UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Kandungan Al-Fatihah

Oleh Drs.H. Ayat Dimyati, M.Ag

Diawali mukadimah dari ketua DKM tentang program aksi dari Rektor UIN SGD Bandung periode 2012-2016, yaitu computer skill (mhs harus menguasai computer), linguist ability  (mhs harus menguasai bahasa Arab dan Inggris), tahfidz  juz 30  bagi seluruh mahasiswa dan mampu membaca kitab kuning bagi mahasiswa di prodi-prodi Agama, maka Drs. H. Ayat Dimyati, M.Ag dalam kultum ba’da Dzuhur yang ke  467, memaparkan tentang pentingnya ketiga hal di atas.

Beliau berkata, ada lima penguasaan pada program Pendidikan  yaitu menghafal,  memaknai, menulis, membaca, dan meyakini . maka kelima hal tersebut akan mengantarkannya menjadi Ulama, dan ini yang diharapkan oleh pendidikan, yaitu mencetak para ulama. Sebab sabda Rasul :
الناس كلهم موتى الا العلماء، والعلماء متخيرون الا العاملون ، والعاملون على وجل الا المخلصون

Tidak sampai berhenti di sini sebab ulama masih timpang jika belum sampai pada tingkat Aamiluun, dan selanjutnya mahasiswa sebagai produk UIN diharapkan memenuhi criteria terakhir yaitu sebagai para ahli dibidangnya masing-masing yang memiliki keikhlasan. Untuk memenuhi criteria tersebut maka kita dapat belajar dari isi surat Al-Fatihah yang jika kita simpulkan memiliki 2 nilai penting:
Pertama, Input Value yang merupakan isi hikmah dari ayat 1 – 4. Kedua, Process Value yang dikandung pada ayat 5-7.

Al-Fatihah sebagai manajemen nilai atau spiritual management telah banyak diterapkan di perusahaan-perusahaan, dimana kehadiran pegawai bukan ditandai dengan goresan tanda tangan namun, dinyatakan dengan sholat dluha, dimana ayat 1 – 4 menjiwai sikap mental optimis, manusia sebagai makhluk yang nisbi, Allah lah yang abadi, berdo’a pada setiap mengawali dan mengakhiri pekerjaan dan pada ayat مالك يوم الدين  merupakan nilai pertanggungjawaban.

Selanjutnya ayat ke 5 – 7 menjiwai proses pada sebuah kepemimpinan, dimana seluruh aktivitas dijiwai dengan ibadah dan selalu mengharapkan petunjuk. Petunjuk atau hidayah ini disimbolkan dengan Alif, sedangkan jalan sesat disimbolkan dengan Lam dan perjalan hidup manusia yang berliku disimbolkan dengan Mim. Ekor yang ada pada huruf mim ini, menunjukkan bahwa lika-liku manusia yang mengalami naik turunnya iman dan berlumuran dosa diberi jalan keluar dengan bertobat dan keluar dari lingkungan maksiat dengan tidak mengulangi perbuatan tersebut ( Taubatan Nashuhah)

Sumber : Disarikan dari Kultum ba’da Dzuhur di Mesjid Ikomah UIN SGD Bandung yang ke  467.