UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Hilangnya Selokan Kami

Banjir dan macet parah yang kini melanda, salah satu faktor penyebabnya adalah selokan mulai menghilang karena dibangun oleh pemilik lahan atau mengalami pembetonan. Memang terlihat sederhana dan remeh temeh, tapi dampaknya sangat merugikan. Tanah telah menjadi emas,  membagikannya untuk selokan yang hanya sepuluh centimeter atau seluas-luasnya satu meter, butuh kedermawanan.

Dominasi kepentingan pribadi menjadikan akal sehat dan nurani dikesampingkan. Ketika air meluap, tak sanggup menampung, meluber dan membanjiri jalan. Macet pun tak terelakan. Sementara aturan hukum tak ada, seolah urusan selokan hanya soal kemurahatian pemilik lahan.

Dari perspektif Islam, memberikan tanah untuk selokan merupakan kebajikan abadi, wakaf khairi, untuk kepentingan umum. Sayangnya tentang ini, tak banyak kiai dan ustadz yang membahasnya.

Dari perspektif filosofis, selokan adalah cermin altruisme dan moralitas publik. Peduli dan sadar lingkungan salah satunya ditentukan oleh kondisi selokan. Secara historis, selokan ada karena kearifan lokal orang tua dulu yang mengalirkan air sebaik mungkin.     

Selokan merupakan cermin kegotongroyongan. Kebersamaan antara tetangga dan masyarakat tercipta. Kepedulian kepada sesama diuji dengan kesediaan memberikan dan menjaga selokan.   

Secara politik, hilangnya selokan mencerminkan absennya peran negara mengatur kenyamanan, ketertiban dan kesehatan masyarakat. Pemerintah abai dengan hal sederhana namun penting. Ego dan individualisme lebih dominan dibanding peran negara.  

Dari perspektif hukum, selokan merupakan kepentingan umum yang harus dijaga. Hanya saja, tak ada aturan hukum yang tegas untuk mengatur dan melindunginya.  Hukumpun mandul, tak bisa berperan menjadi alat memperbaiki perilaku sosial manusia agar jauh lebih beradab.

Kini dibutuhkan keswadayaan dan perspektif baru dalam memahami lingkungan dari sisi keimanan. Tentu saja, kebijakan pembangunan yang pro lingkungan menjadi arus utamanya, dimana publik menjadi bagian utama untuk mendukungnya.

Keswadayaan

Curah hujan yang tinggi telah membuat kita harus waspada dan bertindak bersama menyelamatkan selokan. Sejumlah langkah harus dilakukan, antara lain; pertama, mulai dengan membangun keswadayaan masyarakat secara masif. Berikan edukasi untuk tidak menutup jalur selokan dan jangan membuang sampah sembarangan. Peran tokoh masyarakat dan agamawan sangat penting. Wacana teologi lingkungan perlu kembali disuarakan.

Kedua, menyusun peraturan daerah terkait pengaturan selokan dan menegakkan aturan hukumnya secara tegas dan adil. Lindungilah alur selokan agar tetap ada hingga kapanpun dan tanah untuk selokan wajib disediakan.

Ketiga, menyusun skema tata ruang yang terintegrasi. Perumahan dan jalan harus menyediakan selokan lebih dari cukup, agar sebesar apapun debit air mengalir, tetap dapat ditampung.

Teologi Lingkungan

Dari hilangnya selokan, iman kita tengah kembali diuji. Dalam Islam, lingkungan sosial dan lingkungan alam merupakan satu kesatuan. Merusaknya merupakan perbuatan dosa. Secara sederhana, beriman yang utuh bukan hanya mengimani enam hal yaitu Allah Swt, malaikat-Nya, kitab suci-Nya, rasul-Nya, qadha dan qadar serta hari pembalasan, tapi dicerminkan dengan perilaku menjaga lingkungan alam kerusakan. Ini lah inti dasar prinsip teologi lingkungan perspektif Islam.

Dalam berbagai ayat al-Quran, Allah Swt  memberikan berbagai peringatan. Misalnya dalam  al-Qur’an surat Ar-Ruum (31): 41 yang menyatakan:  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Pada surat lainnya, Allah memperingatkan, bahwa yang membuat kerusakan adalah yang melampaui batas. Misalnya dalam Asy-Syu`araa` (26): 152 yang menyatakan: “Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas.” Ayat berikutnya menyatakan yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.                                                                           

Sesungguhnya, bukan hanya Islam yang mengajarkan kewajiban menjaga alam, agama lainpun demikian adanya. Bahkan, kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat adat mengajarkan arti penting menjaga alam. Konsep hutan larangan dan berbagai adat istiadat di masyarakat banyak memberikan informasi kepada kita bahwa alam itu diyakini harus dijaga sepenuhnya. Alam dianugerahkan Tuhan kepada manusia untuk dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa merusaknya.

Pandangan yang berkembang dalam teologi lingkungan diharapkan melahirkan sikap arif kepada alam (kearifan kosmologis). Ada beberapa prinsip teologi lingkungan. Pertama, iman sejatinya adalah dibuktikan dengan upaya melindungi alam dari berbagai kerusakan. Iman dalam Islam, termasuk di dalamnya membuang duri di jalan. Artinya, jangan pernah merusak alam karena itu sama dengan sikap kafir (pembangkangan).

Kedua, bukan alam yang menyesuaikan dengan kehendak manusia, tapi manusia lah yang harus menyesuaikan dirinya dengan alam. Alam diciptakan oleh Tuhan dengan prinsip kausalitas, qadha dan qodarnya. Jangan mengganggu keseimbangan alam karena pada akhirnya akan merugikan kita.

Jika memperhatikan prinsip awal teologi lingkungan, tidak ada istilah pembangunan pemukiman dan kota yang memberikan potensi banjir atau kerusakan. Sistem pengairan suatu pembangunan harus diatur dengan sangat baik.  Daerah serapan air harus dijaga jangan sampai menjadi perumahan atau dijadikan villa. Demikian juga, sampah harus dikelola dengan baik sehingga tidak menyumbat selokan atau gorong-gorong jalan. Selokan harus tetap ada, agar air tetap lancar mengalir.

Ketiga, alam tidak pernah menghancurkan manusia, tapi manusialah yang merusak alam. Aliran air ditutup, karena selokannya dipergunakan untuk tempat usaha, garasi rumah atau dibeton. Air tak lagi mendapatkan tempat, akan tetap mengalir dan merusak apapun yang menghalanginya.

Keempat, dalam konsep teologi lingkungan, alam, tumbuhan, hewan, dan manusia terjalin relasi harmonis dalam satu kesatuan. Keberadaannya untuk saling memberikan kemanfaatan. Manusia sebagai pengelola harus arif dan memahami hukum alam yang menyertainya.

Kini menjadi tugas bersama untuk memastikan kenyamanan, ketertiban dan kesehatan bersama terasa nyata. Mari wariskan lingkungan yang lebih baik untuk generasi mendatang dan memulainya dengan menyelamatkan selokan. Wallaahu’alam.

Iu Rusliana, Dosen Jurusan Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, berkhidmat di Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat.

Sumber, Pikiran Rakyat 1 Maret 2016