UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Guru Besar Harus Berperan Demi Kemajuan Bangsa

Guru besar di perguruan tinggi seharusnya dapat berperan sebagai aset pemikir berkontribusi positif terhadap kemajuan dan masa depan bangsa dalam menyelesaikan segala persoalan kebangsaan dan kenegaraan yang sesuai dengan disiplin keimluwannya.

“Guru besar bukan hanya mengurus persoalan internal, seperti kenaikan kepangkatan, tunjangan makan, mempercepat dosen-dosen muda untuk jadi profesor,” ungkap Ketua Senat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, M.Si,

Menurutnya, tugas mulia guru besar itu mesti memberikan kontribusi besar dalam penyelesaian persoalan bangsa karena bangsa kita sedang mengalami berbagai krisis, termasuk krisis dalam masalah kepemimpinan.

Pernyataan Nanat itu disampaikan dalam sambutan kunjungan Ketua Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI), Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D beserta rombongan yang didampingi, Sekretaris Senat, Prof. Dr. H. Idzam Fautanu, MA., dan Rektor, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si yang digelar di gedung O. Djauharuddin AR, Kampus I, Jl. A.H Nasution No. 105 Cipadung Cibiru Kota Bandung, Selasa (19/02).

Dijelaskannya, saat ini UIN SGD Bandung baru memiliki 36 guru besar dengan berbagai rumpun dan disiplin ilmu.Oleh karena itu, katanya, hadirnya Ketua Forum Dewan Guru Besar Indonesia beserta rombongannya ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

“Kualitas guru besar di kampus dapat menentukan kualitas dan mutu pendidikan perguruan tinggi. Oleh karena itu, sebagai etalase perguruan tinggi, para guru besar harus memberikan peran fundamental dan kontribusi nyata dalam memajukan dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam,” paparnya.

Ketua FDGBI, Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D mengakui Indonesia masih menghadapai banyak persoalan. Oleh karena itu, peranan guru besar sangat dibutuhkan untuk mengurai permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa. “Guru besar itumerupakan pemikir negara, bukan hanya jabatan fungsional. Itulah sebabnya segala problem bangsa dan negara harus segera diselesaikan,” tegasnya.

Dikatakannya, guru besar merupakan mandat yang diberikan pemerintah terhadap dosen di perguruan Tinggi berdasarkan pengakuan kepakaran dan kecendikian dalam suatu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, seni, humaniora.

“Dengan kepakaran dan kecendekian guru besar dapat meningkatkan marwah suatu perguruan tinggi. Untuk di UGM baru memiliki 326 guru besar,” terangnya.

Diharapkannya, peningkatan guru besar di Indonesia dapat membangun kemandirian bangsa dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya.

“Mari kita bangun bangsa dan negara tercinta ini. Salah satu caranya dengan memberikan sumbangan pemikiran dalam menyelesaikan urusan impor yang semakin tinggi, sehingga kemandirian swasembada pangan akan terwujud melalui peran pemikiran dan kontribusi guru besar,” jelasnya.

Sementara, Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si berharap silaturahmi, komunikasi dan kerjasama dengan FDGBI dapat terjalin terus untuk mempercepat guru besar di lingkungan UIN SGD Bandung. “Jika di tahun 2018, UIN SGD Bandung dapat mengukuhkan 6 guru besar, maka setelah adanya kunjungan Ketua Forum Dewan Guru Besar Indonesia dapat memberikan andil yang besar untuk mempercepat guru besar,” katanya.

Sumber, Galamedia 20 Februari 2019