UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kontribusi Pesantren terhadap Bangsa & Negara

[www.uinsgd.ac.id] Dalam rangka penutupan Aksi Kreativitas Akademi dan Budaya (AKRAB) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar, Orasi dan Festival Kebudayaan Seni-Budaya Pesantren bertajuk “Mengokohkan Identitas dan Memaksimalkan Kontribusi dalam Pembangunan Daya Saing Bangsa Pasca Dominasi Kebudayaan Barat” dengan menghadirkan narasumber: Dr. H. Asep Salahudin (Akademisi-Penggiat Budaya Pesantren Suryalaya Tasikmalaya), Dr. H. Fadlil Yani Ainusyamsi, MA (Akademisi-Penggiat Budaya Pesantren Darussalam Ciamis) di Aula Anwar Musaddad, Kamis (10/11). 

Acara seminar nasional yang diikuti sekitar 1.000 mahasiswa ini dibuka secara resmi oleh Dekan FAH, Dr. Setia Gumilar, M.Si. Dalam sambutannya Dekan FAH menjelaskan kegiatan seminar ini sebagai salah satu cara untuk pengembangan seni budaya Pesantren. “Sesuai dengan visi Fakultas yang ingin unggul dan kompetitif dalam kajian Adab dan Humaniora yang berbasiskan khazanah lokal. Acara ini digelar sebagai upaya mengangkat peran dan pengembangan seni budaya Pesantren yang masih dianggap kecil,” paparnya.

Upaya membedakan keberadaan Fakultas Adad dan Humaniora di lingkungan UIN, maka kajian khazanah lokal Sunda ini menjadi nilai kekhasanya. “Dengan berusaha mengedepankan kajian Adab dan Humaniora yang berbasiskan khazanah lokal bisa menjadi pembeda atau ciri khas dari FAH UIN SGD Bandung dengan Fakultas Adab lainya,” jelasnya.

Dalam konteks Jawa Barat kehadiran Pesantren dengan Fakultas Adab dan Humaniora ini harus memberikan kontribusi yang positif dalam pengembangan seni budaya Pesantren. “Mudah-mudahan dengan adanya seminar ini semakin mempertegas peran Fakultas Adab dalam mengembangkan seni budaya Pesantren, sehingga untuk mencari referensi kajian Pesantren di Jawa Barat ini tidak datang ke perguruan tinggi lain, melainkan datang ke Fakultas Adab dan Humaniora UIN SGD Bandung,” optimisnya. 

Kuatnya hubungan Islam dengan kearifan lokal ini menjadi modal utama untuk mempertegas identitas muslim Sunda. “Karena Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam. Mudah-mudahan dengan adanya hubungan yang harmoni ini menjadikan khasan Fakultas dalam mempertegas identitas budaya Islam Sunda melalui seni budaya Pesantren,” harapannya.

Menurut Asep Salahudin, kontribusi Pesantren terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara ini sangat kuat peranannya. “Melalui gerakan seni budaya inilah kontribusi Pesantren bagi bangsa dan negara dengan melihat perjuangan kyai, santri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Adanya perlawanan Cut Nyak Dien terhadap penjajah di Aceh, pemberontakan petani di Banten dan perjuangan K.H. Zainal Mustafa di Tasik ini mempertegas peran dan kontribusi Pesantren terhadap bangsa,” paparnya.   

Diakui Asep Salahudin peran pemerintah terhadap dunia Pesanten dalam mencerdaskan anak bangsa ini sangat minim. “Pemerintahan Jabar hanya mampu memberikan bantuan 100 juta untuk Pesantren, jika dibandingkan dengan peran pemerintah terhadap sekolah lain,” ujarnya

Salah satu cara untuk mempertegas peran Pesantren ini “dengan menghadirkan fertival seni budaya Pesantren, sehingga keberadaan Pesantren dengan seni budayanya tidak ditinggalkan akibat kuatnya pengaruh budaya lain. Ditambah lagi banyak kyai yang tampil di panggung politik praktis yang memperburuk citra Pesantren, sehingga banyak Pesantren yang gulung tikar akibat tidak ada kyai dan santrinya,” keluhnya. 

Mengenai hubungan sunda Islam dan Pesantren dengan seni budayanya itu “harus ditarik dalam satu napas, sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lain.Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama dalam mengembangkan seni budaya Pesantren ini,” terangnya.  

Bagi Fadlil Yani Ainusyamsi usaha memberikan kontribusi Pesantren di tengah-tengah kehidupan yang modern dan global ini. “Caranya melalui seni budaya. Selama ini cara dakwah kita hanya mengandalkan materi ceramah, khutbah yang terkesan monoton,” tegasnya.

Dengan memakai metode nada dan dakwah diharapkan dapat mempergetas peran Pesantren dalam menjawab tantangan zaman ini.”Mudah-mudahan dengan kita coba metode nada dan dakwah yang telah saya peraktekan di lingkungan Pesantren Darussalam ini dapat memberikan kontribusi Pesantren terhadap persoalan yang dihadapi,” jelasnya.

Selama ini keberadaan Pesantren itu identik dengan kelompok radikal, teroris dan ortodok. “Melalui cara inilah kita bisa menghadirkan Islam yang santun dengan Pesantren yang sangat menghargai seni budaya,” pesannya.

Acara Seminar, Orasi dan Festival Kebudayaan Seni-Budaya Pesantren ini kata Wakil Dekan III FAH, Dr. Dadan Rusmana, M.Ag menyatakan “Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian acara AKRAB yang dimuali dari tanggal 1 sampai 10 November 2016.Mudah-mudahan dengan adanya AKBAR sebagai acara tahunan ini dapat mempererat hubungan silaturahim antara keluarga besar Fakultas Adab dan Humaniora dan diharapkan bisa meningkatkan kualitas pembelajagan, SDM di lingkungan UIN SGD Bandung,” pungkasnya. [Humas Al-Jamiah]