UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kemenangan Trump: Sisi Gelap Demokrasi?

Hari ini, dunia dikejutkan dengan kemenangan tak terduga Donald Trump sebagai presiden terpilih Amerika ke 45 yang akan menggantikan Barack Obama.Trump jauh mendapatkan dukungan suara meninggalkan kandidiat dari Partai Demokrat Hillary Clinton.Tentu saja kemenangan Trump ini mengejutkan banyak pihak, tak terkecuali masyarakat Amerika secara umum.

Meskipun Trump baru akan dilantik tanggal 20 Januari 2017, tapi kekhawatiran dunia akan kemenangan ini tidak bisa ditutup-tutupi. Reaksi pasar dunia yang negatif menjadi salah satu indikator kekhawatiran itu. Begitu juga down-nya server imigrasi Kanada yang diduga karena diakses ratusan ribu warga Amerika secara bersamaan, yang mencari informasi tentang cara migrasi ke Kanada, menjadi sinyal lainnya.

Tapi itulah demokrasi, suara mayoritas lima puluh persen plus satu adalah pemenangnya.Mungkin benar, itulah sisi gelap demokrasi prosedural. Prosedur bisa mengalahkan substansi dan tujuan. Meskipun bukan tokoh terbaik, tidak mempunyai pengalaman politik dan pemerintahan, tapi di dukung mayoritas maka jadilah ia presiden.

Konon beberapa pengamat politik di Amerika menyebutkan bahwa kemenangan Trump terbantu dengan para pemilihnya kaum kulit putih, pemilih pemula (masih muda), tinggal di pedesaan dan berpendidikan rendah.Ini artinya, teori politik tentang demokrasi menguatkan asumsi bahwa dalam demokrasi pemilih (voters) terkadang tidak cukup terdidik untuk menyalurkan hak politiknya. Populasi penduduk dengan tingkat intelektualitas dan pendidikan rendah akan dimanfaatkan oleh para politisi yang lebih menekankan taktik dan relasi publik daripada ideologi dalam kampanyenya. 

Dukungan kaum non-urban dan kulit putih juga bisa dimaknai sebagai legitimasi atas masih kuatnya anti imigran dan anti Islam di Amerika.

Unggulnya Trump bisa jadi bukan karena faktor sosok Trump dan program-program yang dikampanyekan. Tetapi lebih kepada kekecewaan publik (terutama kaum kulit putih) akan pemerintah yang berkuasa Obama dari Partai Demokrat. Penantang Trump, Hillary diangggap satu paket dan akan melanjutkan kebijakan-kebijakan Obama.

Selain itu, boleh jadi rakyat Amerika tidak mau presidennya ada di bawah bayang-bayang suaminya, Bill Clinton. Atau jangan-jangan mereka belum siap dipimpin perempuan. Pupuslah harapan rakyat Amerika yang mengagung-agungkan demokrasi untuk punya presiden perempuan pertama dalam sejarah negeri Paman Sam itu.

Meskipun Trump adalah seorang pengusaha sukses tetapi nampaknya isu ekonomi bukan menjadi isu utama dalam kampanyenya demikian kata Emily Stewart, salah seorang kolumnis koran the Street. Kemenangan Trump banyak dikhawatirkan pengamat politik di Amerika. Implikasinya bukan hanya akan berpengaruh terhadap Amerika, tapi juga kepada dunia, terutama kebijakan luar negeri dan imigrasi.

Jika melihat program dan janji-janji kampanye yang diutarakan Trump, banyak programnya yang kontroversial.Trump adalah sosok yang anti kaum imigran. Dalam salah satu kampanyenya dia menyebutkan akan mendeportasi lebih dari dua juta imigran ilegal yang dia anggap penyebab tingginya kriminalitas di Amerika. Termasuk di dalamnya imigran Muslim. Trump juga mengancam akan menghentikan pemberian visa bagi negara-negara yang menolak menerima kaum imigran yang dideportasi dari Amerika. 

Pernyataan kontroversial lainnya adalah keinginann Trump untuk membuat tembok raksasa diperbatasan Amerika-Mexico untuk mengurangi imigran gelap. Trump juga akan memasukan klausul pemenjaraan langsung selama dua tahun bagi imigran yang sudah dideportasi tapi kembali lagi ke Amerika.Kebijakan imigrasi Trump tentu saja akan sangat berpengaruh juga kepada para imigran Muslim yang ada di Amerika.

Jangan-jangan kebijakan kontroversial inilah yang memikat perhatian warga kulit putih Amerika menjatuhkan pilihan kepada Trump. Mungkin Trump lupa bahwa kebijakan imigrasinya tentu saja akan berpengaruh kepada ekonomi Amerika. 

Menurut Doug Holtz-Eakin presiden  American Action Forum, seperti dikutip koran the Mirror Inggris, bahwa imigrasi adalah salah satu sumber ekonomi penting bagi Amerika.Bagaimanapun kontroversialnya Trump dalam kampanye, faktanya Trump sekarang sudah terpilih menjadi presiden.Trump tentu tidak sendiri, ia memiliki banyak penasehat di sekelilingnya. Mudah-mudahan program-program kontroversial yang ia utarakan selama kampanye hanyalah ‘taktik menarik masa’ seorang pengusaha yang sedang menarik konsumen.

Pidato kemenangannya seolah menurunkan tensi kekhawatiran-kekhawatiran para pengamat dan rakyat Amerika. Dalam pidatonyaa Trump bersumpah bahwa “adalah waktunya ia menjadi presiden untuk seluruh rakyat Amerika. Bagi mereka yang tidak memilihnya dalam pemilu, Trump meminta petunjuk, masukan dan saran untuk bekerja bersama-sama membangun Amerika”.

Itulah demokrasi, ada kelebihan-kelebihan dan sisi terangnya, tapi tidak menutup kemungkinan ada sisi gelap dan kekurangannya.Kita lihat saja ke depan, mudah-mudahan kekhawatiran dunia akan terpilihnya Trump menjadi presiden Amerika tidak terbukti. Wallahu A’lam.[]

Ahmad Ali Nurdin, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, Pikiran Rakyat 11 November 2016