UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Komitmen Bersama untuk Tingkatkan Kualitas Pelayanan Prima

[www.uinsgd.ac.id] Upaya memberikan pelayanan terbaik terhadap mahasiswa, alumni dan stakeholder, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar Kualitas Pelayanan Prima dan Pengembangan Potensi Diri Tenaga Pendidik yang dibuka secara resmi oleh Dekan FAH, Dr. Setia Gumilar, S.Ag.,M.Si dan didampingi Dr. Ading Kusdiana, M.Ag. (Wakil Dekan I), Dr. Dedi Supriadi, M.Hum (Wakil Dekan II) dan Dr. Dadan Rusmana, M.Ag. (Wakil Dekan III) di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor Sumedang, Sabtu (25/6).

Hadir sebagai pembicara adalah Deddy Supriyadi, SE., MSc. (Direktur Promosi & Humas IKOPIN) dan Yopi Rodiah (Pegiat LSM Anak Matahariku, Psikolog Bandung) yang dipandu oleh Wakil Dekan III,  Dr. Dadan Rusmana, M.Ag.

Dalam sambutanya Dekan FAH menjelaskan kegiatan ini sebagai salah satu cara membentuk pelayanan prima dan usaha mengambangkan potensi diri, khususnya tenaga pendidik. “Dalam hal ini sesuai dengan arahan dan himbauan dari Rektorat kita harus mampu memberikan pelayanan prima terhadap mahasiswa, stakeholder untuk peningkatan pelayanan di lingkungan Fakultas Adab dan Humaniora,” paparnya.

Salah satu ciri dari memberikan pelayanan prima itu, “Dengan memberikan senyuman yang paling sederhana terhadap tamu, karena meberikan senyuman itu bagian dari Ibadah,” jelasnya.

Dekan berharap usaha memberikan pelayanan priman ini harus ada komitmen dari seluruh jajaran pimpinan. “Dimulai dari pimpinan Dekanat sampai ke tingkat OB, sehingga pemberian pelayanan prima itu dapat dirasakan seluruh elemen di lingkungan Fakultas Adab dan Humaniora yang pada akhirnya  komitmen bersama untuk mengembangkan dan memajukan Fakultas  yang memiliki daya saing dan mampu mengembangkan khazanah Islam lokal itu akan segera tercapai,” optimisnya.   

Menurut Deddy pemberian pelayanan prima itu harus ditentukan terlebih dahulu kepada pelanggan, “Untuk siapa pelanggannya? karena pelayanan prima itu pelayanan terbaik, pelayanan yang melibihi atau setidaknya memenuhi standar kualitas, pelayanan yang memenuhi harapan pelanggan, bahkan melebihi,” paparnya.

Dalam konteks di lingkungan kampus, “Pemberian pelayanan prima itu mulai dari mahasiswa, dosen, karyawan, alumni, sampai stakeholder,” sambungnya.

Untuk itu, diperlukan langkah-langkah penerapan pelayanan prima, “Mulai dari adanya komitmen pimpinan, dibentuk tim/panitia, anggap karyawan sebagai pelanggan internal, buat standar pelayanan, lakukan pelatihan pelayanan prima, impelementasi pelayanan prima sampai lakukan evaluasi pelaksanaannya.”

Prinsip standar pelayanan prima itu “kesederhanaan, akuntabel, transparansi, keadilan dan perbaikan keberlanjutan,” jelasnya. 

Bagi Yopi menjelaskan kunci dari pemberian pelayanan prima itu, “Memberikan sambutan yang sopan dan cepat, memberikan perhatian yang penuh terhadap pelanggan, menjaga dan meningkatkan harga diri pelanggan, mendengarkan dengan seksama dan menunjukkan empati terhadap masalah pelanggan, bertindak secara tepat dan cepat dalam melayani pelanggan, menyampaikan maaf atas kesalahpahaman, ketidaknyamanan dan kekeliruan yang terjadi, bertanya untuk mengetahui kebutuhan pelanggan, meminta usulan atau menanyakan ketidaksetujuan pelanggan, melakukan antisipasi ke depan untuk memenuhi kepuasan pelanggan,” katanya.

Cara untuk mengembangkan kompetensi pelayanan prima itu, “Diakan traning atau seminar yang berhubungan dengan service excellence, teknik wawancara untuk menggali informasi yang tepat dari pelanggan, berlatih untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain secara efektif, secara langsung mengunjungi pelanggan untuk mencari tahu serta memahami kebutuhan mereka, berlatin menangani pelanggan yang dianggap paling sulit,” saranya. [Humas Al-Jamiah]