UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kini, Masyarakat Semakin Irasional

[www.uinsgd.ac.id] Modernisme yang menghasilkan masyarakat modern merupakan proyek besar masyarakat Eropa. Ia dicirikan oleh kebebasan penindasan kekuasaan feodal, bebas dari agama serta terbebas dari himpitan ekonomi. Max Weber menggagas masyarakat modern dengan gagasan masyarakat enlightment. Lantas bagaimana gagasan masyarakat modern tersebut pada masa sekarang?

Pertanyaan tersebut disampaikan oleh Stephanus Djunatan, Dosen Filsafat Universitas Parahyangan saat membincangkan Masyarakat Ideal pada acara Philosofy Party yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) dalam rangka Milangkala LPIK XVII di Aula Utama UIN SGD Bandung, Rabu (29/05/2013).

Menjawab renungan di atas, dalam pandangan Stephanus, justeru gagasan tersebut malah menindas pada masa sekarang. Karena pada dasarnya, subjek selalu menjadikan diluar dirinya sebagai objek. Padahal semangat masyarakat modern bersifat emansipatif terhadap keberadaan ekonomi. Dalam kurikulum pergurutan tinggi, semangat ini diimplementasikan dalam mata kuliah entrepreneurship.

menurut pandangan Stephanus, gagasan pembebasan ini juga terimplementasikan dalam konsep berbagi. Konsep berbagi sesungguhnya adalah konsep tradisional dalam masyarakat Asia dan Eropa. “Semakin menginternasional wawasan seseorang, semakin ia ingin menjadi tradisional. Orang sunda yang wawasannya menginternasional semakin mempertanyakan jati dirinya sebagai orang Sunda. Siapa sih yang disebut orang sunda itu? Ia semakin kembali kepada keyakinan-keyakinan tradisional,”paparnya.

Sementara itu, kebebasan memilih yang digagas oleh masyarakat modern, sebetulnya tidak ada dalam pandangan Acep Iwan Saidi, seorang sastrawan. “Kata yang menarik dalam dunia modern adalah memilih. Namun pada dasarnya ketika kita masuk pada dunia kita. Sudah dipilihkan, kita tidak bisa memilih kecuali pada yang sudah disediakan. Sehingga subjek itu menjadi hilang.

Menurut  Saidi, membicarakan masyarakat modernitas ataupun postmodernitas seperti halnya bermain game. Ketika keluar, mungkin banyak orang yang tidak faham tentang itu.

Dalam pandangannya, modernitas sudah lebur ke dalam masyarakat yang irasional. Kemajuan teknologi sebagai kemenangan dari modernitas tidak membuat masyarakat modern. Justeru semakin tradisional. Ia mencontohkan dengan barang yang dibelinya. “Saat orang membeli hape atau pun mobil lexus, apakah orang membeli barang dan fungsinya saja? Tidak, tetapi orang juga membeli imejnya.”ujarnya. ***[Dudi, Ibn Ghifarie]