UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kerukunan Agama jadi Pondasi 4 Pilar Negara

[www.uinsgd.ac.id] “Kerukunan antar umat beragama menjadi lem perekat dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI. Pemda Jabar mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Fakultas Uhsuluddin dan Civitas akademika atas terselenggaranya Seminar Kerukunan Antar Umat Beragama. Mudah-mudahan semakin mengokohkan pondasi kerukunan umat beragama di Negeri yang kita cintai,”

Gubernur Jawa Barat, melalui Dinas Kesbangpol, H. Khoerul Naim, SKM., M.Epid menyampaikan apresiasi di hadapan ratusan peserta seminar “Kerukunan Antar Umat Beragama” yang memadati Aula Multipurpose UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (25/02/2014). Peserta berasal dari berbagai latar belakang keagamaan di Indonesia; Islam, Kristen, Hindu, Ormas Keagamaan Ahamdiyah, Forum Kerukunan Umat Beragama, Persekutuan Gereja Indonesia, Walubi, PHDI, dan lain sebagainya.

Seminar diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin dengan menghadirkan narasumber dari tokoh-tokoh Agama Nasional; K. H. Hasyim Muzadi (Tokoh Islam), Prof. Dr. Frans Magnis Suseno (Tokoh Katolik), I Ketut Donder (Tokoh Hindu), Prof. Afif Muhammad, MA (Guru Besar Fakultas Ushuluddin), Prof. Drs. Dawam Rahardjo (Cendekiawan Muslim) yang dipandu oleh Dodi S. Truna.

Ditinjau dari persfektif pembangunan daerah, menurut Gubernur Jabar, kekokohan dan kerukunan ummat beragama berkontribusi terhadap pembangungan di Jawa Barat. “Provinsi Jawa Barat memiliki SDM yang paling banyak di Indonesia. Oleh karena itu penting menjaga kondusifitas antar umat beragam untuk tetap menjaga kedaulatan NKRI,” imbuhnya.

“Peran tokoh agama bisa menjaga kerukunan yang akan menjadi senjata utama dalam menghadapi rongrongan yang ingin meruntuhkan kesatuan NKRI,”ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa di Jawa Barat kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu target dalam percepatan pembangunan. Percepatan pembangunan tersebut adalah memperkokoh persatuan dan kesatuan melalui stabilitas agama, politik, sosial budaya yang berlandaskan UUD 1945. Kemudian membangun sinergitas untuk menguatkan pemerintah pusat, provinsi, dan daerah dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Di Jawa Barat pembangunan Agama dan SDM menjadi central of excellence sebagai alat untuk menghadapi dan mengantisipasi era globalisasi.

Bagi Rosihon Anwar, kerukunan umat beragama merupakan suatu hal yang niscaya untuk dipertahankan. “Kerukunan umat beragama mejadi pondasi untuk mendukung 4 pilar negara yakni bhineka tunggal ika, pancasila, UUD 1945 dan NKRI,” jelasnya.

Oleh karena itu, bagi Dekan Fakultas Ushuluddin ini, keberadaan tokoh-tokoh agama menjadi sangat vital dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Dalam pandangannya, yang menjadi problem kerukunan antar umat beragama adanya kesenjangan dalam pengetahuan tentang keagamaan.

Menurut Cendekiawan Muslim, Dawam Raharjo, program kerukunan antar umat beragama ini banyak masalah. Karena pada dasarnya kebebasan dalam menjalankan keyakinan beragama akan menimbulkan reaksi, baik dari yang disebut golongan liberalisme ataupun golongan konservatif yang teguh dalam dalam menjalankan keyakinannya. Golongan pertama akan melebur dengan penganut agama lain yang kedua akan meneguhkan keyakinannya bahwa agamanya saja yang benar.

Pada sisi lain, kebebasan berfikir yang melahirkan komunisme, sekularime juga merusak tatanan kebebasan dalam beragama. Komunisme merusak kebebasan beragama begitu juga sekularisme yang melarang agama masuk ruang publik. Padahal jika agama masuk ke ruang publik boleh-boleh saja, karena pada dasarnya agama membawa hal-hal yang baik.

Sementara itu, seperti ditulis suakaonline.com, Hasyim Muzadi, Mantan Ketua PBNU yang juga aktif dalam berbagai forum kerukunan umat beragama internasional mengungkapkan adanya perbedaan-perbedaan dalam beragama, diantaranya adalah ritual dan teologi. Meski berbeda, dia mengharapkan mampu mengalir sehingga menciptakan kemanusiaan di dalamnya.

Dalam kesempatan tersebut Hasyim menerangkan beragama itu tidak perlu fanatik yang nantinya dapat melahirkan kekerasan terhadap agama lain. “Dalam beragama, ada penjagaan eksistensi dan toleransi, atau saya bahasakan menjadi moderasi.”

“Semoga kita, khususnya mahasiswa mampu menjaga toleransi dan eksistensi dalam beragama. Jangan bereksistensi tanpa bertoleransi dan jangan bertoleransi tanpa eksistensi,” harap anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu, seperti dilansir oleh suakaonline.com.

Senada dengan Hasyim Muzadi, seperti ditulis suakaonline,  Frans Magnis Suseno juga sependapat bahwa kerukunan beragama itu bisa dengan bertoleransi lewat komunikasi. “Jalin komunikasi, bangun komunikasi di manapun kita berada agar kita saling mengenal sehingga menimbulkan kerukunan,” tegas tokoh Katholik itu.***[dudi, ibn ghifarie]