FAH UIN SGD Bandung), Edi (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) Jawa Barat dan Raden Toyibin Wiranatakusuma (Keluarga Raden  Wiranatakusuma, Bupati Bandung) di Auditorium Utama UIN SGD Bandung, Kamis (25/4)

Menurut Moeflich yang melihat “Sejarah Islam di Negorij Bandoeng Tempo Doeloe” menjelaskan sejarah Bandung berada di bawah pengaruh empat kekuasaan yg silih berganti: Kerajaan Sunda, Sumedang Larang, Mataram dan Kolonial Belanda.

“Penamaan Bandung mulai dikenal dalam sejarah pada abad ke-17 pada masa Kerajaan Sunda Pajajaran. Dalam naskah Sadjarah Bandung, sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan “Tatar Ukur“ yaitu wilayah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Kerajaan Sunda-Pajajaran. Namun, sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Uku,” tuturnya.

Kuatnya pengaruh kekuasaan Mataram akhirnya menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian Barat terhadap kemungkinan serangan Pasukan Banten dan Kompeni yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan konflik dengan Kesultanan Banten.

“Kabupaten Bandung dibentuk oleh Kerajaan Mataram dan berada di bawah pengaruhnya hingga 1677, sejak itu kemudian jatuh ke tangan Kolonial Belanda hingga masa kemerdekaan. Wilayah yang masuk Negorij Bandoeng adalah Timbanganten, Cikambulan, Cipondo, Banjaran, Cimahi, Rajamandala, Nagara, Ciolokotot, Kopo, Cisondari, Rongga,  Cicalengka, Majalaya, Limbangan, Cipicung, Dangdeur, Bayangbang, Ciheya dan Ujungberung,” jelasnya.

Masuknya Islam ke Bandung melalui tiga pengaruh: Pertama, Dari Kesultanan Cirebon abad ke -16 ketika Sunan Gunung Djati mengislamkan Jawa Barat ke Priangan. Kedua, Dari pengaruh Mataram ketika menguasai kerajaan Sumedang Larang. Ketiga, Sebelah Barat dari Banten.

Jejak-jeka keislamanya bisa dilihat pada abad ke-17, ada nama Raden Haji Abdul Manaf yang juga dikenal Eyang Dalem Mahmud adalah seorang ulama di Bandung yang hidup diperkirakan antara tahun 1650–1725, meninggalkan makam ziarah kampung Mahmud di Cigondewah, Bandung Selatan.

Sedangkan pada abad ke-19, beberapa ulama Islam di Bandung yang terkenal dinataranya, “Raden Haji Mohammad Moesa (Hoofdpanghulu Limbangan), Haji Hasan Mustapa (Hoofdpanghulu Bandoeng), Haji Muhammad Sueb (Kalipah di Kaum Bandung).”

Mengenai tradisi keislaman yang hidup di Bandung tempo doeloe itu bisa dilihat dari nilai-nilai yang hidup dan dianut sebagai orang Sunda. “Bedug dan kohkol digunakan sebagai alat untuk memanggil orang shalat berjamaah karena belum ada speaker. Salametan atau syukuran hasil bumi atau panen sawah,” tegasnya.

Juga nilai-nilai keagamaan tampak pada ungkapan-ungkapan kearifan lokal yang bentuk larangan dan pamali seperti, “Jaman di imah betah ku rupa-rupa larangan, rupa-rupa bisi jeung pamali. Wanci magrib geula balik kai imah, bisi dirawu kelong wewe. Ulah dahar make cowet bisi kawin ka janda, mun gadis kawin ka aki-aki. Poho kuramas samemeh puasa, alamat indung tereh maot. Na ngahina, jiga jalma teu dipitrahan bae,” sambungnya.

Bagi Edi, mengingatkan kepada seluruh peserta Seminar yang terpenting pelajarang yang bisa kita ambil dari Bandoeng Tempo Doeloe bukan hanya menengokt kebelakang, tapi semangat itu harus ditanamkan pada kita supaya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. “Bagi kalangan akademiksi itu diharapkan mahasiswa dan lulusanya itu mampu memberikan kontribusi terdapat masyarakat dari apa yang diterimanya selama ini,” cetusnya.

Salah satu kontribusinya dalam bidang kebudayaan. “Aspek kebudayaan ini menjadi penting karena dalam kebudayaan sangat erat kaitanya dengan identitas suatu daerah. Hal ini bisa kita lihat dari segi visi dan misi Provinsi yang sangat memperhatiakn aspek kebudayaan,” sambungnya.

Salah satu kontribusinya dalam bidang kebudayaan. “Aspek kebudayaan ini menjadi penting karena dalam kebudayaan sangat erat kaitanya dengan identitas suatu daerah. Hal ini bisa kita lihat dari segi visi dan misi Provinsi yang sangat memperhatiakn aspek kebudayaan,” sambungnya.

Acara Seminar ini merupakan rangkaian dari Semarak Milad XXVII SPI yang bertajuk “Dulu, Kini dan Masa Depan” kata Wahyu Iryana, dosen SPI menuturkan, “Seminar Bandoeng Tempo Doeloe adalah rangkaika dari Milad SPI. Ada Bedah Buku Pa Moeflich, buku saya dan buku Pa Ajid, ada Bazar dan pameran buku, Pagelaran Budaya dan puncaknya adalah Temu Alumni SPI yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 27 April 2013 di Aula FAH. Seluruh alumni dari angkatan pertama sampai sekarang akan hadir,” pungkasnya. [Ibn Ghifarie]