UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kids Zaman Now Belajar Cinta

[www.uinsgd.ac.id] Malam minggu biasanya ditunggu-tunggu anak muda untuk merajut kisah kasih mereka—tentu kecuali bagi yang jomblo. Atau, minimal mencari hiburan zaman now yang semakin canggih dan banyak pilihannya. Tapi, sebagian anak muda Bandung pada Sabtu malam 3 November 2018 memilih kemesraan yang lain. Mereka memilih bermaiyah di UIN Sunan Gunung Djati (SGD), di acara malam puncak harlah ke-5 CSSMORA bertema “Semesta Raya Cinta” yang menghadirkan Cak Nun dan Syekh Nursamad Kamba.

Oleh karena diselenggarakan di UIN, tak heran hadirin didominasi oleh para mahasiswa universitas tersebut. Tapi tampak juga banyak wajah jamaah Maiyah, bukan hanya dari Bandung tapi dari berbagai kota Jawa Barat. Maklumlah, bermaiyah dengan Cak Nun di Bumi Parahiyangan adalah kesempatan yang jarang didapat. Selain itu, masyarakat umum juga tak ketinggalan memadati Gedung Abjan Solaeman UIN sehingga hadirin meluber keluar hingga pelataran parkir.

Ini kali ketiga CSSMORA mengundang Cak Nun menghadiri puncak harlah mereka. Persambungan himpunan mahasiswa UIN penerima beasiswa Kemenag ini dengan Cak Nun terjalin melalui Syekh Nursamad Kamba, yang merupakan dosen sekaligus pembina mereka. Tema dan nuansa yang amat spiritual dari harlah ini bisa dimaklumi karena di UIN SGD, beasiswa tersebut diberikan kepada mahasiswa jurusan Tasawuf Psikoterapi yang didirikan oleh Syekh Nursamad Kamba. Keterpautan batin dengan Maiyah makin kuat karena sejumlah mahasiswa UIN SGD menjadi pegiat simpul maiyah Bandung, Jamparing Asih.

Pada jam delapan lewat, Cak Nun tiba di lokasi dan langsung naik ke panggung diiringi Syekh Kamba, sejumlah dosen dan aktivis CSSMORA. Syekh Kamba mengawali diskusi dengan lontaran pertanyaan: “Pernahkah kita mempertanyakan, seperti apa hubungan Rasulullah Saw. dengan para sahabat? Apakah garisnya komando, perintah, atau paksaan? Atau menggunakan pendekatan cinta?” Dalam penjelajahannya di dunia pemikiran Islam, Syekh Kamba sempat menemukan keputusasaan menemukan kebenaran. Karena berbagai mazhab, aliran, tokoh, dan guru dalam Islam semua menyatakan ajarannya adalah Islam yang benar. Pada suatu titik, Syekh Kamba mendapat pencerahan bahwa segala keruwetan itu bisa teruraikan melalui jalan cinta kepada Rasulullah Muhammad Saw. Para sahabat belajar kepada Rasulullah bukan melalui suatu teori atau doktrin, tetapi dengan meneladani beliau berlandaskan perasaan cinta yang dalam. Dan sebaliknya, Rasulullah pun sangat mencintai para sahabatnya. Berdasarkan hubungan cinta ini, terwujudlah transformasi dahsyat pada diri generasi pertama Muslim, yang kemudian mengubah dunia. Oleh karenanya, Syekh Kamba berkesimpulan bahwa cinta adalah pijakan dari ajaran Islam.

Cinta kepada Muhammad membuat para sahabat dengan kesadaran dan ikhlas mentransformasikan diri mereka sesuai blueprint yang dicontohkan Muhammad. Syekh Kamba menemukan kesadaran ini tertuang secara indah, ringkas, dan mudah dipahami dalam puisi Cak Nun “Muhammadkan Hamba”. Persentuhan Syekh Kamba dengan Cak Nun dan Maiyah membuat beliau merasa menemukan ikatan cinta transformatif seperti yang beliau bayangkan terjalin antara Rasulullah dan para sahabat.

Selanjutnya, Cak Nun juga memancing diskusi dengan pertanyaan: apakah untuk kawin kita harus sudah punya pengalaman kawin? Justru malah yang paling baik, belum berpengalaman. Maka, untuk memasuki “Semesta Raya Cinta”, janganlah terlalu memusingkan soal metodologi. Rupanya, menyadari yang dihadapinya kebanyakan calon sarjana agama, Cak Nun ingin mendekonstruksi alam pikiran mereka. Metode ilmiah hanya berlaku pada beberapa hal atau beberapa puluh persen kehidupan, Hidup ini terlalu luas. Hasil ilmu pengetahuan adalah kebenaran. Padahal menurut Cak Nun, masih ada hal-hal yang lebih tinggi ketimbang kebenaran. Masih ada kebijaksanaan dan cinta. Misalnya, dalam berdakwah kita dituntun untuk ud’u ila sabili rabbika bil hikmah (QS An-Nahl: 125). Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan). Kita harus memakai cara yang tepat dan bijak dalam mengajak orang-orang yang berbeda. Harus pula memakai empati dan membaca kondisi hati mereka. Dengan kata lain, menempuh jalan cinta. Perdebatan kebenaran dalil dan sebagainya semestinya hanya berlaku di kalangan terbatas orang-orang terpelajar.

Kemudian Cak Nun mengarahkan perhatian hadirin bahwa Allah terutama hadir dalam kehidupan Muslim dalam wajah cinta. Ini tertuang dalam kata yang dihafal semua Muslim dan diucap berulang kali setiap hari: bismillahirrahmanirrahim. Semua Muslim paham untuk tidak mengganti nama Ar Rahman dan Ar Rahim dalam ucapan itu. Padahal Allah memiliki banyak nama lain. Tapi, tentu saja kedua sifat ini tidak terpisah dari 97 sifat Allah lainnya. Harus dipahami bahwa Rahman dan Rahim melingkupi sifat-sifat Allah lainnya. Dengan mentadabburi sifat-sifat Allah tersebut, Cak Nun mengajak hadirin untuk tidak mendikotomikan cinta dengan hal lain. Misalnya cinta dengan ilmu pengetahuan.

Demikian pula, tidak perlu mempertentangkan beragam cinta. Misalnya, cinta tanah air dengan cinta agama. Semua perasaan cinta kita mestilah berada dalam satu gelembung cinta kepada Allah. Cinta bukan sesuatu yang punya prosentase, karena bukan materi. Pemahaman ini membuat kita menyadari bahwa beragama adalah suatu peristiwa cinta. Shalat misalnya, bisa dinilai “kebenaran”-nya secara fikih. Tetapi dimensi kekhusyukannya adalah peristiwa cinta, kemesraan manusia dengan Tuhan yang tak terukur oleh manusia lain.

Berhubung sedang berbicara di UIN, Cak Nun berpesan kepada calon-calon intelektual Muslim itu untuk mempersiapkan diri berbicara bukan hanya kepada umat Islam. Mereka harus mampu berbicara kepada manusia, menyentuh kemanusiaan siapa pun. Karena, Rasulullah diutus kepada seluruh umat manusia. Maka, Cak Nun meminta para mahasiswa UIN untuk memperluas wawasan dan tidak terbatasi oleh ilmu-ilmu yang mereka dapatkan di fakultas. “Ilmumu di fakultas tolong di-universitas-kan, tolong di-kaffah-kan. Dikembalikan dan didorong untuk menemukan kebersatuannya dengan cinta yang besar dan ilmu yang besar. Yang tidak fakultatif, tapi universal,” demikian pesan beliau.

Acara belajar bareng tentang cinta ini ditutup pada pukul dua belas malam. Kemesraan masih berlanjut dengan momen bersalaman yang berjalan hingga pukul satu malam. Jamaah kemudian berangsur meninggalkan lokasi menembus dingin malam Bandung, sambil mengharap supaya momen kemesraan itu berulang dalam jarak waktu yang tak terlampau panjang. (Andityas Prabantoro)

Sumber, Cak Nun, 4 Nov 2018