UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Komitmen Total Godi Suwarna Terhadap Sastra Sunda

[www.uinsgd.ac.id] Upaya melestarikan Sajak Sunda dan bentuk tasyakuran sebelum Godi Suwarna berangkat ke Jerman tanggal 24 Juni 2011, maka Konsorsium Sastra UIN SGD Bandung menggelar “Walimatussafar wal Istighosah; Si Ujang Goes to Germany (Godi Suwarna)” dengan Istighosah dari Afif Muhammad di dawah pohon rindang (DPR) UIN SGD Bandung, Senin (20/6)

Sebelum acara dimulai, Godi Suwarna disambut dengan musik Marawis dari gerbang depan Kampus sampai ke DPR. 

Menurut Afif, “Sekitar tahun 1976 belajar sastra Indonesia tidak keren, tetapi Godi tetep belajar dengan komitmen yang tinggi dan sungguh-sungguh serta dibelaki secara total insya Allah menjadi orang” paparnya

Kuatnya, anggapan bila ingin menjadi orang berhasil, maka harus ke Jakarta, “Ini tidak berlaku bagi Godi sebab tidak pergi ke Jakarta dan tetap tinggal di Ciamis. Bukti komitmennya yang sangat total terhadap sajak Sunda akhirnya membawanya terkenal dan pada tanggal 24 Juni 2011 akan pergi ke Jerman” jelasnya

Ia berpesan, “Nanti kalau ke Jerman harus bawa uang receh. Dengan adanya acara ini bisa berkembangnya sastra di UIN SGD Bandung” harapnya

Suasana syukuran dilengkapi dengan pembacaan empat alih bahasa dari Sajak Si Ujang, Neng Hannah ke dalam bahasa Arab, Pradewi Tri Chatami ke bahasa Inggris, Herton ke bahasa Jawa, dan Salamet Muntsani ke bahasa Madura bisa memperkaya khazanah Sunda. “Dengan adanya acara ini mudah-mudahan bisa meperkaya khazanah Sastra Sunda dan setelah pulang dari Jerman akan diterbitkan buku Si Ujang ini ke dalam edisi 4 bahasa lokal” ungkap Iip D. Yahya

Godi membacakan sajak Sunda diantaranya; Ngadu Domba, Urat Jagat, Rumah Sakit, dan Dongeng Si Ujang

Mengenai pengalihan bahasa Sajak Sunda, Godi menjelaskan “Oke. Sabab lain urusan kuring nerjemahkeun mah. Nu jelas sajak Sunda hese pisan dialihkeun kusabab rasa jeung gerakna” tegasnya

Untuk proses mengarang, “Kuring sok resep beda jeung kolot. Samodel dina carita korupsi. Presiden jeung pamingpina daremo kusabab baregang. Rahayatna malakmur. Tah kuring resep nulis nu dibulakbalik kitu teh” paparnya

Ihwal menulis sekarang “Ayeuna mah lalieur daloba pisan nu sok nulis samodel kitu” tambahnya

Musikalisai dari Mapaglayung dan Seni Seni Sunda Cigawiran oleh Neng Susan memeriahkan syukuran ini.

Bambang Q-Anees berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan semangat bagi tumbuhnya Sastra di UIN SGD Bandung “Tetap semangat untuk bersatra dan berkreasi. Tidak peduli apakah gedung UIN SGD Bandung akan dibangun atau tidak” tuturnya

“Kami atas nama UIN SGD Bandung mengucapkan selamat kepada Godi Suwarna yang berkenan hadir ke UIN SGD Bandung dan terimakasih kepada Iip D. Jahya atas kecintaanya kepada UIN SGD Bandung untuk tetap mengembangkan Sastra” harapnya.*** [Ibn Ghifarie]

[www.uinsgd.ac.id] Upaya melestarikan Sajak Sunda dan bentuk tasyakuran sebelum Godi Suwarna berangkat ke Jerman tanggal 24 Juni 2011, maka Konsorsium Sastra UIN SGD Bandung menggelar “Walimatussafar wal Istighosah; Si Ujang Goes to Germany (Godi Suwarna)” dengan Istighosah dari Afif Muhammad di dawah pohon rindang (DPR) UIN SGD Bandung, Senin (20/6)

Sebelum acara dimulai, Godi Suwarna disambut dengan musik Marawis dari gerbang depan Kampus sampai ke DPR. 

Menurut Afif, “Sekitar tahun 1976 belajar sastra Indonesia tidak keren, tetapi Godi tetep belajar dengan komitmen yang tinggi dan sungguh-sungguh serta dibelaki secara total insya Allah menjadi orang” paparnya

Kuatnya, anggapan bila ingin menjadi orang berhasil, maka harus ke Jakarta, “Ini tidak berlaku bagi Godi sebab tidak pergi ke Jakarta dan tetap tinggal di Ciamis. Bukti komitmennya yang sangat total terhadap sajak Sunda akhirnya membawanya terkenal dan pada tanggal 24 Juni 2011 akan pergi ke Jerman” jelasnya

Ia berpesan, “Nanti kalau ke Jerman harus bawa uang receh. Dengan adanya acara ini bisa berkembangnya sastra di UIN SGD Bandung” harapnya

Suasana syukuran dilengkapi dengan pembacaan empat alih bahasa dari Sajak Si Ujang, Neng Hannah ke dalam bahasa Arab, Pradewi Tri Chatami ke bahasa Inggris, Herton ke bahasa Jawa, dan Salamet Muntsani ke bahasa Madura bisa memperkaya khazanah Sunda. “Dengan adanya acara ini mudah-mudahan bisa meperkaya khazanah Sastra Sunda dan setelah pulang dari Jerman akan diterbitkan buku Si Ujang ini ke dalam edisi 4 bahasa lokal” ungkap Iip D. Yahya

Godi membacakan sajak Sunda diantaranya; Ngadu Domba, Urat Jagat, Rumah Sakit, dan Dongeng Si Ujang

Mengenai pengalihan bahasa Sajak Sunda, Godi menjelaskan “Oke. Sabab lain urusan kuring nerjemahkeun mah. Nu jelas sajak Sunda hese pisan dialihkeun kusabab rasa jeung gerakna” tegasnya

Untuk proses mengarang, “Kuring sok resep beda jeung kolot. Samodel dina carita korupsi. Presiden jeung pamingpina daremo kusabab baregang. Rahayatna malakmur. Tah kuring resep nulis nu dibulakbalik kitu teh” paparnya

Ihwal menulis sekarang “Ayeuna mah lalieur daloba pisan nu sok nulis samodel kitu” tambahnya

Musikalisai dari Mapaglayung dan Seni Seni Sunda Cigawiran oleh Neng Susan memeriahkan syukuran ini.

Bambang Q-Anees berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan semangat bagi tumbuhnya Sastra di UIN SGD Bandung “Tetap semangat untuk bersatra dan berkreasi. Tidak peduli apakah gedung UIN SGD Bandung akan dibangun atau tidak” tuturnya

“Kami atas nama UIN SGD Bandung mengucapkan selamat kepada Godi Suwarna yang berkenan hadir ke UIN SGD Bandung dan terimakasih kepada Iip D. Jahya atas kecintaanya kepada UIN SGD Bandung untuk tetap mengembangkan Sastra” harapnya.*** [Ibn Ghifarie]

[www.uinsgd.ac.id] Upaya melestarikan Sajak Sunda dan bentuk tasyakuran sebelum Godi Suwarna berangkat ke Jerman tanggal 24 Juni 2011, maka Konsorsium Sastra UIN SGD Bandung menggelar “Walimatussafar wal Istighosah; Si Ujang Goes to Germany (Godi Suwarna)” dengan Istighosah dari Afif Muhammad di dawah pohon rindang (DPR) UIN SGD Bandung, Senin (20/6)

Sebelum acara dimulai, Godi Suwarna disambut dengan musik Marawis dari gerbang depan Kampus sampai ke DPR. 

Menurut Afif, “Sekitar tahun 1976 belajar sastra Indonesia tidak keren, tetapi Godi tetep belajar dengan komitmen yang tinggi dan sungguh-sungguh serta dibelaki secara total insya Allah menjadi orang” paparnya

Kuatnya, anggapan bila ingin menjadi orang berhasil, maka harus ke Jakarta, “Ini tidak berlaku bagi Godi sebab tidak pergi ke Jakarta dan tetap tinggal di Ciamis. Bukti komitmennya yang sangat total terhadap sajak Sunda akhirnya membawanya terkenal dan pada tanggal 24 Juni 2011 akan pergi ke Jerman” jelasnya

Ia berpesan, “Nanti kalau ke Jerman harus bawa uang receh. Dengan adanya acara ini bisa berkembangnya sastra di UIN SGD Bandung” harapnya

Suasana syukuran dilengkapi dengan pembacaan empat alih bahasa dari Sajak Si Ujang, Neng Hannah ke dalam bahasa Arab, Pradewi Tri Chatami ke bahasa Inggris, Herton ke bahasa Jawa, dan Salamet Muntsani ke bahasa Madura bisa memperkaya khazanah Sunda. “Dengan adanya acara ini mudah-mudahan bisa meperkaya khazanah Sastra Sunda dan setelah pulang dari Jerman akan diterbitkan buku Si Ujang ini ke dalam edisi 4 bahasa lokal” ungkap Iip D. Yahya

Godi membacakan sajak Sunda diantaranya; Ngadu Domba, Urat Jagat, Rumah Sakit, dan Dongeng Si Ujang

Mengenai pengalihan bahasa Sajak Sunda, Godi menjelaskan “Oke. Sabab lain urusan kuring nerjemahkeun mah. Nu jelas sajak Sunda hese pisan dialihkeun kusabab rasa jeung gerakna” tegasnya

Untuk proses mengarang, “Kuring sok resep beda jeung kolot. Samodel dina carita korupsi. Presiden jeung pamingpina daremo kusabab baregang. Rahayatna malakmur. Tah kuring resep nulis nu dibulakbalik kitu teh” paparnya

Ihwal menulis sekarang “Ayeuna mah lalieur daloba pisan nu sok nulis samodel kitu” tambahnya

Musikalisai dari Mapaglayung dan Seni Seni Sunda Cigawiran oleh Neng Susan memeriahkan syukuran ini.

Bambang Q-Anees berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan semangat bagi tumbuhnya Sastra di UIN SGD Bandung “Tetap semangat untuk bersatra dan berkreasi. Tidak peduli apakah gedung UIN SGD Bandung akan dibangun atau tidak” tuturnya

“Kami atas nama UIN SGD Bandung mengucapkan selamat kepada Godi Suwarna yang berkenan hadir ke UIN SGD Bandung dan terimakasih kepada Iip D. Jahya atas kecintaanya kepada UIN SGD Bandung untuk tetap mengembangkan Sastra” harapnya.*** [Ibn Ghifarie]

[www.uinsgd.ac.id] Upaya melestarikan Sajak Sunda dan bentuk tasyakuran sebelum Godi Suwarna berangkat ke Jerman tanggal 24 Juni 2011, maka Konsorsium Sastra UIN SGD Bandung menggelar “Walimatussafar wal Istighosah; Si Ujang Goes to Germany (Godi Suwarna)” dengan Istighosah dari Afif Muhammad di dawah pohon rindang (DPR) UIN SGD Bandung, Senin (20/6)

Sebelum acara dimulai, Godi Suwarna disambut dengan musik Marawis dari gerbang depan Kampus sampai ke DPR. 

Menurut Afif, “Sekitar tahun 1976 belajar sastra Indonesia tidak keren, tetapi Godi tetep belajar dengan komitmen yang tinggi dan sungguh-sungguh serta dibelaki secara total insya Allah menjadi orang” paparnya

Kuatnya, anggapan bila ingin menjadi orang berhasil, maka harus ke Jakarta, “Ini tidak berlaku bagi Godi sebab tidak pergi ke Jakarta dan tetap tinggal di Ciamis. Bukti komitmennya yang sangat total terhadap sajak Sunda akhirnya membawanya terkenal dan pada tanggal 24 Juni 2011 akan pergi ke Jerman” jelasnya

Ia berpesan, “Nanti kalau ke Jerman harus bawa uang receh. Dengan adanya acara ini bisa berkembangnya sastra di UIN SGD Bandung” harapnya

Suasana syukuran dilengkapi dengan pembacaan empat alih bahasa dari Sajak Si Ujang, Neng Hannah ke dalam bahasa Arab, Pradewi Tri Chatami ke bahasa Inggris, Herton ke bahasa Jawa, dan Salamet Muntsani ke bahasa Madura bisa memperkaya khazanah Sunda. “Dengan adanya acara ini mudah-mudahan bisa meperkaya khazanah Sastra Sunda dan setelah pulang dari Jerman akan diterbitkan buku Si Ujang ini ke dalam edisi 4 bahasa lokal” ungkap Iip D. Yahya

Godi membacakan sajak Sunda diantaranya; Ngadu Domba, Urat Jagat, Rumah Sakit, dan Dongeng Si Ujang

Mengenai pengalihan bahasa Sajak Sunda, Godi menjelaskan “Oke. Sabab lain urusan kuring nerjemahkeun mah. Nu jelas sajak Sunda hese pisan dialihkeun kusabab rasa jeung gerakna” tegasnya

Untuk proses mengarang, “Kuring sok resep beda jeung kolot. Samodel dina carita korupsi. Presiden jeung pamingpina daremo kusabab baregang. Rahayatna malakmur. Tah kuring resep nulis nu dibulakbalik kitu teh” paparnya

Ihwal menulis sekarang “Ayeuna mah lalieur daloba pisan nu sok nulis samodel kitu” tambahnya

Musikalisai dari Mapaglayung dan Seni Seni Sunda Cigawiran oleh Neng Susan memeriahkan syukuran ini.

Bambang Q-Anees berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan semangat bagi tumbuhnya Sastra di UIN SGD Bandung “Tetap semangat untuk bersatra dan berkreasi. Tidak peduli apakah gedung UIN SGD Bandung akan dibangun atau tidak” tuturnya

“Kami atas nama UIN SGD Bandung mengucapkan selamat kepada Godi Suwarna yang berkenan hadir ke UIN SGD Bandung dan terimakasih kepada Iip D. Jahya atas kecintaanya kepada UIN SGD Bandung untuk tetap mengembangkan Sastra” harapnya.*** [Ibn Ghifarie]

[www.uinsgd.ac.id] Upaya melestarikan Sajak Sunda dan bentuk tasyakuran sebelum Godi Suwarna berangkat ke Jerman tanggal 24 Juni 2011, maka Konsorsium Sastra UIN SGD Bandung menggelar “Walimatussafar wal Istighosah; Si Ujang Goes to Germany (Godi Suwarna)” dengan Istighosah dari Afif Muhammad di dawah pohon rindang (DPR) UIN SGD Bandung, Senin (20/6)

Sebelum acara dimulai, Godi Suwarna disambut dengan musik Marawis dari gerbang depan Kampus sampai ke DPR. 

Menurut Afif, “Sekitar tahun 1976 belajar sastra Indonesia tidak keren, tetapi Godi tetep belajar dengan komitmen yang tinggi dan sungguh-sungguh serta dibelaki secara total insya Allah menjadi orang” paparnya

Kuatnya, anggapan bila ingin menjadi orang berhasil, maka harus ke Jakarta, “Ini tidak berlaku bagi Godi sebab tidak pergi ke Jakarta dan tetap tinggal di Ciamis. Bukti komitmennya yang sangat total terhadap sajak Sunda akhirnya membawanya terkenal dan pada tanggal 24 Juni 2011 akan pergi ke Jerman” jelasnya

Ia berpesan, “Nanti kalau ke Jerman harus bawa uang receh. Dengan adanya acara ini bisa berkembangnya sastra di UIN SGD Bandung” harapnya

Suasana syukuran dilengkapi dengan pembacaan empat alih bahasa dari Sajak Si Ujang, Neng Hannah ke dalam bahasa Arab, Pradewi Tri Chatami ke bahasa Inggris, Herton ke bahasa Jawa, dan Salamet Muntsani ke bahasa Madura bisa memperkaya khazanah Sunda. “Dengan adanya acara ini mudah-mudahan bisa meperkaya khazanah Sastra Sunda dan setelah pulang dari Jerman akan diterbitkan buku Si Ujang ini ke dalam edisi 4 bahasa lokal” ungkap Iip D. Yahya

Godi membacakan sajak Sunda diantaranya; Ngadu Domba, Urat Jagat, Rumah Sakit, dan Dongeng Si Ujang

Mengenai pengalihan bahasa Sajak Sunda, Godi menjelaskan “Oke. Sabab lain urusan kuring nerjemahkeun mah. Nu jelas sajak Sunda hese pisan dialihkeun kusabab rasa jeung gerakna” tegasnya

Untuk proses mengarang, “Kuring sok resep beda jeung kolot. Samodel dina carita korupsi. Presiden jeung pamingpina daremo kusabab baregang. Rahayatna malakmur. Tah kuring resep nulis nu dibulakbalik kitu teh” paparnya

Ihwal menulis sekarang “Ayeuna mah lalieur daloba pisan nu sok nulis samodel kitu” tambahnya

Musikalisai dari Mapaglayung dan Seni Seni Sunda Cigawiran oleh Neng Susan memeriahkan syukuran ini.

Bambang Q-Anees berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan semangat bagi tumbuhnya Sastra di UIN SGD Bandung “Tetap semangat untuk bersatra dan berkreasi. Tidak peduli apakah gedung UIN SGD Bandung akan dibangun atau tidak” tuturnya

“Kami atas nama UIN SGD Bandung mengucapkan selamat kepada Godi Suwarna yang berkenan hadir ke UIN SGD Bandung dan terimakasih kepada Iip D. Jahya atas kecintaanya kepada UIN SGD Bandung untuk tetap mengembangkan Sastra” harapnya.*** [Ibn Ghifarie]