UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kebangkitan Bangsa Melalui Pendidikan Berkarakter

[www.uinsgd.ac.id] “Kegagalan membangun bangsa ini disebabkan oleh kegagalan membangun karakter, melalui pendidikan karakter yaitu pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terihat dalam tindakan nyata seseorang yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Karakter yang berkualitas tersebut perlu dibina dan dibentuk sejak usia dini, karena masa dini adalah masa emas namun  kritis,”

Hal tersebut disampaikan oleh Yunita, M.Pd saat memaparkan tentang pentingnya pendidikan karakter bangsa kepada ratusan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada Kamis (10/05) di Aula Utama UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam “Seminar Pendidikan Karakter”.

Menurutnya ciri-ciri zaman yang sudah kehilangan karakter itu ditunjukan dengan meningkatnya kekerasan dikalangan remaja, penggunaan kata-kata yang buruk, perilaku merusak, kaburnya pedoman moral, menurunya etos kerja, rendahnya rasa hormat pada orang tua, rendahnya tanggung jawab.

“Pendidikan karakter bangsa ditujukan dan ditekankan pada jasad yang terdiri dari empat unsure, yaitu hati, pikir, rasa, raga. Dari hati lahir karakter jujur dan bertanggungjawab. Dari pikir lahir karakter cerdas dan kreatif, dari rasa lahir karakter peduli dan suka menolong, dari raga lahir karakter sehat,”jelasnya.

Lantas bagaimana membangun karakter tersebut? Menurut dosen pada prodi pendidikan kimia tersebut mengatakan,” karakter dapat dibangun melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, serta lingkungan yang positif.”

Sementara itu pembicara kedua, M. Riyan, M.Ag yang sedang mengambil program doctor pendidikan Islam di UIN Sunan Gunung Djati, peneliti muda pada Bappenas tersebut menyatakan bahwa karakter lahir dari akar kepribadian.

”Akar kepribadian merupakan penggalian potensi terhadap akal, jasmani, naluri, dan naluri. Dari kebutuhan naluri dan jasmani akan menghasilkan tindakan dan perilaku sehingga membentuk pola sikap. Begitupun kebutuhan konseptual yang berangkat dari akal akan melahirkan pola pikir sehingga membentuk cara berfikir. Cara bagaimana berperilaku erat kaitannya dengan pola pikir dan sikap,”pungkasnya.***[dudi]