UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kisah Penghafal Alquran

Cerita Royu, yang Hafal Alquran dalam Tiga Tahun
Sempat Hampir Mau Menyerah di Juz 20

Tak butuh lama bagi Royu Nahriya (21) untuk bisa menghafal 30 juz Alquran. Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung ini hanya perlu tiga tahun. Ia memulainya saat kelas 1 SMA.

Meski dapat menghafal 30 juz Alquran hanya dalam tiga tahun, Royu bercerita, proses menghafal hingga 30 juz tak ia lalui dengan mudah.

Terlebih selain fokus menghafal Alquran, ia juga harus fokus sekolah, dari pukul 07.00 sampai 16.00.

Sebab, Madrasah Aliah Negeri 2 Cirebon, tempat Royu bersekolah saat itu, menerapkan sistem ful day school.

Selama sekolah di madrasah aliah, Royu juga mondok di Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Arafat Cirebon. Jarak antara pondokan dan sekolah sekitar lima kilometer.

“Dari pukul setengah lima pagi, saya harus sudah di pesantren karena jadwal setoran wajib hafalan baru. Setelah Magrib lanjut setoran muraja’ah (mengulang bacaan yang sudah dihafal) sampai menjelang Isya. Setelah Isya, lanjut lagi menghafal Alquran bersama santri lainnya sampai pukul sepuluh malam untuk persiapan setoran besok paginya. Begitu setiap hari,” kata Royu saat ditemui di kampus 1 UIN Bandung, Senin (6/5).

Royu mengatakan, pada awal-awal menghafal Alquran, proses menghafal terasa sangat melelahkan. Rasa putus asa juga kerap menghampirinya, terutama ketika mulai menyelesaikan juz ke-20, saat ayat-ayat yang harus dihafal terasa makin rumit. Beban itu bertambah karena pelajaran di sekolah juga ternyata makin sulit. “Ini sempat membuat Royu ingin mundur,” ujar gadis asal Cirebon ini.

Namun, berkat doa dan dukungan kedua orang tuanya dan Kiai Bunyai, yang senantiasa membimbingnya, Royu berhasil mengkhatamkan hafalannya 30 juz.

“Alhamdulillah. Royu khatam 30 juz pas hari terakhir UN SMA,” ujarnya.

Agar hafalannya tetap terjaga, selama kuliah di UIN, Royu tinggal di Rumah Qur’an (RQ) Kampus UIN Bandung. Sejak tiga tahun lalu, Royu bahkan diberi amanat sebagai ketua pondok (musyrifah) RQ. Ia juga senantiasa melakukan muraja’ah.

“Bagi saya, muraja’ah adalah pekerjaan seumur hidup yang tidak bisa ditukar dengan apa pun,” ujarnya.

Sebagai musyrifah, kata Royu, ia juga kerap melakukan kegiatan menghafal Alquran bersama para mahasiswi atau santri yang lain.

Salah satu metode muraja’ah di RQ adalah kegiatan tasmi (memperdengarkan hafalan Alquran), yang dilakukan setiap minggu.

Metode tasmi yang dilakukan di RQ adalah metode tasmi berpasangan, yang oleh para santri RQ lebih dikenal dengan sebutan “tasmi partneran”. Masing-masing wajib membaca Quran satu juz dan memperdengarkannya kepada patnernya. Partner inilah yang kemudian dengan teliti menilai dan mengoreksi bacaan.

Di RQ, para santri juga diwajibkan setor hafalan Alquran setiap bakda Subuh. Untuk santri yang hafalannya belum sampai 30 juz, setoran wajibnya dua halaman, ditambah muraja’ah lima halaman.

Untuk santri yang hafalannya sudah 30 juz seperti Royu, muraja’ah bisa sampai lima juz setiap harinya. “Kalau libur kuliah bisa sekaligus lima juz. Tapi, kalau sedang kuliah, dibagi dua waktu. Malam 2,5 juz dan sisanya siang,” ujarnya.

Menurut Royu, mempertahankan hafalan Alqurnan itu tidaklah sulit jika istiqamah dalam muraja’ah. “Kalau kita istiqamah justru akan terasa nikmat, barakah,” ujarnya. (Hilda Rubiah, Kisdiantoro)

Sumber, Tribun Jabar 08 Mei 2019