UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Idulfitri di Tanah Suci

Kerinduaan umat Islam terhadap tanah suci  tidak diragukan lagi. Muslimin  yang belum mampu mengunjungi tanah suci sehingga berbagai usaha dan doa terus dimaksimalkan. Tapi bagi mereka yang sudah menunaikan haji maupun umrah  malah “ketagihan”.

 

Mengunjungi tanah haram ibarat meminum air laut. Semakin diminum semakin haus untuk mengunjunginya kembali. Demikian pengakuan beberapa jemaah umrah Qiblat Tour yang  setiap tahun menjadi “pelanggan tetap” umrah.

 

Hanya, dengan terbatasnya kuota haji sehingga  kerinduan terhadap tanah haram untuk menunaikan ibadah haji harus menunggu lima sampai enam tahun. Bila melalui jalur khusus atau haji plus  juga harus menanti sampai dua sampai tiga tahun. Seiring dengan renovasi dan pelebaran Masjidilharam sehingga  penyelenggaraan haji dan  umrah pun mulai mengalami kesulitan tiket dan fasilitas hotel terutama untuk di Kota Makkah. Di lain pihak minat Muslimin untuk umrah dan haji  sangat meningkat.

 

Menunaikan umrah pada bulan Ramadan, sungguh begitu tinggi dan agung nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada seorang wanita dari kalangan Anshar:  “Kalau bulan Ramadan telah tiba, maka tunaikanlah umrah, sebab umrah di bulan Ramadhan menyamai ibadah haji.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Hal itu dikarenakan selain ibadah umrahnya sendiri merupakan ibadah sunah yang utama, bulan Ramadan juga merupakan rajanya bulan yang penuh rahmat, magfirah serta pembebas dari api neraka.  Menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadan, pasti menghasilkan keutamaan-keutamaan yang luar biasa, dengan pahala ibadah yang dilipatgandakan oleh Allah Swt.

 

Meskipun harga umrah Ramadan lebih tinggi dibandingkan umrah di bulan-bulan lainnya, namun minat Muslimin untuk berumrah tak surut. Bukan hanya soal harga paket umrah, namun visa urmah Ramadan pun perlu perjuangan keras. Kalau pun ada visa, maka harganya sangat  mahal. Sehingga banyak travel yang pemberangkatannya tidak tidak sesuai dengan jadwal bahkan tidak bisa memberangkatkan jemaahnya pada bulan Ramadan.

 

Merespon kerinduan umat Islam terhadap tanah jaram yang tidak bisa ditunaikan pada bulan Ramadan, Qiblat Tour akan menyelenggarakan umrah bulan Syawal  sekaligus merasakan Idulfitri di tanah suci.  Dengan menunaikan ibadah umrah di bulan Syawwal, diharapkan adanya kesinambungan dalam menjaga kefitrahan jiwa yang di terpa di bulan Ramadhan, dengan puncaknya Idulfitri

 

Idulfitri bermakna  kembali kepada kesucian (fitrah), bersih dari segala noda dan dosa seperti bayi yang baru dilahirkan dalam keadaan suci. Dalam pandangan Murtadha Muthahhari, fitrah adalah kecenderungan manusia untuk ber-Tuhan. Sedikitnya ada lima  jenis fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia yaitu mencari kebenaran/kesempurnaan, cenderung mencintai dan melaksanakan kebaikan,  menyukai keindahan, berkarya (kreasi),  dan orientasi menghambakan diri kepada Ilahi.

 

Perintah beribadah juga berkaian erat dengan kenyataan bahwa kita milik Allah sepenuhnya. Sebelumnya kita tidak ada, kemudian Allah Swt adakan. Jangankan harta dan tahta, malah diri ini saja berasal dari Dzat Yang Maha Ada  dan akan kembali kepada-Nya. Karena itu, hakikatnya kita berhutang kepada Allah. Rasa keberhutangan inilah elemen mendasar dari kepasrahan diri manusia kepada Allah.

 

Mengembalikan diri kita kepada Allah Swt adalah proses menjadikan diri kita ini kembali pada fitrah yang sesungguhnya, kepada jati diri kita dengan jalan mengabddikan diri kepada-Nya. Pengetahuan ini akan menuntun kita dengan sepenuh hati dan dengan kesadaran yang tinggi mengabdikan diri kepada Allah Swt melalui ketaatan atas perintah, hukum-hukum dan menghindari larangan-Nya. Jadi sama sekali tidak ada paksaan, namun sebaliknya, secara sadar, penuh keikhlasan semata-mata karena Allah Swt.

 

Setiap ibadah sejatinya memiliki hikmah yang akan menghantarkan manusia pada fitrahnya. Namun hikmah tersebut ada yang mudah diketahui dan banyak jumlahnya dan ada pula yang sulit digali dan sedikit jumlahnya. Seberapa banyak hikmah yang dikandung suatu ibadah, sangat tergantung pada kualitas seseorang dan usahanya dalam menggali hikmah tersebut.

 

Harapan setiap kita, tentunya bila ibadah Ramadhan selesai dilaksanakan dengan baik, dan sebaik-baiknya kembali menjadi pribadi-pribadi yang suci dari dosa bagai bayi (fitrah). Sebaik-baiknya yang telah meraih fitrah itu adalah yang mampu menjaga kefitrahan tersebut melalui berbagai amalan yang disunahkan di bulan  Syawal.

 

Jangan lupa sempurnakan kesucian dengan upaya menjaga dan  meraih kefitrahan jiwa melalui ibadah umrah Syawal di tanah suci. Sehingga  diharapkan jiwa tetap fitrah dan senantiasa mendapat ridha Allah.  Aamiin.***

Penulis, Pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour Jln. Taman Cibeunying Selatan 15 Kota Bandung dan Dosen UIN Sunan Gunung Djati

Sumber, Pikiran Rakyat 17 Juli 2012