UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Komunitas Anak Tangga, Ciptakan Budaya Diskusi, Membaca dan Menulis

[uinsgd.ac.id] Sebanyak 28 anggota Komunitas Anak Tangga terdiri dari mahasiswa semester 1, semester 3, dan semester 5 jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menghadiri peresmian Komunitas Anak Tangga di rumah makan Sukahati, Cinunuk, Minggu (18/12) sore. Acara ini diadakan bertujuan untuk menyusun dan memantapkan perjalanan Komunitas Anak Tangga kedepan, sekaligus menjadi ajang pengakraban diri dan lebih mendekatkan hubungan emosional antar anggota komunitas.“Komunitas anak tangga sudah berjalan selama dua bulan lebih tapi didalamnya belum ada kejelasan atau belum resmi, makanya diadakan acara launching ini supaya lebih jelas, kita punya berapa anggota, kedepan kita mau apa, mengetahui visi misi antar sesama anggota, jadi ini semacam pendekatan atau upaya konsolidasi,” jelas Indra Nugraha, ketua umum Komunitas Anak Tangga saat ditemui disaat peresmian komunitas.Komunitas Anak Tangga yang mulai aktif pada bulan September 2011 ini merupakan komunitas yang menjadikan diskusi sebagai hal pokok kegiatannya dan khusus bergerak di ranah kajian yang berkaitan tentang media. Kegiatan rutin yang dilakukan yaitu mengadakan diskusi dua kali dalam satu minggu yaitu hari Sabtu dan Senin.Komunitas ini hadir berawal dari kegelisahan beberapa mahasiswa yang setiap hari masuk kuliah dengan sistem pembelajaran yang mereka terima dirasa monoton dan membosankan. Untuk menumbuhkan kembali gairah mahasiswa yang konsen di bidang Jurnalistik serta ingin menciptakan budaya baru yaitu budaya tandingan, ingin mengubah iklim akademis UIN dengan diskusi, membaca dan menulis, maka dibentuklah perkumpulan independen yang dibentuk sendiri oleh para mahasiswa Jurnalistik dengan nama  Komunitas Anak Tangga.“Nama Anak Tangga ini merupakan filosofi komunitas, ini langkah pertama menuju tangga selanjutnya. Jadi, naik perlahan dari satu anak tangga ke anak tangga selanjutnya sampai pada akhirnya kita semua berada di tangga paling atas. Kira-kira seperti itu,” ucap Indra saat ditanya mengenai makna nama komunitas.Tanggapan positif datang dari Presiden Mahasiswa Himpunan Mahasiwa Jurnalistik periode 2011/2012, Septian, yang juga hadir di acara peresmian komunitas. Ia sangat mendukung eksistensi komunitas ini. Menurutnya, Komunitas Anak Tangga merupakan pengembangan yang bagus bagi jurusan Jurnalistik UIN SGD, dilihat dari kondisi kampus saat ini dan dilihat dari antusiasme para mahasiswanya“Kita semua harus mengembangkan komunitas yang ada. Meskipun Komunitas Anak Tangga ini berdiri independen, tidak berada dalam HMJ, tapi kan orang-orang didalamnya dari HMJ juga. HMJ dan komunitas harus saling mendukung serta menjalin kerjasama,” ujar Septian saat diwawancara.Meskipun terbilang komunitas baru, eksistensi Komunitas Anak Tangga di luar kampus sudah tidak diragukan lagi. Sejak didirikan pada bulan September kemarin, hingga hari ini komunitas Anak Tangga sudah sering bekerja sama dengan berbagai pihak-pihak luar kampus, beberapa diantaranya yaitu berdiskusi dengan Citizen reporter Iwan Pilliang, mengadakan Workshop Undang-undang keterbukaan publik bersama Bandung Youth Movement (BYM), serta diskusi bersama Salman ITB mengenai konvergensi media dan inspiring journalism.“Harapan saya ke depan, jalannya Komunitas Anak Tangga bisa konsisten, maju, berkembang, tidak  berhenti di tangga pertama. Rencana ke depan setelah peresmian ini kita bakal bikin media, antologi, bikin riset, buku, juga menambah kerjasama dengan berbagai lembaga, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI),” ujar Indra.“Kita pengen banget mendatangkan Andreas Harsono, karena belajar tentang journalism yang ideal saya rasa sangat tepat bersama Andreas Harsono. Doakan saja mudah-mudahan bisa cepat terwujud,” tambah Indra di akhir wawancara.[]Riska Amelia, Iqbal Tawakal-Magang/SUAKA

[uinsgd.ac.id] Sebanyak 28 anggota Komunitas Anak Tangga terdiri dari mahasiswa semester 1, semester 3, dan semester 5 jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menghadiri peresmian Komunitas Anak Tangga di rumah makan Sukahati, Cinunuk, Minggu (18/12) sore. Acara ini diadakan bertujuan untuk menyusun dan memantapkan perjalanan Komunitas Anak Tangga kedepan, sekaligus menjadi ajang pengakraban diri dan lebih mendekatkan hubungan emosional antar anggota komunitas.“Komunitas anak tangga sudah berjalan selama dua bulan lebih tapi didalamnya belum ada kejelasan atau belum resmi, makanya diadakan acara launching ini supaya lebih jelas, kita punya berapa anggota, kedepan kita mau apa, mengetahui visi misi antar sesama anggota, jadi ini semacam pendekatan atau upaya konsolidasi,” jelas Indra Nugraha, ketua umum Komunitas Anak Tangga saat ditemui disaat peresmian komunitas.Komunitas Anak Tangga yang mulai aktif pada bulan September 2011 ini merupakan komunitas yang menjadikan diskusi sebagai hal pokok kegiatannya dan khusus bergerak di ranah kajian yang berkaitan tentang media. Kegiatan rutin yang dilakukan yaitu mengadakan diskusi dua kali dalam satu minggu yaitu hari Sabtu dan Senin.Komunitas ini hadir berawal dari kegelisahan beberapa mahasiswa yang setiap hari masuk kuliah dengan sistem pembelajaran yang mereka terima dirasa monoton dan membosankan. Untuk menumbuhkan kembali gairah mahasiswa yang konsen di bidang Jurnalistik serta ingin menciptakan budaya baru yaitu budaya tandingan, ingin mengubah iklim akademis UIN dengan diskusi, membaca dan menulis, maka dibentuklah perkumpulan independen yang dibentuk sendiri oleh para mahasiswa Jurnalistik dengan nama  Komunitas Anak Tangga.“Nama Anak Tangga ini merupakan filosofi komunitas, ini langkah pertama menuju tangga selanjutnya. Jadi, naik perlahan dari satu anak tangga ke anak tangga selanjutnya sampai pada akhirnya kita semua berada di tangga paling atas. Kira-kira seperti itu,” ucap Indra saat ditanya mengenai makna nama komunitas.Tanggapan positif datang dari Presiden Mahasiswa Himpunan Mahasiwa Jurnalistik periode 2011/2012, Septian, yang juga hadir di acara peresmian komunitas. Ia sangat mendukung eksistensi komunitas ini. Menurutnya, Komunitas Anak Tangga merupakan pengembangan yang bagus bagi jurusan Jurnalistik UIN SGD, dilihat dari kondisi kampus saat ini dan dilihat dari antusiasme para mahasiswanya“Kita semua harus mengembangkan komunitas yang ada. Meskipun Komunitas Anak Tangga ini berdiri independen, tidak berada dalam HMJ, tapi kan orang-orang didalamnya dari HMJ juga. HMJ dan komunitas harus saling mendukung serta menjalin kerjasama,” ujar Septian saat diwawancara.Meskipun terbilang komunitas baru, eksistensi Komunitas Anak Tangga di luar kampus sudah tidak diragukan lagi. Sejak didirikan pada bulan September kemarin, hingga hari ini komunitas Anak Tangga sudah sering bekerja sama dengan berbagai pihak-pihak luar kampus, beberapa diantaranya yaitu berdiskusi dengan Citizen reporter Iwan Pilliang, mengadakan Workshop Undang-undang keterbukaan publik bersama Bandung Youth Movement (BYM), serta diskusi bersama Salman ITB mengenai konvergensi media dan inspiring journalism.“Harapan saya ke depan, jalannya Komunitas Anak Tangga bisa konsisten, maju, berkembang, tidak  berhenti di tangga pertama. Rencana ke depan setelah peresmian ini kita bakal bikin media, antologi, bikin riset, buku, juga menambah kerjasama dengan berbagai lembaga, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI),” ujar Indra.“Kita pengen banget mendatangkan Andreas Harsono, karena belajar tentang journalism yang ideal saya rasa sangat tepat bersama Andreas Harsono. Doakan saja mudah-mudahan bisa cepat terwujud,” tambah Indra di akhir wawancara.[]Riska Amelia, Iqbal Tawakal-Magang/SUAKA

[uinsgd.ac.id] Sebanyak 28 anggota Komunitas Anak Tangga terdiri dari mahasiswa semester 1, semester 3, dan semester 5 jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menghadiri peresmian Komunitas Anak Tangga di rumah makan Sukahati, Cinunuk, Minggu (18/12) sore. Acara ini diadakan bertujuan untuk menyusun dan memantapkan perjalanan Komunitas Anak Tangga kedepan, sekaligus menjadi ajang pengakraban diri dan lebih mendekatkan hubungan emosional antar anggota komunitas.“Komunitas anak tangga sudah berjalan selama dua bulan lebih tapi didalamnya belum ada kejelasan atau belum resmi, makanya diadakan acara launching ini supaya lebih jelas, kita punya berapa anggota, kedepan kita mau apa, mengetahui visi misi antar sesama anggota, jadi ini semacam pendekatan atau upaya konsolidasi,” jelas Indra Nugraha, ketua umum Komunitas Anak Tangga saat ditemui disaat peresmian komunitas.Komunitas Anak Tangga yang mulai aktif pada bulan September 2011 ini merupakan komunitas yang menjadikan diskusi sebagai hal pokok kegiatannya dan khusus bergerak di ranah kajian yang berkaitan tentang media. Kegiatan rutin yang dilakukan yaitu mengadakan diskusi dua kali dalam satu minggu yaitu hari Sabtu dan Senin.Komunitas ini hadir berawal dari kegelisahan beberapa mahasiswa yang setiap hari masuk kuliah dengan sistem pembelajaran yang mereka terima dirasa monoton dan membosankan. Untuk menumbuhkan kembali gairah mahasiswa yang konsen di bidang Jurnalistik serta ingin menciptakan budaya baru yaitu budaya tandingan, ingin mengubah iklim akademis UIN dengan diskusi, membaca dan menulis, maka dibentuklah perkumpulan independen yang dibentuk sendiri oleh para mahasiswa Jurnalistik dengan nama  Komunitas Anak Tangga.“Nama Anak Tangga ini merupakan filosofi komunitas, ini langkah pertama menuju tangga selanjutnya. Jadi, naik perlahan dari satu anak tangga ke anak tangga selanjutnya sampai pada akhirnya kita semua berada di tangga paling atas. Kira-kira seperti itu,” ucap Indra saat ditanya mengenai makna nama komunitas.Tanggapan positif datang dari Presiden Mahasiswa Himpunan Mahasiwa Jurnalistik periode 2011/2012, Septian, yang juga hadir di acara peresmian komunitas. Ia sangat mendukung eksistensi komunitas ini. Menurutnya, Komunitas Anak Tangga merupakan pengembangan yang bagus bagi jurusan Jurnalistik UIN SGD, dilihat dari kondisi kampus saat ini dan dilihat dari antusiasme para mahasiswanya“Kita semua harus mengembangkan komunitas yang ada. Meskipun Komunitas Anak Tangga ini berdiri independen, tidak berada dalam HMJ, tapi kan orang-orang didalamnya dari HMJ juga. HMJ dan komunitas harus saling mendukung serta menjalin kerjasama,” ujar Septian saat diwawancara.Meskipun terbilang komunitas baru, eksistensi Komunitas Anak Tangga di luar kampus sudah tidak diragukan lagi. Sejak didirikan pada bulan September kemarin, hingga hari ini komunitas Anak Tangga sudah sering bekerja sama dengan berbagai pihak-pihak luar kampus, beberapa diantaranya yaitu berdiskusi dengan Citizen reporter Iwan Pilliang, mengadakan Workshop Undang-undang keterbukaan publik bersama Bandung Youth Movement (BYM), serta diskusi bersama Salman ITB mengenai konvergensi media dan inspiring journalism.“Harapan saya ke depan, jalannya Komunitas Anak Tangga bisa konsisten, maju, berkembang, tidak  berhenti di tangga pertama. Rencana ke depan setelah peresmian ini kita bakal bikin media, antologi, bikin riset, buku, juga menambah kerjasama dengan berbagai lembaga, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI),” ujar Indra.“Kita pengen banget mendatangkan Andreas Harsono, karena belajar tentang journalism yang ideal saya rasa sangat tepat bersama Andreas Harsono. Doakan saja mudah-mudahan bisa cepat terwujud,” tambah Indra di akhir wawancara.[]Riska Amelia, Iqbal Tawakal-Magang/SUAKA

[uinsgd.ac.id] Sebanyak 28 anggota Komunitas Anak Tangga terdiri dari mahasiswa semester 1, semester 3, dan semester 5 jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menghadiri peresmian Komunitas Anak Tangga di rumah makan Sukahati, Cinunuk, Minggu (18/12) sore. Acara ini diadakan bertujuan untuk menyusun dan memantapkan perjalanan Komunitas Anak Tangga kedepan, sekaligus menjadi ajang pengakraban diri dan lebih mendekatkan hubungan emosional antar anggota komunitas.“Komunitas anak tangga sudah berjalan selama dua bulan lebih tapi didalamnya belum ada kejelasan atau belum resmi, makanya diadakan acara launching ini supaya lebih jelas, kita punya berapa anggota, kedepan kita mau apa, mengetahui visi misi antar sesama anggota, jadi ini semacam pendekatan atau upaya konsolidasi,” jelas Indra Nugraha, ketua umum Komunitas Anak Tangga saat ditemui disaat peresmian komunitas.Komunitas Anak Tangga yang mulai aktif pada bulan September 2011 ini merupakan komunitas yang menjadikan diskusi sebagai hal pokok kegiatannya dan khusus bergerak di ranah kajian yang berkaitan tentang media. Kegiatan rutin yang dilakukan yaitu mengadakan diskusi dua kali dalam satu minggu yaitu hari Sabtu dan Senin.Komunitas ini hadir berawal dari kegelisahan beberapa mahasiswa yang setiap hari masuk kuliah dengan sistem pembelajaran yang mereka terima dirasa monoton dan membosankan. Untuk menumbuhkan kembali gairah mahasiswa yang konsen di bidang Jurnalistik serta ingin menciptakan budaya baru yaitu budaya tandingan, ingin mengubah iklim akademis UIN dengan diskusi, membaca dan menulis, maka dibentuklah perkumpulan independen yang dibentuk sendiri oleh para mahasiswa Jurnalistik dengan nama  Komunitas Anak Tangga.“Nama Anak Tangga ini merupakan filosofi komunitas, ini langkah pertama menuju tangga selanjutnya. Jadi, naik perlahan dari satu anak tangga ke anak tangga selanjutnya sampai pada akhirnya kita semua berada di tangga paling atas. Kira-kira seperti itu,” ucap Indra saat ditanya mengenai makna nama komunitas.Tanggapan positif datang dari Presiden Mahasiswa Himpunan Mahasiwa Jurnalistik periode 2011/2012, Septian, yang juga hadir di acara peresmian komunitas. Ia sangat mendukung eksistensi komunitas ini. Menurutnya, Komunitas Anak Tangga merupakan pengembangan yang bagus bagi jurusan Jurnalistik UIN SGD, dilihat dari kondisi kampus saat ini dan dilihat dari antusiasme para mahasiswanya“Kita semua harus mengembangkan komunitas yang ada. Meskipun Komunitas Anak Tangga ini berdiri independen, tidak berada dalam HMJ, tapi kan orang-orang didalamnya dari HMJ juga. HMJ dan komunitas harus saling mendukung serta menjalin kerjasama,” ujar Septian saat diwawancara.Meskipun terbilang komunitas baru, eksistensi Komunitas Anak Tangga di luar kampus sudah tidak diragukan lagi. Sejak didirikan pada bulan September kemarin, hingga hari ini komunitas Anak Tangga sudah sering bekerja sama dengan berbagai pihak-pihak luar kampus, beberapa diantaranya yaitu berdiskusi dengan Citizen reporter Iwan Pilliang, mengadakan Workshop Undang-undang keterbukaan publik bersama Bandung Youth Movement (BYM), serta diskusi bersama Salman ITB mengenai konvergensi media dan inspiring journalism.“Harapan saya ke depan, jalannya Komunitas Anak Tangga bisa konsisten, maju, berkembang, tidak  berhenti di tangga pertama. Rencana ke depan setelah peresmian ini kita bakal bikin media, antologi, bikin riset, buku, juga menambah kerjasama dengan berbagai lembaga, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI),” ujar Indra.“Kita pengen banget mendatangkan Andreas Harsono, karena belajar tentang journalism yang ideal saya rasa sangat tepat bersama Andreas Harsono. Doakan saja mudah-mudahan bisa cepat terwujud,” tambah Indra di akhir wawancara.[]Riska Amelia, Iqbal Tawakal-Magang/SUAKA

[uinsgd.ac.id] Sebanyak 28 anggota Komunitas Anak Tangga terdiri dari mahasiswa semester 1, semester 3, dan semester 5 jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, menghadiri peresmian Komunitas Anak Tangga di rumah makan Sukahati, Cinunuk, Minggu (18/12) sore. Acara ini diadakan bertujuan untuk menyusun dan memantapkan perjalanan Komunitas Anak Tangga kedepan, sekaligus menjadi ajang pengakraban diri dan lebih mendekatkan hubungan emosional antar anggota komunitas.“Komunitas anak tangga sudah berjalan selama dua bulan lebih tapi didalamnya belum ada kejelasan atau belum resmi, makanya diadakan acara launching ini supaya lebih jelas, kita punya berapa anggota, kedepan kita mau apa, mengetahui visi misi antar sesama anggota, jadi ini semacam pendekatan atau upaya konsolidasi,” jelas Indra Nugraha, ketua umum Komunitas Anak Tangga saat ditemui disaat peresmian komunitas.Komunitas Anak Tangga yang mulai aktif pada bulan September 2011 ini merupakan komunitas yang menjadikan diskusi sebagai hal pokok kegiatannya dan khusus bergerak di ranah kajian yang berkaitan tentang media. Kegiatan rutin yang dilakukan yaitu mengadakan diskusi dua kali dalam satu minggu yaitu hari Sabtu dan Senin.Komunitas ini hadir berawal dari kegelisahan beberapa mahasiswa yang setiap hari masuk kuliah dengan sistem pembelajaran yang mereka terima dirasa monoton dan membosankan. Untuk menumbuhkan kembali gairah mahasiswa yang konsen di bidang Jurnalistik serta ingin menciptakan budaya baru yaitu budaya tandingan, ingin mengubah iklim akademis UIN dengan diskusi, membaca dan menulis, maka dibentuklah perkumpulan independen yang dibentuk sendiri oleh para mahasiswa Jurnalistik dengan nama  Komunitas Anak Tangga.“Nama Anak Tangga ini merupakan filosofi komunitas, ini langkah pertama menuju tangga selanjutnya. Jadi, naik perlahan dari satu anak tangga ke anak tangga selanjutnya sampai pada akhirnya kita semua berada di tangga paling atas. Kira-kira seperti itu,” ucap Indra saat ditanya mengenai makna nama komunitas.Tanggapan positif datang dari Presiden Mahasiswa Himpunan Mahasiwa Jurnalistik periode 2011/2012, Septian, yang juga hadir di acara peresmian komunitas. Ia sangat mendukung eksistensi komunitas ini. Menurutnya, Komunitas Anak Tangga merupakan pengembangan yang bagus bagi jurusan Jurnalistik UIN SGD, dilihat dari kondisi kampus saat ini dan dilihat dari antusiasme para mahasiswanya“Kita semua harus mengembangkan komunitas yang ada. Meskipun Komunitas Anak Tangga ini berdiri independen, tidak berada dalam HMJ, tapi kan orang-orang didalamnya dari HMJ juga. HMJ dan komunitas harus saling mendukung serta menjalin kerjasama,” ujar Septian saat diwawancara.Meskipun terbilang komunitas baru, eksistensi Komunitas Anak Tangga di luar kampus sudah tidak diragukan lagi. Sejak didirikan pada bulan September kemarin, hingga hari ini komunitas Anak Tangga sudah sering bekerja sama dengan berbagai pihak-pihak luar kampus, beberapa diantaranya yaitu berdiskusi dengan Citizen reporter Iwan Pilliang, mengadakan Workshop Undang-undang keterbukaan publik bersama Bandung Youth Movement (BYM), serta diskusi bersama Salman ITB mengenai konvergensi media dan inspiring journalism.“Harapan saya ke depan, jalannya Komunitas Anak Tangga bisa konsisten, maju, berkembang, tidak  berhenti di tangga pertama. Rencana ke depan setelah peresmian ini kita bakal bikin media, antologi, bikin riset, buku, juga menambah kerjasama dengan berbagai lembaga, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI),” ujar Indra.“Kita pengen banget mendatangkan Andreas Harsono, karena belajar tentang journalism yang ideal saya rasa sangat tepat bersama Andreas Harsono. Doakan saja mudah-mudahan bisa cepat terwujud,” tambah Indra di akhir wawancara.[]Riska Amelia, Iqbal Tawakal-Magang/SUAKA