UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kirikulum 2013 Harus Diuji Dulu

[www.uinsgd.ac.id] Rencana penerapan Kurikulum 2013 pada Juli mendatang di jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK perlu dikaji ulang karena sampai saat ini masih berubah-ubah dan pihak-pihak terkait belum siap untuk melaksanakannya. Mengingat pemerintah sendiri selalu menaikkan alokasi anggaran kurikulum 2013 sehingga selalu berubah-ubah kebijakannya.

Keberatan ini dikeluhkan oleh Dr. Reni Marlinawati, anggota Komisi X DPR “Pada Januari 2013 lalu Depdikbud mengajukan alokasi anggaran untuk kurikulum 2013 sebanyak Rp 680 miliar,” katanya dalam Seminar Nasional Pendidikan “Implementasi Kurikulum 2013. Apa, Mengapa dan Bagaimana? yang bertajuk “Mempersiapkan Pendidik dan Calon Pendidik dalam Menghadapi Implementasi Kurikulum 2013 upaya Menciptakan Pendidikan yang Profesional” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN SGD Bandung dengan menghadirkan narasumber; Dr. Reni Marlinawati (anggota Komisi X DPR), Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, MA (Guru Besar Pendidikan UIN SGD Bandung), Prof. Dr. H. Ahman, M.Pd (Gurubesar Pendidikan UPI), Eep. Saeful R.F. (Widyaiswara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat) yang dipandu oleh Nina Nurmila, Ph.D (dosen FTK UIN SGD Bandung) di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatnangor Sumedang, Kamis (9/5).

Menurut anggota Komisi X DPR yang membidangi pendidikan ini menuturkan, dari Rp 680 miliar itu DPR menyetujui Rp 611 miliar dengan sekitar Rp 500 miliar ditahan dulu sampai ada hasil panitia kerja (Panja) kurikulum 2013 yang dibentuk DPR. “Tiba-tiba Depdikbud malah mengajukan kembali alokasi anggaran sampai Rp 1,2 triliun. Malah setelah itu Depdikbud mengajukan kembali anggaran kurikulum 2013 sampai Rp 2,4 triliun ini ada apa?,” katanya.

Apalagi dari Rp 2,4 triliun itu, kata Reni, terdapat Rp 900 miliar yang diajukan sebagai dana pendukung kurikulum. “Nah istilah dana pendukung ini masih diperdebatkan sampai sekarang sehingga kami meminta pendapat dari BPK. Tanggapan dari BPK belum juga keluar sampai sekarang,” jelasnya.

Ihwal keberatan ini, Alumni FTK mengingatkan “Dilihat dari segi isi yang belum matang, pelaksanaan yang tergesa-gesa dan anggaran yang tidak jelas. Untuk itu, kurikulum 2013 ini sebaiknya diujicoba dulu. Jika tidak ini nekad dan ada agenda besar di dalamnya yang terselubung,” tegasnya.

Padahal kebeadaan Kurikulum 2013 ini kata Eep “Sepenuhnya oleh Kemendikbud. Secara langsung berada di Mentri.”

Kurikulum 2013 ini lebih menekankan pada aspek tematik. “Nuansanya tematik terintegrasi dengan harapan anak didik tidak terkotak-kotak, tapi melihatnya secara menyeluruh dan ril,” paparnya.

Meskipun untuk implemtasi harus mendapatkan dukungan penuh dari daerah. “Mulai dari Penguatan peran dan fungsi Tim Pengembang Kurikulum di Provinsi dan Kabupaten/Kota, Pemberdayaan wadah-wadah  pembinaan profesional guru (KKG, MGMP, KKKS, KKPS) di tingkat provinsi dan kabupatena/kota, Pelibatan asosiasi/organisasi profesi pendidik  sampai Pendayagunaan program dan kegiatan yang bersumber dari APBD provinsi dan kabupaten/kota dengan fokus pada peningkatan kompetensi guru dalam memahami dan menerapkan kurikulum.”

Untuk itu, yang menjadi peran penting dalam sosialisasi kurikulum 2013 ini, “Mempersiapkan dan membentuk guru-guru yang profesional dengan cara mengikuti pelatihan-pelatiahn yang telah ditentukan sekolah tertentu dengan dilatiha oleh instruktur nasional,” jelasnya.

Memang guru menjadi faktor penentu dan penting dalam kurikulum 2013 ini kata Ahman “Guru sangat penting dalam kurikulum 2013. Untuk itu, guru dikatakan profesional dalam pengajarannya bisa dilihat dari segi cara, metode dan subtansi mengajar, sehingga melahirkan prestasi anak didik yang dibanggakan,” optimisnya.

Jika semua guru mengikuti aturan ini, maka akan melahirkan guru yang profesional. “Pada akhirnya guru bermutu. Tentunya pendidikan di Indonesia juga dapat dipastikan bermutu,” tambahnya.

Bagi Tafsir, “Saya sampai sekarang belum paham apa kurikulum 2013 itu? Coba dilihat dari landasan filosofisnya saja tidak jelas. Ini sangat berbahaya,” keluhnya.

Padahal ciri dari pendidikan itu harus mencakup tiga aspek; “Pertama, Ilmu pengetahuan. Kedua, Keterampilan bekerja. Ketiga, Akhlak. Untuk itu, berdaya saing, mandiri, keterampilan, cinta bangsa merupakan sifat dari akhlak mulia,” pesannya.

Acara yang diikuti oleh 500 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan guru Se-Jabar yang dibuka secara resmi oleh Pembantu Rektor IV, Prof. Dr. H. Moch Najib, M.Ag, pihak Rektorat sangat mengapresiasi kegiatan ini “Sebagai salah satu usaha civitas akademik dalam merespon persoalan yang dihadapi bangsa. Karena pendidikan itu penting dan sepanjang masa. Meskipun dalam pendidikan, yang termasuk di dalamnya kurikulum itu terjadi dinamika dan perkembanganya selalu terus berkembang sebab pendidikan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan,” katanya.

Untuk itu, dalam khazanah keislaman pendidikan itu menjadi penting. “Saking pentingnya kita diwajibkan untuk terus belajar, menuntut ilmu, mencari pendidikan dari buaian sampai mati,” jelasnya.

Dekan FTK, Prof. Dr.  H. Mahmud, M.Si sangat mengapresaika dan mendukung segala kegiatan mahasiswa yang memberikan kontribusi positif ini. “Sangat urgen untuk guru-guru karena perana guru dalam kurikulum 2013 ini sangat penting,” paparnya.

Dengan adanya kurikulum 2013 ini “diharapkan guru-guru bisa lebih profesional. Meskipun tahapan-tahapan penguatan keilmunya harus diperkuat, sehingga tidak ada pemisahan antara ilmu agama dengan umum,” tambahnya.

Bagi Wahyu Saripudin, Ketua SMF TK menyampaikan kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi masyarakat, khususnya mahasiswa untuk mempersiapkan implementasi kurikulum 2013. “Yang berubah itu adalah kurikulum sebagai dokumennya. Itu akan menjadi pedoman bagi para pendidik. Apa jadinya jika pedoman itu belum dipahami bahkan belum diketahui oleh sebagai besar pengajar. Yakinlah pedoman itu hanya sebatas dokumen yang tidak memberikan manfaat. itulah realita yang terjdi,” cetusnya.

Kurikulum berubah-berubah tetapi tidak memberikan efek yang signifikan terhadap pendidikan di Indonesia,” keluhnya.

Wahyu berharap dengan adanya kegiatan yang dikikuti oleh mahasiswa dan mahasiswa FTK, Guru-guru dan Dosen di STAI se-Jabar ini “bisa melahirkan guru yang pfofesional dibidangnya yang tidak hanya segera mensosialisasikan dan menginplementasikan kurikulum 2013 ke masyarakat luas,” pungkasnya. [Ibn Ghifarie]