UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kinerja Bagus karena Lima Perkara

[www.uinsgd.ac.id] Dr KH Syahrul Anwar memberikan lima catatan penting dalam pembinaan karyawan dan dosen di lingkungan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN SGD Bandung,  Selasa (17/10/2017). Kelima catatan ini dipandang sebagai strategi ampuh untuk menjalin persatuan dan harmonisasi dalam bekerja, bahkan menjadi kekuatan untuk menyatukan hubungan dalam rangka mewujudkan tujuan yang dicita-citakan.

Pertama, sebagai bawahan harus taat kepada atasan/pimpinan, agar tercipta persatuan, kebersamaan,  kerjasama, dan keteraturan dalam bekerja. ”Jika ada yang menentang pemimpin, maka akan tejadi perpecahan dan pembangkangan terhadap sistem yang sudah diatur. Ini menyebabkan terganggunya ketertiban,” jelas Dr Syahrul, Ketua Jurusan Hukum Pidana Islam (HPI) FSH ini.

Kedua, siapapun pemimpin harus senantiasa memberi salam untuk mendoakan bawahannya, termasuk tegur sapa dan memberikan senyuman untuk memberikan ketenangan bawahan. Memimpin dengan sikap ramah, hangat, dan penuh perhatian adalah sebuah kekuatan, sehingga orang yang dipimpin menjadi lebih dekat dan lebih mampu melayani kebutuhan pemimpin.

Ketiga, secara horizontal, sikap menghormati antara teman sejawat adalah salah satu cara dalam membina hubungan baik di antara rekan kerja. Jangan pernah iri pada jabatan orang lain, syukuri dan nikmati pekerjaan kita hari ini. “Hargai kesibukan rekan kerja ketika kita akan meminta bantuan! Kalau bisa carilah solusinya secara mandiri terlebih dahulu. Itu jauh lebih bagus, karena orang akan lebih menghargai usaha kita, sehingga terhindar dari kesan malas atau manja.

Yang keempat, Dr Syahrul mengingatkan bahwa di dalam birokrasi sekarang ini kinerja menjadi yang utama. Jadikanlah jabatan itu sebagai amanah yang harus diemban hingga mampu bekerja sesuai tugas dan fungsi, tidak mengambil hak orang lain.

“Kelima adalah bertawakkal kepada Allah atas rizki yang sudah diraih. Itu merupakan perkara yang sangat utama bagi seorang mukmin, karena akan membawa ke jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jangan sesekali kita melirik pada rizki orang lain, apalagi sibuk menghitungnya. Bertawakallah dan terus berikhtiar!” katanya.(Nanang Sungkawa)