UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kasih Sayang Allah

Di tengah terik panas matahari gurun yang menyengat, Rasulullah Saw. dan para sahabat berjalan menyusuri jalan untuk suatu keperluan. Tiba – tiba, melintas dihadapan mereka seorang ibu yang menggendong bayi.  didekapnya bayi itu erat-erat dengan penuh kasih sayang seolah takut bayinya jatuh ke tanah, sambil berusaha menutupinya dengan kain, agar bayinya tidak  tersengat sinar matahari siang yang sangat panas.

Melihat semua itu, Rasulullah Saw, seolah mendapatkan tamsil kasus yang tepat, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Wahai sahabatku sekalian, akankah ibu itu tega melemparkan bayinya ke dalam api yang membara?”
Para sahabat menjawab serentak, “ tentu tidak mungkin, wahai Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah Saw., bersabda, “Ketahuilah, kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu itu terhadap bayinya. Dia-lah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim!”

Kisah di atas, mengajarkan bahwa, sifat Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang beriman di yaumil akhir adalah arrahman dan arrahim.  Kedua asma Allah ini (ArRahman rdan Arrahim) berasal dari kata arrahmah. Menurut Ibnu Faris, seorang ahli bahasa, bahwa semua kata yang terdiri dari huruf ra, ha dan mim mengandung makna “lemah lembut, kasih sayang dan kehalusan.”

Kata arrahman berasal dari kata sifat dalam bahasa arab, yang berakar dari kata kerja ra-ha-ma; artinya ialah penyayang, pengasih, pencinta, pelindung, pengayom, dan para mufassir memberi penjelasan bahwa “arrahman” dapat diartikan sebagai sifat kasih Allah pada seluruh makhluk-Nya di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya.

Dengan kasih-Nya ini, Dia mencukupkan semua kebutuhan hidup makhluk di alam semesta. Hanya saja limpahan kasih ini hanya diberikan Allah pada semua mahluk selama hidup di dunia saja, di akhirat kelak kasih sayang ini hanya diberikan kepada orang beriman yang menjadi penghuni surga.

Sementara itu, “arrahim” – Yang Maha Penyayang…, di dalam al-Quran, Allah mengulangi kata ini sebanyak 228 kali, jauh lebih banyak dari asma Allah, arrahman yang hanya disebutkan sebanyak 171 kali. Jika kata Arrahman, sifatnya berlaku untuk seluruh manusia, maka kata yang kedua Arrahiim, sifat-Nya yang hanya berlaku pada situasi khusus dan untuk kaum tertentu semata.

Rahim juga disebut sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Di alam rahim inilah bermulanya kehidupan. Di alam rahim kehidupan ideal kita dijaga dan dipelihara. Bahkan, di alam rahim pula, setiap manusia dipersaksikan “apa dan kemana” tujuan hidupnya. Maka tak heran apabila bayi dilahirkan, ia akan menangis, karena meninggalkan rahim yang melimpahkan sayang dan rasa aman. Di dalam sifat rahim Allah, kita akan hidup dengan aman, nyaman, penuh kemuliaan, sentosa dan penuh keberkahan.

Maka, sebutlah nama-nama Tuhan yang indah, dalam setiap awal doa dan permintaan. Mereka yang selalu membasahi bibirnya dengan kata, arrahman dan arrahim, maka Allah akan melimpahkan  kasih saying-Nya yang tak terbatas. Siapa saja  dikasihi dan disayangi Allah. Maka tak satupun makhluk di dunia memiliki alasan untuk membenci, kecuali mereka yang telah dikuasai nafsu angkara murka. Wallahua’lam.[]

Dadang Kahmad, Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung dan Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung.

Sumber, Republika 13 Agustus 2015