UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kesalehan Berinformasi

Arus besar hoax dapat mengendalikan cara berpikir dan berkesadaran manusia, menyeret sikap dan tindakan pada apa yang diinginkan sang sumber. Wacana memproduksi kuasa dan masyarakat gosip terbentuk nyata. Konflik sosial mudah terjadi dan dalam situasi seperti ini hanya ada satu cara, bangunlah kesalehan berinformasi.

Jangankan orang awam, akademisi bertitel doktor atau bahkan profesor saja bisa menjadi konsumen hoax. Seperti yang disinyalir ahli sosiologi UIN Bandung, Prof Dadang Kahmad, sebagian besar kita telah menjadi konsumen hoax dan dengan sadar,  aktif menjadi agen penyebarannya.

Alquran telah memperingatkan situasi seperti ini dengan menggunakan istilah fâsiq kepada orang yang menyebarluaskan berita bohong, mengakibatkan kerusakan, konflik dan keresahan sosial. Quraish Shihab dkk dalam karyanya Ensiklopedi Alquran, Kajian Kosakata (2007) menjelaskan bahwa dengan berbagai bentuk kata jadiannya, ada 54 kali istilah ini dipergunakan dalam Alquran. 

Ciri orang fâsiq itu antara lain melanggar perjanjian untuk bertauhid. Alquran menjuluki fâsiq kepada ahli kitab karena dalam wahyu sebelum Alquran diturunkan, telah disebutkan akan ada nabi dan rasul terakhir, yaitu Muhammad Saw, namun mereka mendustakannya (QS Ash-Shaff:5). 

Orang fâsiq menghancurkan ciptaan Allah swt, padahal diperintahkan untuk memeliharanya. Merusak tatanan kehidupan manusia maupun alam semesta. Orang Yahudi dan munafik disebut fâsiq karena kerap membuat desas desus dan kerusuhan dalam masyarakat.

Namun seperti yang diingatkan dalam surah An-Nur ayat 4, umat Islam pun dapat dijuluki fâsiq, ketika menyebarluaskan fitnah, menuduh wanita-wanita berzinah. Akibatnya menurunkan harga diri Muslimah dan menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam waktu itu. Dengan demikian, fâsiq itu sifat yang kadang melekat pada manusia, tentu saja harus dihindari.   

Saat ini kita tengah memasuki era big data, begitu pelaku industri teknologi informasi menyebutnya. Secara sosiologis, yang paling baru lahir adalah generasi Z, setelah sebelumnya dikenal generasi X dan Y,  dimana media sosial seperti facebook, twitter, instagram, WA dan yang lainnya menjadi bagian tak terpisahkan. Internet dan digitalisasi menjadi keseharian, secara langsung dan tidak langsung berpengaruh pada cara berpikir dan sikap politik. 

Cerdas Berinformasi 

Adalah sia-sia melawan, apalagi ingin menghilangkan hoax. Kecuali untuk sekedar gaya-gayaan dan pencitraan. Negeri ini menganut politik demokrasi, dimana informasi harus dapat diakses seterbuka mungkin dan dijamin melalui undang undang keterbukaan informasi publik. Penyumbatan dan pembelokkan informasi dari sumber ke masyarakat, akan menjadi hoax. Apalagi bila dibuat dengan sengaja oleh rezim kebenaran tertentu dalam rangka membangun pengetahuan dan kuasa sehingga mampu mengendalikan kesadaran masyarakat.

Rezim aparat hukum, partai politik, negara, pemilik media massa dan kelompok kepentingan lainnya memperluas pengaruhnya dengan mendistribusikan wacana, yang kadang berupa hoax untuk kepentingan merusak lawan atau menguatkan kepentingan mereka. 

Dari perspektif psikologi sosial, hoax itu tak terlepas dari sifat negatif manusia yang suka berbohong. Kemudian dusta diproduksi masal oleh mesin kebohongan dan didistribusikan seluas-luasnya menjadi seolah-olah kebenaran.Langsung menuju masing-masing orang melalui ponsel pintarnya dan dibumbui oleh obrolan ringan berupa gosip di kantor atau warung kopi. 

Makin digosok makin sip, itu lah gosip. Hanya ikhtiar individual sajalah yang dapat menjadi kekuatan utama untuk membentenginya. Kementerian Komunikasi dan Informasi, bahkan aparat hukum itu, hanya bisa meminimalisir, tidak menghilangkan sama sekali. Oleh karena itu, cerdas berinformasi merupakan salah satu solusi. Menjadi cara untuk menjadi manusia amanah, penebar manfaat dan terpercaya.  

Kesalehan berinformasi mengandung makna kualitas kebaikan diri seorang Muslim yang mampu menerima, bersikap kritis dengan menyaring, menilai, memutuskan apakah informasi itu sahih, mampu menahan diri untuk tidak membagikan sembarang informasi kepada pihak lain dan tidak terlibat dalam sengketa di ruang publik yang menyulut kepada konflik sosial yang luas.  

Surah Al-Hujurat ayat 6 memandu, bagaimana harus bersikap:  “Hai orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu, yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.” 

Mereka yang saleh berinformasi menyadari bahwa nalar dan cara berpikir manusia sedang dipermainkan oleh para narator dengan strategi viralisasi dan penyebaran hoax. Raksasa tak berwujud rupa, jelas berkepentingan mengendalikan massa dan memiliki modal serta mampu mengkapitalisasi sikap publik menjadi keuntungan bisnis dan politik.

Pada kondisi seperti ini, tak ada benteng pertahanan yang dapat diandalkan selain diri sendiri. Area peperangannya sudah bukan lagi dalam bentuk sistem, tapi langsung head to head dengan setiap orang. Ada tiga rukun saleh berinformasi  yang harus dipahami dan diaplikasikan. Pertama, tunda, tanda kurung semua informasi penting yang diterima. Jangan mudah percaya begitu saja, apalagi langsung mengomentari dan bersikap. 

Kedua,  memeriksa dengan teliti  referensi, rujukan, sumber berita dan apa yang diinformasikan. Dalam khazanah ilmu takhrij hadis, dikenal istilah sanad, rawi dan matan. Secara sederhana, sanad mengandung makna keterkaitan informasi dari informasi sebelumnya. Apakah mungkin, informasi ini benar-benar terhubung atau tidak? Misalnya, anak remaja yang kini usianya 20 tahunan, menyampaikan informasi tentang peristiwa demonstrasi era Reformasi. Dari berita yang dapat dibuka di internet dan youtube mungkin iya dapat diketahui, tapi remaja itu bukan pelaku langsung peristiwa, tidak mengetahui secara persis apa yang terjadi. Contoh ketersambungan informasi ya seperti itu. Apakah periwayat ketika menyampaikan sebuah informasi itu memang terlibat langsung atau hanya “katanya”, kata orang lain. 

Rawi (periwayat) adalah sebutan bagi penyampai informasi. Dalam ilmu hadis, kualitas individu yang saleh, terjaga lisan dan hatinya dari perbuatan bohong adalah syarat mutlak. Kalau mendapat informasi dari lembaga atau orang yang terbukti sering berbohong, apakah kita harus percaya? Sikap kritis dibutuhkan untuk menilainya tanpa prasangka negatif tentunya.  

Matan adalah isi informasi yang disampaikan oleh periwayat. Dengan demikian, referensi, siapa penyampai informasi dan isinya harus menjadi ukuran penilaian dalam menentukan apakah informasi itu benar atau bohong.

Ketiga, mampu menahan diri untuk menyebarkan semua informasi yang diterima. Tetaplah tenang dan hati-hati. Sikap teliti dan diam bilamana belum tahu benar harus menjadi pilihan, agar terhindar dari kerusakan. Seperti diingatkan oleh sahabat Ali r.a: “Andai orang yang tidak tahu itu diam, maka akan lunturlah perpecahan.” Wallaahu’alam 

Iu Rusliana, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat-Dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Bandung

Sumber, 18 Januari 2017