UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Islam Moderat di Jawa Barat

Fakta sosiologis dan antropologis menggambarkan kepada kita bahwa Indonesia merupakan negara majemuk, dimana tumbuh kembangnya beragam etnis, budaya dan juga beragam agama. Tentu saja Indonesia bukanlah milik sebuah etnis tertentu, bukan juga milik agama tertentu, melainkan Indonesia milik semua warga Indonesia yang terikat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Memiliki cita-cita luhur yaitu menjadikan Indonesia sebagai Negara Kesatuan yang berdaulat, mandiri, dan terhindar dari konflik horizontal warga negaranya. Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang bagaimana membangun dan mewujudkan suasana dinamis dan harmonis dalam kehidupan masyarakat.

Pada konteks itu pula, keberadaan Program Studi Agama-Agama di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung menjadi penting. Studi Agama-Agama adalah nomenklatur baru dari Program Studi Perbandingan Agama. Tentu saja, bukan dalam rangka membanding-bandingkan, namun dalam rangka mengukuhkan akidah, sehingga keyakinan keberagamaan semakin kuat dan memahami wawasan luas tentang agama yang ada dan berkembang di Indonesia bahkan dunia. Itu lah sebabnya wajar kalau muncul penilaian bahwa Islam moderat di Jawa Barat basisnya ada di Fakultas Ushuluddin UIN Bandung. Bekal ilmu tauhid, hadis, tafsir dan ilmu agama Islam lainnya akan memberikan pondasi kokoh dalam menguatkan akidah para mahasiswa dan lulusan. Sementara kajian sosiologis tentang agama-agama lain akan semakin memberikan wawasan bahwa di luar Islam ada agama lain dan kita harus membangun hubungan yang harmonis satu sama lain.

Dalam konteks kehidupan keagamaan di Indonesia, memang pemahaman keagamaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat Indonesia sangat beragam, hal ini terkait dengan budaya masyarakat Indonesia yang menopangnya. Islam di Indonesia hadir dengan wajah lokal masyarakat Indonesia, sehingga menjadi khas Islam Indonesia atau populernya disebut Islam Nusantara yang mengembangkan nilai rahmat bagi seluruh alam.

Quraish Shihab dalam satu kata pengantar sebuah buku, mengatakan bahwa berdasarkan analisis M.B. Hooker, Robert Hefner, John L. Esposito dan William Liddle, keberadaan Islam di Nusantara bercorak  sangat spesifik dimana ekspresinya secara intelektual, kultural, sosial, dan politik bisa jadi dan kenyataannya memang berbeda dengan ekspresi Islam yang berada dibelahan dunia yang lain. Islam Indonesia merupakan perumusan Islam dalam konteks sosio-budaya bangsa yang berbeda dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah.

Hal ini tentu menjadi isyarat bahwa Islam berkembang sesuai dengan budaya lokal yang menopangnya. Menggambarkan betapa Islam hadir dengan wajah yang penuh kedamaian, kesejukan dan inilah yang harus menjadi perhatian bersama umat Islam Indonesia. Bagaimana Islam Indonesia menjadi Islam yang betul-betul dapat membawa kesejukan bagi semuanya. Tentu karakteristik agama dan keberagamaan yang dinyatakan tersebut meruju pada paham keagamaan Islam moderat, yakni sebuah paham keagamaan yang mendorong terhadap prilaku keagamaan yang toleran, prilaku saling hormat menghormati dicantara sesama umat beragama. Islam moderat nampaknya menjadi model pemahaman  Islam yang cocok untuk dikembangkan di Indonesia, hal ini sesuai dengan semangat Kementerian Agama untuk mengembangkan Islam moderat sebagai model ekspresi keagamaan, terutama kaitannya dengan keberagaman dan kebinekaan.

Studi Agama-Agama
Kenyataan kehidupan beragama yang beragam di Indonesia, memunculkan suatu pertanyaan  dasar, terkait dengan bagaimana membangun kehidupan yang harmonis di tengah-tengah masyarakat beragama yang beragam tersebut. Tentu, kondisi ini dijawab dengan tepat oleh Mukti Ali, dengan  mendirikan jurusan Perbandingan Agama sebagai salah satu jurusannya pada program Strata-1 dibuka di Institut Agama Islam Negeri Yogyakarta pada tahun 1960. Jurusan Perbandingan Agama didirikan berdasarkan pada realitas sosial masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, budaya dan agama. Yang dalam sejarah perkembangannya belum sanggup menciptakan hubungan harmonis antar pemeluk agamanya. Fenomena tersebut secara ilmiah bersumber dari rendahnya pemahaman agama dalam tataran sosial dan kekedapan ajaran agama terhadap ajaran agama lain. Truth claim dari satu agama terhadap agama lain menjadi ciri cara beragama tersebut, dan titik inilah yang seringkali menjadi sumber konflik di Indonesia. Maka dibutuhkan penyadaran setiap warga negara beragama terhadap ajaran agamanya masing-masing dengan kesadaran kebersamaan dalam perbedaan. Islam, sebagai agama mayoritas di Indonesia, memiliki tanggung jawab untuk memberikan penyadaran akan keberagamaan dan kemestian menciptakan rahmatan li al-`alamin bagi agama-agama lain. Untuk itu dibutuhkan kajian agama secara ilmiah dan akademik dalam Jurusan Perbandingan Agama.

Kajian agama secara ilmiah akademik, dalam jurusan ini, bukan untuk membedah dan memprofankan yang sakral tetapi lebih ditekankan pada meneliti, memahami, menjelaskan implikasi dan dampak dari pemilikan pemikiran teologis secara individu serta realitas keberagamaan manusia secara kolektif. Dengan kajian yang dikembangkan jurusan ini diharapkan agama tidak lagi menjadi sumber konflik tetapi menjadi sumber positif dan inspiratif yang  dinamis bagi kemaslahatan. Atas dasar tujuan di atas penyajian materi perkuliahan di jurusan ini didekati dengan cara holistis, kritis dan terbuka terhadap berbagai aspek dalam agama. Lewat cara itu diharapkan ditemukan kebenaran yang paling fundamental dalam memahami pemahaman dan perbedaan sebagai proses atau cara mengekspresikan diri yang serba relatif.

Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jurusan Perbandingan Agama adalah salah satu jurusan yang terbilang tua. Jurusan Perbandingan Agama berdiri bersamaan dengan diresmikannya Fakultas Ushuluddin dan Syari`ah di Bandung serta Fakultas Tarbiyah di IAIN Sunan Gunung Djati di Bandung pada tanggal 5 April 1968 dengan keputusan Menteri Agama nomor: 57 tahun 1968, dan pada tahun 2016 jurusan Perbandingan Agama berubah menjadi Studi Agama-Agama berdasarkan peraturan Menteri Agama No 33 tahun 2016.

Sebagaimana diketahui bahwa  Jurusan ini dibentuk salah satunya berdasarkan kondisi realitas sosial masyarakat Indonesia yang majemuk, sehingga dengan kehadiran Jurusan ini diharapkan tercipta pemahaman keagamaan yang baik di kalangan penganut agama yang pada akhirnya akan memunculkan sikap toleran dan terwujudnya kerukunan hidup antar umat beragama. Jurusan Studi agama-agama memiliki tujuan diantaranya; mencetak sarjana yang profesional dalam studi agama-agama yang berparadigma Islam dan dalam semangat ke Indonesia-an, menyiapkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi positif bagi peningkatan wawasan dan pemahaman keagamaan di masyarakat; merumuskan konsep-konsep baru dalam bidang ilmu studi agama-agama untuk mendukung penyelesaian problematika masyarakat sesusi tuntutan dan perubahan zaman; menyiapkan lulusan yang bersikap terbuka dan toleran dalam menghadapi pluralitas agama dan mampu membina krukunan hidupa antar umat beragama; menyiapkan lulusan yang mampu mengelola lembaga-lembaga keagamaan dan mampu memberikan pelayan dalam bidang keagamaan, sosial, budaya, dan lain-lain.

Adapun prospek lulusan Studi Agama-agama adalah akademisi dalam studi agama-agama, sosiologi agama, pendidikan kerukunan umat beragama; peneliti madya dalam studi agama-agama, sosiologi agama, dan kerukunan umat beragama; aktivis dan mediator sosial keagamaan, kemasyarakatan dan perdamaian di tingkat nasional dan internasional; penyuluh agama, Pusat Kerukunan Umat Beragama (PNS) pada kementrian Agama RI dan konsultan HRD (human resources developmen) pada lembaga pemerintah dan swasta.

Jadi semangat membangun Islam moderat di Indonesia sejalan dengan kehadiran jurusan Studi-Agama-Agama. Oleh karena itu keberadaan jurusan ini penting untuk memfasilitasi bagaimana masyarakat Indonesia memiliki pemahaman keagamaan yang baik, sehingga akan tercipta suasana harmonis dan nyaman dalam kehidupan masyarakat, dan hal ini tentu menjadi penguat bagi keutuhan NKRI.

Deni Miharja, Ketua Jurusan Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN  Bandung.

Sumber, Pikiran Rakyat 19 Juni 2017