UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

HMJ AF Gelar Diskusi Film KVSK

[uinsgd.ac.id] Upaya memberantas budaya korupsi yang tumbuh subur di Indonesia ini, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Aqidah Filsafat (AF) Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Transparency Internasoinal menggelar bedah film dan diskusi “Kita Versus Korupsi (KVSK)” dengan menghadirkan pembicara; Dodo widarda M.Hum (Dosen AF), Indra (Perwakilan KPK), Ine Febrianti (Sutradara), Alexandra Natasha dan Nasha Abigail (Pemeran Film) yang dipandu oleh Neng Hannah, M.Ag (Dosen Filsafat Sosial) di Auditorium Utama UIN SGD Bandung, Rabu (11/4) Sekitar 243 peserta ikut nonton bareng film KVSK yang terdiri dari mahasiswa, dosen UIN Bandung.Sebagai pengantar diskusi tim KVSK membagikan selembaran tentang film KVSK. Korupsi selama ini hanya dipahami sebagai kegagalan pemerintahan (hokum, birokrasi, parlemen, system fiscal dan seterusnya), sehingga agenda reformasi selalu diarahkan kepada sisi pemerintahan. Padahal nilai-nilai korupsi juga terus diproduksi oleh masarakat, baik melalui keluarga, dan sekolah termasuk gaya hidup hedonis di masarakat.Film KITA versus KORUPSI (KVSK) ini tidak menyajikan kisah-kisah investigatif dari kasus-kasus mega korupsi di negri ini. Tetapi ingin mengangkat kondisi system nilai yang hidup dalam keseharian kita. Di sekolah, dalam keluarga, di tempat kerja,  yang membentuk masyarakat yang jujur atau sebaliknya.Selama nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesederhanaan dan rasa empati terhadap sesama mulai tersingkirkan dalam masarakat kita, berapapun besarnya program antikorupsi tidak akan banyak hasil yang dicapai.Film ini merangkai empat film pendek jadi satu (ominibus.) masing-masing film menyajikan cerita orang-orang biasa saat berhadapan pada pilihan antara melakukan perbuatan korupsi atau menolaknyaa. Menjadi cermin bagi penonton untuk melihat diri sendiri, keludian mendiskusikannya secara kritis sehingga korupsi tidak lagi kita anggap sebagai prilaku yang bias diterima dan koruptor bias dimaafkan.Film pertama, Rumah Perkara. Dengan latar belakang suasana pinggiran kota, menggambarkan bahaya dari perbuatan pemimpin yang korup. Ketika seorang lurah mestinya menjadi pelindung warga, malah jadi kaki tangan pengusaha yang menggusur rumah warga untuk sebuah proyek real  estate. Penghianantan sang lurah telah menyengsarakan orang banyak. Selain itu, menyuburkan kebohongan dalam hubungan rumah tangga dan membuat anak kehilangan panutan.Film kedua, Aku Padamu, menggelitik kita dengan sikap seorang gadis yang tidak bangga dengan menjadi anak seorang koruptor. Sangat kontras dengan fenomena kekinian ketika banyak kaum muda justru gemar  memamerkan mobil atau gadget dari orangtua tanpa mengkritisi bagaimana itu diperoleh. Kehadiran figure guru yang sederhana dan jujur, namun sangat peduli dan dekat dengan murid-muridnya begitu membekas di hati sang gadis hingga dewasa. Suplai koruptor bias dihambat hanya mungkin jika masarakat mulai berhenti mengidolakan koruptor, sekaligus mencari teladan-teladan disekitar mereka.Film ketiga, Selamat Siang Risa menggetarkan kita dengan keteguhan keluarga yang menolak sogok, padahal anak mereka sedang sakit keras. Dengan latar belakang tahun 70-an yang kental, sang ayah yang dipercaya menjadi mandor gudang sebuah perusahaan pemerintah, justru mempertanyakan sikap sang pedagang yang menimbun beras saat situasi rakyat sedang kelaparan. Film ini mengajak untuk memikirkan sikap-sikap kita yang sering mengambil untung dari situasi sulit.Film keempat, Psstt… Jangan Bilang Siapa-Siapa! Membidik potret buram dunia pendidikan dan rumahtangga  yang telah digrogoti sikap permisif terhadap korupsi. Film ini diam-diam menyajikan realitas siswa-siswi yang menjadi korban kepala sekolah dan guru yang mencari untukng dalam penjualan buku. Siapapun yang tidak membeli buku yang telah di-mark-up itu akan celaka. Kebanyakan siswa tidak menyadari, sementara orangtua juga tidka merasa terganggu. Dengan gaya hidup serba hedonis dan berorientasi materi, mereka sudah tidak ambil pusing terhadap sikap gur dan kepala sekolah. Namun tidak demikian dengan seorang siswi yang sangat berani, namun santai, yang mencoba merekam keganjilan-keganjilan ini  dan menyodorkan pertanyaan, “menurut kamu, siapa yang salah?”Sebelum diskusi dimulai, beberapa penonton diminta untuk mengapresiasi film KVSK. Yogi Supriadi, mahasiswa AF menjadi aprersiator pertama, Ia berkomentar “Film ini menyadarkan bahwa orang-orang secara tidak sadar mendukung korupsi, jika korupsi dibiarkan begitu saja” katanya. Apresiator Kedua, Herton Maridi, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris menuturkan “Karya yang baik, termasuk film, adalah karya yang membuat orang sebagai penikmat tersadarkan akan ralitas.”Indra, mengajak peserta diskusi untuk tidak pasif terhadap korupsi, Ia menyerukan “Korupsi harus kita lawan bersama, jangan beri ruang gerak terhadap korupsi dan kalau ada perbuatan yang mengandung unsur korupsi silahkan adukan langsung ke KPK”. Bagi Dodo yang membicarakan tentang ilmu dan filsafat tidak hanya untuk kelangsungan akademis semata. “Akan tetapi ilmu dan filsafat berfungsi untuk transformasi kesadaran, untuk melawan banalitas, dan untuk revolusi mental, sebuah perlawanan terhadap mental-mental korup,” tegasnya Memang banyak pesan moral yang bisa diambil dari film KVSK, karena film ini bukan hanya bertujuan untuk suguhan semata, tetapi untuk menyadarkan penonton bahwa korupsi itu sangat merusak, dan menyadarkan bahwa sikap-sikap korup ada di setiap diri yang tidak menyadari akan kelalaian yang disistematisasi. “Film ini mengajak pada setiap orang untuk sadar akan tindakan-tindakan kita yang mendukung tindakan korupsi,” ucap Hanah sebagai penutup kegiatan. [Pedi Ahmad, Ibn Ghifarie]