UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Guru Bangsa yang Harus Diteladani

[uinsgd.ac.id] Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]

[uinsgd.ac.id] Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]

[uinsgd.ac.id] Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]

[uinsgd.ac.id] Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]

[uinsgd.ac.id] Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]Upaya meneladani K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai guru bangsa dalam segala bidang, maka Forum Wacana Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Bandung, Forum Komunikasi Gusdurian (FKGD) Bandunng, dan The Wahid Institute menggelar Dialog Publik dan Tadarus Kolom-kolom Gus Dur (TKGD) bertajuk “Gus Dur dalam Karya dan Pena; Mengasah Tradisi Menulis, Merengkuh Pengetahun dan Memperdalam Analisa” dengan menghadirkan pembicara; Alisa Wahid (Putri Gus Dur), Ali Masrur (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung), Alamsyah M. Dja’far (Peneliti The Wahid Institute) dan Fam Kiun Fat (Makin Bandung) yang dibuka secara resmi oleh M. Anton Athoillah (Asisiten I Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung) di  Aula Rektorat UIN Bandung, Senin (18/7) pukul 13.00 wibMenurut Anton, salah satu keteladahan yang harus kita tiru dari sosok Gus Dur ini “Lebih mengutamakan kebebasan, membuka keran perbedaan daripada mengutamakan pribadinya. Ini terkait dengan gagasan islam yang subtansif daripada formalistik” paparnyaUntuk itu, supaya kit bisa membaca pikiran Gus Dur dan menjadikanya sebagai keteladanan, kata Ali kuncinya “Harus terbuka dan menghargai orang lain” tegasnyaBentuk keterbukaan dan saling menghargai orang lain dicontohkan oleh Gus Dur dalam pengakuan agama konghucu sebagai agama resmi di Indonesia “Jasa berharga Gus Dur pada kami adalah mencabut Inpres 14 tahun 1967 yang berisi larangan aktivitas keagamaan dan adat China dilakukan di tempat umum dengan Keppres 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resi di Indonesia dengan mengelar perayaan Imlek secara nasional” ungkap FamIhwal keteladanan dibenarkan oleh Alisa, walau kita telah kelihalang guru bangsa yang harus diteladani. Akan tetapi dengan adanya tadarusan kolom-kolom Gus Dur ini bisa memberikan pemahaman yang menghargai orang lain, toleran, terbuka dan melanjutkan usaha-usaha untuk menciptakan Indonesia damai karena Gus Dur bukan milik satu kelompok, tetapi milik Indonesia.Oleh kerena itu, dengan adanya kegitan dialog publik dan tadarusan kolom Gus Dur diharapkan kita bisa meneladaninya “Guru Bangsa yang harus diteladani” kata Domiri Al-Gazali, ketua FKGD [Ibn Ghifarie]