UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Ketua Bappeda Jabar Akui Punya 5 Dosa Besar

Dalam Workshop Penelitian Dosen PTAIS se-Jabar Banten

[www.uinsgd.ac.id] Denny Juanda mengaku punya lima dosa besar selama menjabat Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat. Dosa yang dimaksud terkait dengan kapasitas Jawa Barat yang belum mampu melahir tokoh-tokoh besar untuk bersaing di pentas nasional. Selain masih punya beban berat masalah kemiskinan, rendahnya pendidikan dan kualitas kesehatan, juga belum maksimalnya memanfaatkan sumber daya manusia profesional dalam proses pembangunan.

“Selama menjadi ketua Bappeda Jabar, saya punya lima dosa besar terhadap masyarakat.  Kita belum berhasil melahirkan negarawan, para pemikir besar, pengusaha besar,  calon pemimpin, dan tokoh agama untuk bersaing di pentas nasional,” ujar Deny saat menjadi narasumber Workshop Penelitian Dosen, yang digelar Kooordinatorat Perguruan Tinggi Agama Islam (Kopertais) Wil II Jabar Banten di Puri Khatulistiwa,  Jationanngor, kemarin.

Karenanya, Deny mengharapkan ke-103 PTAIS di lingkungan Kopertais Jabar Banten berperan serta dalam membangun Jawa Barat lebih maju. “Kuasai permasalahan Jawa Barat, lalu tunjukkan kehebatan PTAIS di mata masyarakat Jabar! Bappeda siap mendukung perguruan tinggi manapun yang mampu memberikan solusi bagi kemajuan pembangunan,” kata Deny, menanggapi berbagai usulan peserta workshop.

Menurut Deny, Bappeda punya banyak program untuk meningkatkan kualitas masyarakat Jabar. Di antaranya, akan membangun perpustakaan internasional dengan program “Empat juta buku”. Ini peluang bagus bagi perguruan tinggi d Jabar, karena tekniknya  bisa saja buku   tersebut disebar ke setiap perguruan tinggi. “Kita juga men-support para peneliti dari kalangan dosen, selain ada bantuan  beasiswa bagi mahasiswa S1, S2, dan S3,” jelasnya.

Ditanya, mengapa tiba-tiba mengaku punya lima dosa besar?  “Ya saya akui itu, karena tidak ada yang mau ngaku. Kita punya tol, pembangunan malah dikerjakan oleh pengusaha luar, bukan oleh pengusaha asal Jawa Barat. Kita juga tidak punya pemikir-pemikir besar, termasuk tidak ada calon presiden asal Jabar padahal penduduk kita terbanyak kedua di negeri ini.  Makanya kita canangkan pada 2019 nanti harus ada calon presiden dari Jabar,” tegas Deny.

Sementara Ketua Panitia Workshop, Ii Sumantri menangkap banyak peluang dengan kehadiran Bappeda Jabar di hadapan para dosen PTAIS ini. Melalui workshop ini, Ia mengharapkan ke-103 PTAIS bisa merekatkan dan memanfaatkan fasilitas pemerintah. “Saya yakin, para pengelola dan dosen PTAIS akan bisa menggarap semua problematik yang dihadapi masyarakat Jabar. Tinggal ada kemauan dan mampu membuka akses ke pemerintah, ” kata Ii.

Diakui, tidak sedikit PTAIS yang berbasis pesantren berdomisili di daerah pelosok, secara lokasi maupun jaringan kurang bisa mengakses provinsi atau kurang tahu birokrasi.  “Kita akan dorong dan fasilitasi mereka untuk merapat provinsi, agar bisa ambil bagian dalam penelitian. Dananya kok ada, tinggal ada kemampuan dan memperluas network,” jelas Ii, Sekretaris Bidang Penelitian dan Pengendalian Mutu di Kopertais Jabar Banten ini. [Nanang, Dudi, Ibn Ghifarie]